FIKES UMM Hadirkan Harapan Baru untuk Cegah Stunting di NTT

Pengabdian FIKES UMM di NTT

Nusa Tenggara Timur – Permasalahan stunting masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencatat prevalensi cukup tinggi. Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Fakultas Ilmu Kesehatan menghadirkan terobosan nyata lewat program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat. Selama dua hari, 1–2 Oktober 2025, Desa Nusa, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, menjadi pusat kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dikemas dalam Gerakan Ibu Tangguh dan Parenting Komprehensif. Program ini melibatkan ibu, ayah, hingga kader kesehatan desa sebagai kelompok sasaran, dengan tujuan memperkuat kapasitas keluarga dalam pengasuhan anak sekaligus menekan angka stunting di NTT. Empat Program, Satu Visi Program ini digerakkan melalui empat kegiatan inti yang dipimpin dosen dan profesor UMM. Pertama, riset Psychometric Properties of Parenting Self-Efficacy for Reducing Stunting yang dipimpin Ns. Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep., Mat., Ph.D., menekankan pentingnya mengukur keyakinan diri orang tua dalam mengasuh sebagai modal pencegahan stunting. Kedua, Program Gerakan Ibu Tangguh: Meningkatkan Keyakinan Diri dan Manfaat Pengasuhan dalam Pencegahan Stunting yang digagas Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, MKep., Sp.Kom, menempatkan ibu sebagai motor pengasuhan sekaligus agen perubahan dalam keluarga. Ketiga, Implementasi Program Parenting Komprehensif dalam Meningkatkan Kapasitas Pengasuhan dan Gizi Anak Balita oleh Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., yang menyasar penguatan praktik gizi dan kesehatan anak di tingkat rumah tangga. Keempat, Pengaruh Gerakan Ibu Tangguh terhadap Self-Efficacy dan Perceived Benefit Pengasuhan Anak dalam Pencegahan Stunting oleh Muhammad Muslih, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., yang menekankan bukti ilmiah tentang efektivitas gerakan ini dalam membangun kepercayaan diri orang tua. Dengan kombinasi riset dan aksi nyata, UMM menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat menghasilkan teori, tetapi juga menghadirkan solusi langsung bagi masyarakat. Kolaborasi dan Edukasi Kegiatan ini juga menggandeng BKKBN Provinsi NTT yang menghadirkan film pendek berjudul Peran Ayah dalam Pengasuhan Komprehensif. Lewat media sederhana ini, pesan penting ditegaskan: keberhasilan pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan kerja sama seluruh keluarga. Dukungan dari Kampus dan Pemerintah Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif ini adalah strategi kunci. “Gerakan Ibu Tangguh dan Parenting Komprehensif memperkuat peran ibu, ayah, dan kader kesehatan secara bersamaan sehingga dampaknya lebih menyeluruh. Harapannya, generasi mendatang tumbuh lebih sehat dan cerdas,” ujarnya. Senada dengan itu, Wakil Menteri Diktisaintek, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan pentingnya integrasi. “Mengatasi stunting di NTT butuh sinergi kampus dan pemerintah. Program penelitian dan pengabdian harus menyatu dengan program pemerintah pusat maupun daerah,” katanya. Komitmen SDGs dan Harapan dari Desa Nusa Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., menambahkan bahwa program ini adalah wujud nyata kontribusi kampus terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). “Sebagai salah satu center of SDGs, kami ingin memastikan riset dan pengabdian tidak berhenti di jurnal, tapi hadir di tengah masyarakat,” tegasnya. Antusiasme warga Desa Nusa pun menjadi bukti nyata. Kader kesehatan mendapat pelatihan praktis, para ayah aktif berdiskusi, sementara para ibu semakin percaya diri dalam mengasuh anak. Desa Nusa menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana jika dilakukan bersama. Kegiatan ini hanyalah awal dari gerakan panjang UMM untuk menghadirkan dampak nyata. Dengan mengusung semangat Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat, kampus bertekad memperluas jangkauan program, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, dan terus mengawal lahirnya generasi sehat bebas stunting di NTT.

