FIKES UMM Perkuat Kolaborasi Antarprodi, Hadirkan Pendidikan Kesehatan yang Integratif dan Berorientasi Masa Depan

Malang – Tantangan kesehatan modern semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan yang tidak lagi bersifat sektoral. Berbagai persoalan kesehatan masyarakat saat ini memerlukan kolaborasi lintas profesi agar pelayanan yang diberikan menjadi lebih komprehensif dan efektif. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat kolaborasi antarprogram studi sebagai bagian dari strategi pengembangan pendidikan kesehatan yang integratif. Sebagai rumah bagi Program Studi Keperawatan, Farmasi, dan Fisioterapi, FIKES UMM memiliki keunggulan dalam mengembangkan pembelajaran multidisiplin yang memungkinkan mahasiswa memahami pentingnya kerja sama antarprofesi sejak masa pendidikan. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan modern tidak dapat dilakukan oleh satu profesi saja. “Pasien membutuhkan pelayanan yang komprehensif. Perawat, apoteker, fisioterapis, dokter, dan profesi kesehatan lainnya harus mampu bekerja sama dalam memberikan pelayanan terbaik. Karena itu, semangat kolaborasi perlu ditanamkan sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan kesehatan yang integratif akan menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja sekaligus mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan sistem pelayanan kesehatan. Membangun Pemahaman Antarprofesi Salah satu tantangan dalam dunia kesehatan adalah kurangnya pemahaman mengenai peran dan kontribusi masing-masing profesi. Melalui berbagai kegiatan akademik bersama, mahasiswa diberikan kesempatan untuk belajar memahami bagaimana setiap profesi kesehatan memiliki peran yang saling melengkapi. Mahasiswa Keperawatan belajar memahami aspek farmakoterapi dan rehabilitasi pasien, mahasiswa Farmasi memahami kebutuhan pelayanan klinis secara lebih luas, sementara mahasiswa Fisioterapi memperoleh wawasan mengenai kolaborasi dalam proses perawatan dan pemulihan pasien. Pendekatan tersebut membantu mahasiswa membangun pola pikir kolaboratif yang sangat dibutuhkan dalam praktik profesional. Menghasilkan Solusi yang Lebih Komprehensif Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa kolaborasi antarprodi juga memberikan manfaat besar dalam pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Permasalahan kesehatan saat ini sangat kompleks sehingga membutuhkan pendekatan multidisiplin. Melalui kolaborasi antarprodi, kita dapat menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” jelasnya. Berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian yang melibatkan dosen serta mahasiswa dari beberapa program studi telah menunjukkan bagaimana kolaborasi mampu menghasilkan inovasi yang lebih kuat dibandingkan pendekatan yang dilakukan secara terpisah. Menyiapkan Lulusan yang Adaptif Di tengah perubahan sistem kesehatan yang semakin cepat, kemampuan bekerja dalam tim menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki lulusan kesehatan. Karena itu, FIKES UMM terus mengembangkan berbagai program yang mendorong mahasiswa untuk belajar berkolaborasi, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah bersama. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan kolaborasi antarprodi merupakan bagian dari visi jangka panjang fakultas. “Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan perkembangan pelayanan kesehatan masa depan,” ungkapnya. Melalui semangat kolaborasi dan integrasi keilmuan, FIKES UMM terus memperkuat posisinya sebagai fakultas kesehatan yang berkomitmen menghasilkan lulusan profesional, inovatif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan kesehatan Indonesia.

Farmasi UMM Perkuat Budaya Publikasi dan Inovasi Obat Berbasis Bahan Alam untuk Mendukung Kemandirian Kesehatan Nasional

