
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui salah satu dosen terbaiknya. Adalah apt. Firasti Agung N. S., M.Biotech, dosen Program Studi Farmasi FIKES UMM, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Queensland (UQ), Australia, berhasil meraih penghargaan People’s Choice Award pada ajang bergengsi 3 Minute Thesis (3MT).
Kompetisi 3MT sendiri merupakan ajang internasional yang lahir di University of Queensland dan kini telah mendunia, diikuti oleh ribuan mahasiswa doktoral dari berbagai universitas di berbagai belahan dunia. Seperti namanya, kompetisi ini menantang setiap peserta untuk bisa menjelaskan riset yang sangat kompleks hanya dalam waktu tiga menit. Batasan waktu ini dipilih karena daya fokus audiens diyakini hanya bertahan singkat, sehingga para peneliti dituntut untuk mampu menyampaikan inti riset mereka dengan singkat, padat, menarik, dan dapat dipahami oleh audiens dari beragam latar belakang.
Sebelum melangkah ke final 3MT tingkat UQ, Firasti terlebih dahulu melalui tahapan yang cukup panjang. Ia harus bersaing di tingkat AIBN (Australian Institute for Bioengineering and Nanotechnology), kemudian memenangkan babak All Institute Wildcard, hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu dari enam finalis yang mewakili berbagai fakultas dan institusi di University of Queensland. Pada babak final inilah, Firasti berhasil memukau audiens dan meraih People’s Choice Award, dengan hadiah sebesar 1000 AUD yang diberikan langsung oleh UQ Alumni and Friends.
Dalam presentasi singkatnya yang berjudul “Cooking Cancer Cells with Sound”, Firasti memaparkan riset inovatifnya mengenai cara menghancurkan sel kanker dengan memanfaatkan gelombang suara. Bersama supervisornya, Dr. Run Zhang, ia meneliti penggunaan ultrasound-triggered sound waves atau gelombang suara ultrasonik yang mampu memicu reaksi kimia di dalam sel kanker hingga sel tersebut “meledak” layaknya butiran popcorn yang sedang dipanaskan.
Firasti menjelaskan bahwa motivasi di balik risetnya berangkat dari pengalaman pribadi melihat orang-orang terdekat yang harus berjuang melawan kanker. “Pengobatan kanker yang ada saat ini seperti kemoterapi dan operasi seringkali menimbulkan efek samping yang sangat menyiksa, seperti mual, kelelahan, rambut rontok, hingga rasa sakit pascaoperasi. Saya berharap teknologi ini nantinya bisa menjadi alternatif yang lebih ramah bagi pasien, sehingga mereka bisa berkata: ‘Saya tidak lagi menderita karena kemoterapi. Saya tidak merasakan sakit akibat operasi. Saya memasak tumor saya dengan suara,’” tutur Firasti.
Teknologi yang ia kembangkan menggunakan nanopartikel cerdas bernama Layered Double Hydroxides (LDH). Partikel ini tidak hanya berfungsi untuk menyoroti tumor pada hasil pemindaian, tetapi juga bisa diaktifkan menggunakan gelombang suara. Ketika terpicu, partikel ini menghasilkan ledakan kimia presisi yang menghancurkan sel kanker dari dalam, tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Prestasi Firasti ini tidak hanya membanggakan bagi dirinya pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi besar bagi civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Karyanya menunjukkan bahwa dosen muda Indonesia mampu bersaing di kancah internasional, sekaligus membawa harapan baru bagi dunia medis dalam upaya menemukan terapi kanker yang lebih efektif, aman, dan minim efek samping.