Purna Tugas Satpam FIKES UMM, H. M. Isman: Silaturahmi Tak Boleh Putus

Suasana haru menyelimuti Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) pada hari ini saat melepas purna tugas salah satu sosok yang sudah lama menjadi bagian keluarga besar kampus, H. M. Isman. Beliau merupakan satpam yang selama ini setia menjaga keamanan, ketertiban, sekaligus kehangatan di lingkungan Kampus 2 UMM. Acara pelepasan berlangsung dengan penuh rasa kekeluargaan. Dalam sambutannya, Dekan FIKES UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp. Kom menegaskan bahwa tradisi melepas purna tugas merupakan salah satu bentuk penghargaan yang harus terus dijaga di lingkungan fakultas. “Silaturahim dan rasa kekeluargaan inilah yang menjadi ciri khas FIKES. Pelepasan purna tugas bukan hanya seremonial, melainkan wujud nyata apresiasi atas pengabdian, dukungan, dan dedikasi yang telah diberikan untuk fakultas dan keluarga besar Kampus 2,” ujarnya. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan baik di manapun berada, mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Rahman ayat 60: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan yang dilakukan akan selalu berbuah kebaikan, begitu pula pengabdian tulus yang telah diberikan Pak H. M. Isman selama ini. Sementara itu, dalam kesempatan yang penuh rasa syukur tersebut, H. M. Isman turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pimpinan dan civitas akademika FIKES UMM. Ia merasa bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang fakultas dan berharap tali silaturahim tetap terjalin meski masa tugasnya telah usai. “Semoga kita semua tetap saling memberikan perhatian dan menjaga interaksi, baik sebagai lembaga maupun secara pribadi. Bagi saya, keluarga besar FIKES akan selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” ungkapnya. Acara pelepasan ini menjadi momen yang sarat makna. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan bagi pengabdian Pak H. M. Isman, tetapi juga sebagai pengingat bagi seluruh civitas akademika tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Dedikasi dan ketulusan beliau akan menjadi teladan, bahwa peran sekecil apapun jika dilakukan dengan hati yang ikhlas akan meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.

Dosen Farmasi FIKES UMM Raih Penghargaan dalam Kompetisi Internasional 3 Minute Thesis di Australia

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui salah satu dosen terbaiknya. Adalah apt. Firasti Agung N. S., M.Biotech, dosen Program Studi Farmasi FIKES UMM, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Queensland (UQ), Australia, berhasil meraih penghargaan People’s Choice Award pada ajang bergengsi 3 Minute Thesis (3MT). Kompetisi 3MT sendiri merupakan ajang internasional yang lahir di University of Queensland dan kini telah mendunia, diikuti oleh ribuan mahasiswa doktoral dari berbagai universitas di berbagai belahan dunia. Seperti namanya, kompetisi ini menantang setiap peserta untuk bisa menjelaskan riset yang sangat kompleks hanya dalam waktu tiga menit. Batasan waktu ini dipilih karena daya fokus audiens diyakini hanya bertahan singkat, sehingga para peneliti dituntut untuk mampu menyampaikan inti riset mereka dengan singkat, padat, menarik, dan dapat dipahami oleh audiens dari beragam latar belakang. Sebelum melangkah ke final 3MT tingkat UQ, Firasti terlebih dahulu melalui tahapan yang cukup panjang. Ia harus bersaing di tingkat AIBN (Australian Institute for Bioengineering and Nanotechnology), kemudian memenangkan babak All Institute Wildcard, hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu dari enam finalis yang mewakili berbagai fakultas dan institusi di University of Queensland. Pada babak final inilah, Firasti berhasil memukau audiens dan meraih People’s Choice Award, dengan hadiah sebesar 1000 AUD yang diberikan langsung oleh UQ Alumni and Friends. Dalam presentasi singkatnya yang berjudul “Cooking Cancer Cells with Sound”, Firasti memaparkan riset inovatifnya mengenai cara menghancurkan sel kanker dengan memanfaatkan gelombang suara. Bersama supervisornya, Dr. Run Zhang, ia meneliti penggunaan ultrasound-triggered sound waves atau gelombang suara ultrasonik yang mampu memicu reaksi kimia di dalam sel kanker hingga sel tersebut “meledak” layaknya butiran popcorn yang sedang dipanaskan. Firasti menjelaskan bahwa motivasi di balik risetnya berangkat dari pengalaman pribadi melihat orang-orang terdekat yang harus berjuang melawan kanker. “Pengobatan kanker yang ada saat ini seperti kemoterapi dan operasi seringkali menimbulkan efek samping yang sangat menyiksa, seperti mual, kelelahan, rambut rontok, hingga rasa sakit pascaoperasi. Saya berharap teknologi ini nantinya bisa menjadi alternatif yang lebih ramah bagi pasien, sehingga mereka bisa berkata: ‘Saya tidak lagi menderita karena kemoterapi. Saya tidak merasakan sakit akibat operasi. Saya memasak tumor saya dengan suara,’” tutur Firasti. Teknologi yang ia kembangkan menggunakan nanopartikel cerdas bernama Layered Double Hydroxides (LDH). Partikel ini tidak hanya berfungsi untuk menyoroti tumor pada hasil pemindaian, tetapi juga bisa diaktifkan menggunakan gelombang suara. Ketika terpicu, partikel ini menghasilkan ledakan kimia presisi yang menghancurkan sel kanker dari dalam, tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Prestasi Firasti ini tidak hanya membanggakan bagi dirinya pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi besar bagi civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Karyanya menunjukkan bahwa dosen muda Indonesia mampu bersaing di kancah internasional, sekaligus membawa harapan baru bagi dunia medis dalam upaya menemukan terapi kanker yang lebih efektif, aman, dan minim efek samping.