Malang – Perkembangan dunia kesehatan yang semakin dinamis menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan kesehatan masyarakat. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat budaya penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan inovasi berbasis bahan alam sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional. Sebagai salah satu program studi unggulan di bawah naungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Farmasi UMM memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan riset yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki nilai manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Farmasi UMM telah menghasilkan beragam inovasi, mulai dari eksplorasi bahan alam Indonesia, pengembangan formulasi sediaan farmasi, studi keamanan penggunaan obat, hingga pengembangan produk kesehatan yang berpotensi mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menegaskan bahwa pengembangan inovasi berbasis riset merupakan salah satu pilar penting dalam penguatan pendidikan tinggi kesehatan. “Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Potensi tersebut harus dimanfaatkan secara ilmiah melalui penelitian yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung kemandirian bangsa di bidang kesehatan,” ujarnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani potensi sumber daya alam dengan kebutuhan industri kesehatan dan masyarakat. Oleh karena itu, budaya penelitian harus terus diperkuat agar menghasilkan berbagai inovasi yang memiliki nilai tambah. Mengoptimalkan Potensi Bahan Alam Indonesia Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Berbagai tanaman herbal dan bahan alam yang tumbuh di berbagai daerah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan di lingkungan Farmasi UMM, potensi tersebut terus dieksplorasi secara ilmiah. Penelitian tidak hanya berfokus pada identifikasi kandungan aktif suatu tanaman, tetapi juga mencakup pengujian efektivitas, keamanan, formulasi produk, hingga peluang pengembangannya menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas. Berbagai hasil penelitian tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi penting dalam mendukung pengembangan industri farmasi nasional yang berbasis sumber daya lokal. Selain itu, penelitian berbasis bahan alam juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai salah satu kekuatan pembangunan sektor kesehatan di masa depan. Publikasi Ilmiah Sebagai Budaya Akademik Selain fokus pada inovasi produk, Farmasi UMM juga terus mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa. Berbagai artikel hasil penelitian berhasil dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional sebagai bentuk diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat akademik global. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa publikasi ilmiah merupakan indikator penting dalam mengukur produktivitas akademik sebuah institusi pendidikan tinggi. “Penelitian yang baik harus dapat dipublikasikan sehingga hasilnya dapat dipelajari, dikembangkan, dan dimanfaatkan oleh pihak lain. Karena itu kami terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” jelasnya. Menurut Sendi, budaya publikasi tidak hanya memberikan manfaat bagi institusi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui proses publikasi, mahasiswa belajar berpikir sistematis, melakukan analisis ilmiah, serta menyampaikan hasil penelitian secara profesional. Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai penelitian dosen juga menjadi salah satu strategi untuk menumbuhkan minat penelitian sejak dini. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Menyiapkan Apoteker dan Farmasis Masa Depan Perkembangan industri farmasi dan pelayanan kesehatan menuntut lulusan farmasi untuk memiliki kompetensi yang semakin kompleks. Selain menguasai ilmu kefarmasian, lulusan juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, regulasi, dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Karena itu, Farmasi UMM terus mengintegrasikan kegiatan penelitian dan inovasi ke dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan laboratorium, penelitian, seminar ilmiah, dan berbagai kompetisi akademik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan profesi di masa depan. “Dunia farmasi saat ini berkembang sangat cepat. Kami ingin lulusan Farmasi UMM tidak hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pencipta inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tambah Dr. Hidajah. Dukungan Infrastruktur dan SDM Berkualitas Keberhasilan pengembangan budaya riset tentu memerlukan dukungan fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu, FIKES UMM terus melakukan penguatan laboratorium, fasilitas penelitian, serta peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa investasi pada sarana dan SDM merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya penelitian. “Kami berkomitmen menyediakan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan penelitian dan inovasi. Penguatan laboratorium, peningkatan kompetensi dosen, serta penyediaan berbagai fasilitas akademik menjadi bagian dari upaya tersebut,” jelasnya. Menurut Henik, sinergi antara fasilitas yang memadai dan sumber daya manusia yang kompeten akan menciptakan ekosistem akademik yang produktif dan inovatif. Berkontribusi untuk Kesehatan Indonesia Melalui penguatan budaya riset, publikasi ilmiah, dan pengembangan inovasi berbasis bahan alam, Farmasi UMM terus menunjukkan kontribusinya dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional. Ke depan, berbagai program penelitian dan kolaborasi akan terus diperluas guna menghasilkan inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kesehatan global. Sebagai bagian dari FIKES UMM, Program Studi Farmasi tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi juga berupaya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan semangat riset dan inovasi yang terus tumbuh, Farmasi UMM optimistis dapat berkontribusi dalam menciptakan masa depan kesehatan Indonesia yang lebih mandiri, maju, dan berkelanjutan.