Indonesia Hadapi Lomba Melawan Waktu dalam Mengendalikan Penyakit Tidak Menular

Sarawak, Malaysia – Tantangan penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases/NCDs) kembali menjadi sorotan dalam 1st International Conference, Exhibition & Innovation on Public Health & International Community Services yang digelar pada 20 Agustus 2025 di Sarawak, Malaysia. Dalam forum internasional ini, Prof. Yoyok Bekti Prasetyo dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang memaparkan materi bertajuk “Understanding Enablers and Barriers in Indonesia’s Noncommunicable Disease Program”. Dalam paparannya, Prof. Yoyok menekankan bahwa penyakit tidak menular saat ini menjadi pembunuh sunyi di seluruh dunia. Dari total 57 juta kematian global setiap tahun, sebanyak 71 persen atau sekitar 40,5 juta jiwa disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan gangguan pernapasan kronis menjadi penyebab utama. Kawasan Asia Tenggara tercatat sebagai wilayah dengan beban NCD paling tinggi, terutama pada kelompok laki-laki. Malaysia menghadapi prevalensi obesitas dan diabetes yang cukup tinggi, sementara Indonesia berada pada posisi dengan tingkat hipertensi tertinggi di kawasan. Kondisi ini menurutnya menunjukkan bahwa Indonesia tengah berada dalam lomba melawan waktu untuk menekan angka kematian akibat NCDs. Situasi di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2016 saja, tercatat 73 persen kematian atau sekitar 1,8 juta jiwa disebabkan oleh NCDs. Penyakit kardiovaskular menduduki posisi teratas dengan kontribusi sebesar 35 persen, disusul kanker 12 persen, penyakit pernapasan kronis 6 persen, dan diabetes 6 persen. Sayangnya, peran perawat komunitas yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pencegahan masih belum optimal. Keterbatasan dalam pelatihan, kompetensi diagnostik, pemanfaatan data berbasis komunitas, serta minimnya dukungan kebijakan lokal menjadi hambatan serius yang harus segera diatasi. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya mengembangkan berbagai program nasional seperti Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), Pelayanan Terpadu PTM di Puskesmas (Pandu), serta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Hingga tahun 2022, tercatat sebanyak 79.099 Posbindu tersebar di seluruh Indonesia dengan cakupan mencapai 68,2 persen desa. Meski demikian, distribusi masih belum merata. Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan cakupan tertinggi yakni 97,3 persen desa sudah memiliki Posbindu, sementara Papua berada pada titik terendah dengan hanya 5,7 persen. Menurut Prof. Yoyok, ada sejumlah faktor yang memengaruhi efektivitas program NCD di Indonesia. Di satu sisi, pemberdayaan kader kesehatan, dukungan lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi penggerak penting yang mendukung jalannya program. Namun di sisi lain, keterbatasan sumber daya, rendahnya konsistensi partisipasi masyarakat akibat kesibukan sehari-hari, serta hambatan teknis seperti entri data masih menjadi batu sandungan yang nyata. Untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian NCD, Prof. Yoyok menekankan perlunya landasan teoritis yang jelas dalam praktik keperawatan komunitas. Ia menyoroti tiga model utama yang bisa menjadi acuan, yaitu PRECEDE–PROCEED Model yang berfungsi sebagai kerangka menyeluruh dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program kesehatan, Pender’s Health Promotion Model yang membantu memahami motivasi, keyakinan, serta pengalaman individu dalam mengadopsi perilaku sehat, dan Social Ecological Model yang menekankan pentingnya melihat faktor multi-level mulai dari individu, keluarga, organisasi, komunitas hingga kebijakan. Ketiga model ini menurutnya bukan hanya teori, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam merancang intervensi sesuai konteks lokal. Dalam konteks diagnosis keperawatan, Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) mencatat sejumlah masalah yang kerap muncul terkait penyakit tidak menular, seperti manajemen kesehatan yang tidak efektif, obesitas, ketidakstabilan kadar glukosa darah, perilaku kesehatan berisiko, hingga defisit pengetahuan. Berbagai diagnosis tersebut menuntut intervensi keperawatan yang beragam, mulai dari dukungan dalam pengambilan keputusan, pemberian pendidikan kesehatan, hingga pelibatan keluarga. Tujuannya bukan hanya agar pasien mengetahui risiko penyakit, tetapi juga mampu dan mau mengubah perilaku hidupnya. Menutup presentasinya, Prof. Yoyok menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kata kunci keberhasilan program NCD di Indonesia. Kader kesehatan, tenaga medis, pemerintah desa, dan masyarakat harus bergerak bersama. Dukungan tenaga kesehatan yang kompeten, pengelolaan data yang baik, serta kebijakan yang berpihak akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan. Ia menambahkan, perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi justru dari tindakan kecil yang konsisten di tengah masyarakat. Ketika perawat datang memeriksa tekanan darah, memberikan edukasi, atau memantau risiko penyakit tidak menular, sebenarnya mereka sedang ikut menyelamatkan masa depan bangsa.

FIKES UMM Gelar BIMTEK Pengayaan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat: Dorong Inovasi dan Dampak Nyata di Masyarakat

Malang – Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong budaya akademik yang unggul melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pengayaan Proposal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas proposal dosen dalam menghadapi kompetisi hibah penelitian dan pengabdian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan yang diselenggarakan di Aula FIKES UMM GKB V ini menghadirkan dua narasumber pakar di bidangnya. Sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, yang membawakan materi tentang strategi pengembangan proposal penelitian yang inovatif, relevan, dan kompetitif. Beliau merupakan guru besar di bidang keperawatan dengan segudang pengalaman dalam merancang dan memenangkan hibah penelitian skala besar. Dalam paparannya, Prof. Yoyok menekankan pentingnya penyusunan latar belakang yang kuat dan berbasis bukti, perumusan masalah yang tajam, serta kesesuaian antara metodologi dengan tujuan penelitian. Ia juga membagikan berbagai insight dan pengalaman berharga tentang dinamika penilaian proposal oleh reviewer. “Proposal penelitian bukan hanya soal ide yang hebat, tetapi juga bagaimana ide tersebut dituliskan secara sistematis, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jangan lupa, riset yang baik adalah riset yang memberi solusi nyata bagi permasalahan masyarakat,” tegas Prof. Yoyok dalam sesi diskusi. Sementara itu, sesi kedua tak kalah menarik dengan kehadiran Dr. Engrid Juni Astuti, apt., S.Farm., M.Farm., dosen dan peneliti yang telah banyak terlibat dalam program pengabdian masyarakat berbasis kesehatan di berbagai daerah. Beliau membawakan topik tentang penyusunan proposal pengabdian masyarakat yang berdampak luas dan berkelanjutan. Dr. Engrid menyoroti pentingnya pendekatan partisipatif dan kebutuhan untuk melakukan pemetaan masalah secara komprehensif di masyarakat sasaran. Menurutnya, keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari output, tetapi juga dari keberlanjutan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat penerima manfaat. “Kunci dari pengabdian masyarakat yang baik adalah keterlibatan aktif mitra sejak proses perencanaan. Jangan sekadar datang, melaksanakan, lalu pergi. Kita harus meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan berkesinambungan,” ungkapnya. Kegiatan BIMTEK ini diikuti dengan antusias oleh puluhan dosen dari berbagai program studi di lingkungan FIKES UMM. Suasana diskusi berlangsung interaktif, di mana para peserta saling bertukar pengalaman, ide, dan mendapatkan masukan konstruktif dari narasumber. Banyak di antara mereka yang langsung membawa draft proposal masing-masing untuk didiskusikan secara lebih mendalam. Dekan FIKES UMM, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis fakultas untuk mendorong peningkatan kinerja tridharma perguruan tinggi. “Kami ingin setiap dosen di FIKES tidak hanya unggul dalam pengajaran, tetapi juga produktif dalam penelitian dan pengabdian. Ini adalah wujud kontribusi nyata UMM dalam membangun masyarakat,” ujarnya. Dengan terlaksananya BIMTEK ini, diharapkan proposal-proposal yang dihasilkan akan lebih siap untuk bersaing dalam skema pendanaan, sekaligus memberi manfaat yang luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. FIKES UMM optimis, kegiatan ini akan menjadi titik tolak lahirnya berbagai karya dan inovasi berdampak dari civitas akademika FIKES.