Mahasiswa FIKES UMM Raih Prestasi Nasional dan Internasional, Bukti Kualitas Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan

Malang – Prestasi mahasiswa menjadi salah satu indikator penting keberhasilan sebuah institusi pendidikan tinggi dalam menjalankan proses pembelajaran dan pembinaan kemahasiswaan. Dalam beberapa tahun terakhir, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan capaian yang membanggakan melalui berbagai kompetisi akademik maupun nonakademik di tingkat nasional dan internasional. Mahasiswa dari Program Studi Keperawatan, Farmasi, dan Fisioterapi berhasil menorehkan berbagai prestasi dalam bidang penelitian, karya tulis ilmiah, inovasi kesehatan, pengabdian masyarakat, olahraga, hingga kompetisi internasional yang melibatkan peserta dari berbagai negara. Capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FIKES UMM tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan berkompetisi di berbagai bidang. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menegaskan bahwa prestasi mahasiswa merupakan hasil dari sinergi antara kualitas pendidikan, dukungan dosen, lingkungan akademik yang kondusif, serta semangat mahasiswa untuk terus berkembang. “Setiap prestasi yang diraih mahasiswa merupakan kebanggaan bagi fakultas. Lebih dari itu, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FIKES UMM mampu bersaing dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa dalam berbagai kompetisi menjadi bukti bahwa proses pendidikan yang dijalankan di lingkungan FIKES UMM mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki daya saing tinggi. Prestasi Sebagai Budaya Akademik Bagi FIKES UMM, prestasi mahasiswa tidak dipandang sebagai pencapaian individual semata. Prestasi merupakan bagian dari budaya akademik yang terus dibangun dan diperkuat melalui berbagai program pembinaan yang terstruktur. Mahasiswa didorong untuk aktif mengikuti kompetisi, seminar ilmiah, konferensi, program pertukaran mahasiswa, hingga berbagai kegiatan pengembangan diri yang mampu meningkatkan kapasitas akademik maupun profesional mereka. Pendekatan tersebut bertujuan untuk membentuk mahasiswa yang memiliki keberanian mencoba tantangan baru, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan berkomunikasi yang baik. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa fakultas secara konsisten memberikan dukungan terhadap pengembangan potensi mahasiswa. “Kami ingin mahasiswa memiliki pengalaman belajar yang luas. Tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui berbagai aktivitas yang dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi,” jelasnya. Menurut Sendi, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kompetisi juga memberikan pengalaman berharga yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Prestasi dari Berbagai Bidang Mahasiswa Keperawatan UMM dikenal aktif mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah, penelitian kesehatan masyarakat, inovasi pelayanan keperawatan, serta berbagai ajang ilmiah yang berkaitan dengan pengembangan profesi keperawatan. Di sisi lain, mahasiswa Farmasi UMM banyak menorehkan prestasi dalam bidang penelitian obat, pengembangan produk kesehatan, inovasi berbasis bahan alam, serta berbagai kompetisi ilmiah yang menuntut kemampuan analisis dan kreativitas tinggi. Sementara itu, mahasiswa Fisioterapi UMM juga menunjukkan berbagai capaian dalam kompetisi ilmiah, olahraga, rehabilitasi kesehatan, hingga kegiatan akademik yang melibatkan peserta dari berbagai perguruan tinggi. Keberagaman prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FIKES UMM memiliki potensi yang berkembang di berbagai bidang dan tidak terbatas pada aspek akademik semata. Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Selain meningkatkan reputasi institusi, berbagai prestasi mahasiswa juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. Mahasiswa yang aktif mengikuti kompetisi biasanya memiliki kemampuan manajemen waktu, komunikasi, kerja sama tim, dan penyelesaian masalah yang lebih baik. Kompetensi tersebut menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan dalam dunia profesional. Dr. Hidajah menjelaskan bahwa dunia kesehatan saat ini membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pemimpin dan agen perubahan di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa yang aktif berprestasi hari ini akan menjadi pemimpin-pemimpin kesehatan di masa depan. Karena itu, fakultas terus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki,” katanya. Dukungan Lingkungan Akademik yang Kondusif Keberhasilan mahasiswa dalam meraih berbagai prestasi tentu tidak terlepas dari dukungan lingkungan akademik yang mendukung proses pengembangan diri mereka. FIKES UMM terus berupaya menciptakan ekosistem pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berinovasi, melakukan penelitian, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan mahasiswa harus didukung oleh fasilitas dan sistem yang memadai. “Kami terus memperkuat berbagai fasilitas pembelajaran, laboratorium, ruang diskusi, serta sarana pendukung lainnya agar mahasiswa memiliki lingkungan yang mampu mendorong produktivitas dan kreativitas mereka,” ungkapnya. Menurut Henik, keberhasilan mahasiswa merupakan hasil dari investasi jangka panjang dalam pengembangan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Menatap Prestasi yang Lebih Tinggi Ke depan, FIKES UMM berkomitmen untuk terus memperluas peluang mahasiswa dalam berbagai kegiatan nasional dan internasional. Berbagai program pembinaan prestasi, pendampingan kompetisi, peningkatan kemampuan bahasa asing, serta penguatan jejaring internasional akan terus dikembangkan. Melalui langkah tersebut, fakultas berharap semakin banyak mahasiswa yang mampu mengharumkan nama institusi sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Prestasi yang diraih mahasiswa hari ini menjadi cerminan dari kualitas pendidikan yang terus berkembang di lingkungan FIKES UMM. Lebih dari sekadar penghargaan, prestasi tersebut merupakan bukti bahwa mahasiswa FIKES UMM memiliki kapasitas untuk menjadi tenaga kesehatan profesional yang unggul, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan semangat berprestasi dan budaya akademik yang kuat, FIKES UMM optimistis dapat terus melahirkan generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan Indonesia dan dunia.

Fisioterapi FIKES UMM Cetak Fisioterapis Profesional Siap Bersaing di Tingkat Nasional dan Global

Malang – Kebutuhan terhadap layanan rehabilitasi dan fisioterapi terus meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup, meningkatnya kasus penyakit tidak menular, serta berkembangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kualitas hidup. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat kualitas pendidikan untuk menghasilkan fisioterapis profesional yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai salah satu program studi yang berkembang pesat di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Fisioterapi UMM tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan klinis, tetapi juga menanamkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi profesional, serta pemahaman terhadap perkembangan ilmu fisioterapi global. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menjelaskan bahwa tenaga kesehatan masa depan harus memiliki kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. “Perkembangan ilmu kesehatan berjalan sangat cepat. Karena itu, pendidikan fisioterapi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya. Menurutnya, penguatan kualitas pendidikan menjadi fondasi utama dalam menghasilkan lulusan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat. Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dalam proses pendidikan, mahasiswa Fisioterapi UMM memperoleh berbagai pengalaman belajar yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi profesional secara menyeluruh. Selain mengikuti pembelajaran teori, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan praktik di laboratorium serta berbagai wahana pelayanan kesehatan. Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa memahami hubungan antara teori dan praktik secara lebih komprehensif. Mahasiswa juga dibekali kemampuan melakukan asesmen, menyusun program terapi, melakukan intervensi fisioterapi, serta mengevaluasi hasil pelayanan yang diberikan kepada pasien. Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi lulusan ketika memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif. Jejaring Internasional yang Terus Berkembang Dalam beberapa tahun terakhir, Fisioterapi UMM juga aktif membangun kolaborasi internasional melalui seminar, kuliah tamu, penelitian bersama, hingga berbagai kegiatan akademik yang melibatkan pakar dari berbagai negara. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menilai bahwa paparan internasional memberikan nilai tambah yang sangat penting bagi mahasiswa. “Mahasiswa perlu memahami bagaimana perkembangan fisioterapi di berbagai negara sehingga mereka memiliki perspektif yang lebih luas dan mampu bersaing dalam lingkungan profesional yang semakin global,” jelasnya. Melalui berbagai kerja sama tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar dari pengalaman internasional sekaligus membangun jejaring profesional yang akan bermanfaat di masa depan. Didukung SDM dan Fasilitas Berkualitas Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus didukung oleh fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai. “Kami terus melakukan penguatan laboratorium, peningkatan kompetensi dosen, serta pengembangan lingkungan akademik yang mampu mendukung proses pembelajaran secara optimal,” ungkapnya. Menurut Henik, investasi pada SDM dan fasilitas menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pendidikan dan meningkatkan daya saing lulusan. Menjadi Bagian dari Solusi Kesehatan Masa Depan Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan rehabilitasi, peran fisioterapis akan semakin penting dalam sistem kesehatan. Oleh karena itu, Fisioterapi UMM berkomitmen untuk terus menghasilkan lulusan yang profesional, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Melalui penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta jejaring internasional, Fisioterapi UMM terus menunjukkan perannya sebagai salah satu program studi yang berkontribusi dalam menyiapkan tenaga kesehatan masa depan yang unggul dan berdaya saing global.