Kemahasiswaan FIKES UMM dan Pemkab Bojonegoro Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Lansia

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (BEM FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Kedua pihak ini menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi lansia. Acara diselenggarakan bersama komunitas paguyuban lansia yang mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Pemeriksaan kesehatan meliputi pengecekan tekanan darah, glukosa darah, asam urat, kolesterol. Serta terapi fisioterapi yang dilakukan langsung oleh mahasiswa dari program studi Keperawatan, Farmasi, dan Fisioterapi. Kolaborasi ini tidak hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi wadah pengaplikasian ilmu bagi mahasiswa. Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Bupati Bojonegoro, Hj Nurul Azizah. Serta Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono – istri Bupati Bojonegoro. Keduanya memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang dilakukan oleh FIKES UMM. Mereka juga secara langsung menyaksikan pelayanan kesehatan  dan berinteraksi dengan para lansia yang antusias mengikuti kegiatan. Ketua BEM FIKES UMM, Azzam Blitariensis Kamardin, mahasiswa S1 Farmasi angkatan 2022. Ia menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari agenda strategis dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat. Baca Juga :  Teror Mafia Tabung Gas di Malang! Gembok Dibobol, Rombong Pedagang Disikat di Subuh Buta “Kami ingin teman-teman mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah. Ini merupakan bentuk kepedulian nyata kami terhadap kesehatan lansia, yang selama ini sering terabaikan,” ujarnya. Azzam juga menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu penutup kegiatan utama dari kepengurusan BEM FIKES UMM periode ini. “Kami ingin menutup masa kepengurusan dengan sesuatu yang bermakna dan berdampak,” ungkap Azzam. Ia menuturkan, kerja sama dengan Pemkab Bojonegoro ini menjadi penegasan. Bahwa mahasiswa FIKES UMM tidak hanya berkutat pada akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat. Lebih lanjut, kegiatan ini juga selaras dengan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) tahun 2025 yang mengusung tema “Lansia Bahagia, Indonesia Sejahtera”. Tema ini digagas oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk HLUN ke-29. Dengan menitikberatkan pada pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan lansia. Sebagai pilar penting dalam pembangunan bangsa. Wakil Dekan III FIKES UMM, Rakhmad Rosadi SST Ft MScPT PhD yang turut hadir mendampingi mahasiswa, menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja sama yang terjalin. Menurutnya kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik antara institusi pendidikan dengan pemerintah daerah. “Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial yang tinggi. Serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” jelasnya. Rakhmad juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan ke daerah-daerah lain. Sebagai bagian dari komitmen FIKES UMM dalam melahirkan tenaga kesehatan profesional yang peduli pada isu-isu kemasyarakatan, khususnya kesehatan lansia. “Lansia adalah generasi yang telah berkontribusi besar bagi negeri ini. Sudah saatnya kita hadir untuk memastikan mereka hidup dengan sehat, bahagia, dan bermartabat,” imbuhnya. Kegiatan ini tidak hanya menyentuh sisi medis, tetapi juga menghadirkan nuansa kekeluargaan dan kebahagiaan yang membuat para lansia merasa dihargai dan diperhatikan. Suasana penuh kehangatan terlihat dari senyum para lansia yang merasa terbantu dan senang bisa mendapatkan layanan kesehatan secara gratis dan berkualitas. Dengan semangat kolaboratif dan dedikasi tinggi dari seluruh elemen yang terlibat. Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah daerah dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat

Pemkab Bojonegoro dan FIKES UMM Gelar Penyuluhan Kesehatan Lansia: Menuju Lansia Sejahtera, Indonesia Bahagia

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) menggelar kegiatan penyuluhan bertajuk “Lansia Sejahtera, Indonesia Bahagia”. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 14 Juni 2025 ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam mendampingi lansia menuju kehidupan yang sehat, mandiri, dan bermartabat. Hadir sebagai narasumber, Yoyok Bekti Prasetyo dari Departemen Keperawatan Komunitas FIKES UMM menyampaikan data dan realita terkait peningkatan jumlah lansia di Indonesia, khususnya di wilayah Bojonegoro, Lamongan, dan Malang. “Pertumbuhan populasi lansia berarti kebutuhan layanan kesehatan akan meningkat. Kader kesehatan harus siap menjadi garda terdepan dalam pemantauan, edukasi, dan dukungan sosial bagi lansia,” jelasnya. Menuju Populasi Menua: Peran Strategis Kader dan Inovasi Program Salah satu fokus penyuluhan adalah pentingnya kesejahteraan holistik bagi lansia, yang meliputi kesehatan fisik, keterlibatan sosial, serta kebahagiaan emosional dan spiritual. Dalam kesempatan ini juga disosialisasikan program unggulan Lansia Sembada (Sehat, Mandiri, Bahagia, Berdaya) yang telah dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Program ini mencakup skrining rutin, pemberian suplemen, serta pelatihan keterampilan bagi kader Posyandu Lansia. Suara Peserta: Semangat untuk Menggerakkan Lansia Salah satu peserta kegiatan, Sutrisno – seorang purnawirawan polisi dan juga ketua Tamrin Sport Club Lansia – membagikan pengalamannya. Ia secara rutin mengajak para lansia untuk berolahraga bersama. “Kami mengadakan senam lansia secara rutin. Semua sendi tubuh digerakkan agar tetap bugar. Harapan saya, kelompok-kelompok lansia lainnya bisa dikunjungi juga, diberikan pemahaman yang benar tentang pentingnya menjaga kesehatan. Lansia bukan untuk dikasihani, tapi didukung agar tetap aktif dan bahagia,” ungkapnya penuh semangat. Sutrisno menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat – termasuk pensiunan, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan – dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan sehat bagi para lansia. Menjadikan Lansia sebagai Subjek, Bukan Objek Penyuluhan ini juga menyoroti keberhasilan Sekolah Lansia Berdaya yang diinisiasi oleh PDA Bojonegoro. Melalui 10 kali pertemuan, para lansia tidak hanya diajari tentang kesehatan, tetapi juga diajak untuk merasa dihargai, didengar, dan tetap relevan di tengah masyarakat. Penyuluhan ditutup dengan pesan inspiratif:  “Lansia adalah kita di masa depan. Merawat mereka hari ini, adalah investasi bagi kemanusiaan esok hari.” Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari peserta dan diharapkan mampu menjadi pemantik gerakan serupa di seluruh Indonesia.

Pemerintah Bojonegoro dan FIKES UMM Gelar Penyuluhan Kesehatan Lansia: Menuju Lansia Bahagia, Indonesia Sejahtera

Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM). Kedua pihak menggelar penyuluhan bertajuk “Lansia Bahagia, Indonesia Sejahterah”. Acara yang berlangsung pada Sabtu (14/06) ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan. Terutama alam mendampingi lansia menuju kehidupan yang sehat, mandiri, dan bermartabat. Sebagai narasumber, Yoyok Bekti Prasetyo dari Departemen Keperawatan Komunitas FIKES UMM. Ia menyampaikan data dan realita terkait peningkatan jumlah lansia di Indonesia. Khususnya di wilayah Bojonegoro, Lamongan, dan Malang. “Pertumbuhan populasi lansia berarti kebutuhan layanan kesehatan akan meningkat. Kader kesehatan harus siap menjadi garda terdepan dalam pemantauan, edukasi, dan dukungan sosial bagi lansia,” jelasnya. Menuju Populasi Menua: Peran Strategis Kader dan Inovasi Program Salah satu fokus penyuluhan adalah pentingnya kesejahteraan holistik bagi lansia, yang meliputi kesehatan fisik, keterlibatan sosial. Serta kebahagiaan emosional dan spiritual. Dalam kesempatan ini juga disosialisasikan program unggulan Lansia Sembada (Sehat, Mandiri, Bahagia, Berdaya) yang telah dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Program ini mencakup skrining rutin, pemberian suplemen, serta pelatihan keterampilan bagi kader Posyandu Lansia. Salah satu peserta kegiatan, Sutrisno – purnawirawan polisi dan juga Ketua Tamrin Sport Club Lansia – membagikan pengalamannya. Ia secara rutin mengajak para lansia untuk berolahraga bersama. Pihaknya mengadakan senam lansia secara rutin. Semua sendi tubuh digerakkan agar tetap bugar. Ia berharap kelompok-kelompok lansia lainnya bisa dikunjungi juga, diberikan pemahaman yang benar tentang pentingnya menjaga kesehatan. “Lansia bukan untuk dikasihani, tapi didukung agar tetap aktif dan bahagia,” ungkapnya penuh semangat. Sutrisno menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat – termasuk pensiunan, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan. Hingga dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan sehat bagi para lansia. Menjadikan Lansia sebagai Subjek, Bukan Objek Penyuluhan ini juga menyoroti keberhasilan Sekolah Lansia Berdaya yang diinisiasi oleh PDA Bojonegoro. Melalui 10 kali pertemuan, para lansia tidak hanya diajari tentang kesehatan. Tetapi juga diajak untuk merasa dihargai, didengar, dan tetap relevan di tengah masyarakat. Penyuluhan ditutup dengan pesan inspiratif: “Lansia adalah kita di masa depan. Merawat mereka hari ini, adalah investasi bagi kemanusiaan esok hari.” Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari peserta dan diharapkan mampu menjadi pemantik gerakan serupa di seluruh Indonesia.

FIKES UMM dan Pemerintah Bojonegoro Rancang Sinergi untuk Lansia Sehat dan Bahagia

Bojonegoro — Dalam upaya membangun masyarakat yang sehat, sejahtera, dan bahagia, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui program inovatif bertajuk “Professor Mengabdi”. Dengan tema besar “Lansia Sehat, Indonesia Kuat”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia (lansia).(14/6/2025) Acara ini diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FIKES UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari kiprah nyata Universitas Muhammadiyah Malang dalam membangun bangsa melalui pengabdian nyata kepada masyarakat. “UMM hadir tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan di masyarakat. Salah satunya adalah melalui pengabdian kepada masyarakat, termasuk penguatan layanan kesehatan untuk lansia. Kami juga mengajak mahasiswa untuk turut serta terlibat, tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga belajar langsung dari lapangan,” tutur Prof. Yoyok semangat. Sambutan hangat juga disampaikan oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Hj. Nurul Azizah, serta Kepala PKK Kabupaten Bojonegoro, Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE, MM, yang juga merupakan istri dari Bupati Bojonegoro. Ia menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin. Cantika menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam pencegahan stunting dan pengentasan kemiskinan. “Ada banyak hal yang bisa kita kolaborasikan melalui PKK dan Posyandu, baik untuk balita maupun lansia. Enam aspek bidang dapat disinergikan, termasuk edukasi, kesehatan, ekonomi keluarga, hingga penguatan peran kader. Angka stunting kita saat ini masih 14%, dan kami berharap di tahun 2026 bisa turun di bawah 10%. Salah satu kunci keberhasilannya adalah kolaborasi seperti ini,” ungkap Cantika penuh optimisme. Program “Professor Mengabdi” yang diusung FIKES UMM kali ini membawa pesan kuat tentang pentingnya peran lansia dalam pembangunan bangsa. Dengan mengusung slogan “Lansia Bahagia, Indonesia Bahagia”, program ini tidak hanya fokus pada peningkatan derajat kesehatan lansia, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk tetap aktif, mandiri, dan produktif dalam kehidupan sosial. Berbagai layanan kesehatan lengkap diselenggarakan secara langsung, mulai dari edukasi gizi, pemeriksaan rutin, penyuluhan pencegahan penyakit degeneratif, hingga pelatihan keterampilan dasar bagi masyarakat lansia. Selanjutnya, mahasiswa FIKES UMM diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan dan pendampingan, sebagai bagian dari pengembangan kompetensi dan pengalaman lapangan mereka. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wahana pengabdian bagi dosen dan mahasiswa, tetapi juga menjadi model kemitraan efektif antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung program pembangunan nasional berbasis kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi yang erat ini, FIKES UMM dan Pemerintah Bojonegoro terus melangkah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, terutama para lansia yang selama ini sering terlupakan. Sebagaimana tema besar kegiatan ini menegaskan, “Lansia Sehat, Indonesia Kuat”, semangat pengabdian dan kolaborasi seperti ini diharapkan mampu membawa dampak positif besar bagi masa depan bangsa Indonesia yang lebih sehat, bahagia, dan berdaya.

FIKES UMM Jalin Kerja Sama Strategis dengan Pemkab Bojonegoro demi Wujudkan ‘Lansia Sehat, Indonesia Kuat’

Dalam upaya membangun masyarakat sehat dan sejahtera, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui program bertajuk “Professor Mengabdi” dengan tema “Lansia Sehat, Indonesia Kuat”. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat sinergi antara dunia, yakni akademik dan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia (lansia). Pada kegiatan tersebut diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FIKES UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Ia menyampaikan, kerja sama ini merupakan bagian dari kiprah nyata Universitas Muhammadiyah Malang dalam membangun masyarakat melalui pengabdian. “UMM hadir tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan di masyarakat. Salah satunya adalah melalui pengabdian kepada masyarakat, termasuk penguatan layanan kesehatan untuk lansia. Kami juga mengajak mahasiswa untuk turut serta terlibat, tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga belajar secara langsung dari lapangan,” tutur Prof. Yoyok. Kegiatan ini disambut baik oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Hj. Nurul Azizah, serta Kepala PKK Kab Bojonegoro, Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE, MM yang juga selaku Istri dari Bapak Bupati Bojonegoro yang menyampaikan apresiasi atas sinergi yang dibangun. Dalam sambutannya, Cantika menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam pencegahan stunting dan pengentasan kemiskinan. “Ada banyak hal yang bisa kita kolaborasikan melalui PKK dan Posyandu, baik untuk balita maupun lansia. Enam aspek bidang dapat disinergikan, termasuk edukasi, kesehatan, ekonomi keluarga, hingga penguatan peran kader. Angka stunting kita saat ini masih 14 persen, dan kami berharap di tahun 2026 bisa turun di bawah 10 persen. Salah satu kuncinya adalah kolaborasi seperti ini,” jelas Cantika. Program “Professor Mengabdi” FIKES UMM kali ini mengusung tema khusus yang menyoroti pentingnya peran lansia dalam pembangunan bangsa. Dengan slogan “Lansia Bahagia, Indonesia Sejahtera”, Program ini tidak hanya menargetkan peningkatan derajat kesehatan lansia, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk tetap aktif, mandiri, dan produktif dalam kehidupan sosial. “Melalui kegiatan ini, berbagai layanan kesehatan, edukasi gizi, pemeriksaan rutin, penyuluhan tentang pencegahan penyakit degeneratif, hingga pelatihan keterampilan dasar diberikan secara langsung kepada masyarakat lansia,” paparnya. Selain itu, mahasiswa FIKES UMM juga diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan dan pendampingan sebagai bagian dari penguatan kompetensi dan pengalaman lapangan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wahana pengabdian bagi para dosen dan mahasiswa, tetapi juga menjadi model kemitraan yang efektif antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung program pembangunan nasional berbasis kesehatan masyarakat. “Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, FIKES UMM bersama Pemkab Bojonegoro terus melangkah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat. Khususnya para lansia yang seringkali terlupakan. Sebab, seperti yang ditegaskan dalam tema kegiatan ini yaitu Lansia Sehat, Indonesia kuat,” pungkasnya.