Keperawatan UMM Perkuat Kontribusi dalam Pencegahan Stunting dan Pemberdayaan Keluarga melalui Pendekatan Berbasis Komunitas

Malang – Pencegahan stunting masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan berbagai kajian, stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menyadari pentingnya isu tersebut, Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat kontribusinya melalui berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada kesehatan keluarga dan pemberdayaan komunitas. Sebagai bagian dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Program Studi Keperawatan memandang bahwa upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga melalui peningkatan literasi kesehatan keluarga, penguatan peran orang tua, pemberdayaan kader kesehatan, serta penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan kesehatan yang menjadi prioritas nasional. “Stunting merupakan isu yang sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan harus multidisiplin dan melibatkan berbagai pihak. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, edukasi, pendampingan masyarakat, dan pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam program pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan. Penguatan Kesehatan Keluarga sebagai Kunci Pencegahan Dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Keperawatan UMM, keluarga ditempatkan sebagai pusat intervensi kesehatan. Pendekatan ini dipilih karena keluarga memiliki peran utama dalam menentukan pola asuh, pemenuhan kebutuhan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemanfaatan layanan kesehatan. Melalui berbagai program edukasi, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga pola makan sehat yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Selain itu, dosen dan mahasiswa juga aktif memberikan pendampingan kepada kader kesehatan dan kelompok masyarakat agar mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan derajat kesehatan lingkungan sekitarnya. Pendekatan berbasis komunitas ini terbukti memberikan manfaat yang lebih luas karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan program. Mahasiswa Belajar Menjadi Perawat Komunitas Berbagai program yang dijalankan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam memahami berbagai masalah kesehatan yang dihadapi keluarga dan masyarakat. Mereka belajar melakukan pengkajian kesehatan komunitas, menyusun program edukasi, melakukan pendampingan keluarga, serta mengevaluasi berbagai intervensi yang telah dilakukan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa sebagai calon perawat profesional yang mampu bekerja tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di masyarakat. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis komunitas menjadi salah satu keunggulan pendidikan kesehatan di lingkungan FIKES UMM. “Mahasiswa perlu memahami bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Banyak persoalan kesehatan yang justru harus diselesaikan melalui pendekatan keluarga dan komunitas. Karena itu, pengalaman lapangan menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pendidikan,” jelasnya. Menurut Sendi, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat juga membantu meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kolaborasi yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Menghasilkan Riset yang Berdampak Selain kegiatan pengabdian, Keperawatan UMM juga aktif mengembangkan berbagai penelitian yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, gizi masyarakat, kesehatan keluarga, kesehatan remaja, serta berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat. Hasil penelitian tersebut tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai dasar dalam penyusunan program intervensi kesehatan yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pendidikan, penelitian, dan pengabdian dapat saling terintegrasi untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata. “Penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kami terus mendorong agar hasil penelitian dapat diterapkan dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat,” kata Dr. Hidajah. Menyiapkan Generasi Sehat Indonesia Bagi FIKES UMM, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya diukur dari keberhasilan mengobati penyakit, tetapi juga dari kemampuan mencegah munculnya berbagai masalah kesehatan sejak dini. Melalui berbagai program yang dijalankan oleh Program Studi Keperawatan, FIKES UMM terus berupaya berkontribusi dalam menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. Dengan dukungan dosen, mahasiswa, mitra kesehatan, serta masyarakat, berbagai upaya pemberdayaan keluarga dan pencegahan stunting diharapkan dapat memberikan dampak yang semakin luas di masa mendatang. Komitmen tersebut menjadi bagian dari peran FIKES UMM sebagai institusi pendidikan kesehatan yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga hadir sebagai mitra masyarakat dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Keperawatan UMM Perkuat Kontribusi dalam Pencegahan Stunting dan Pemberdayaan Keluarga melalui Pendekatan Berbasis Komunitas

Malang – Pencegahan stunting masih menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional. Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung upaya tersebut, Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan kesehatan keluarga dan pemberdayaan komunitas. Bagi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, isu stunting tidak hanya berkaitan dengan masalah gizi semata, tetapi juga menyangkut pendidikan kesehatan, pola asuh, kondisi sosial ekonomi, serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Melalui berbagai kegiatan yang melibatkan dosen dan mahasiswa, Keperawatan UMM hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi, pendampingan, serta intervensi kesehatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup keluarga dan anak-anak Indonesia. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan masyarakat. “Stunting merupakan masalah multidimensi yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan edukasi, penelitian, dan inovasi yang dapat membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas menjadi salah satu strategi yang efektif karena mampu menjangkau masyarakat secara langsung dan berkelanjutan.

FIKES UMM Perkuat Internasionalisasi, Dosen dan Mahasiswa Bangun Kolaborasi Akademik Lintas Negara

Malang – Internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi salah satu agenda strategis yang terus diperkuat oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui berbagai program kolaborasi akademik internasional, fakultas berupaya memperluas wawasan global mahasiswa dan dosen sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program studi di lingkungan FIKES UMM aktif menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, organisasi profesi, serta lembaga kesehatan dari berbagai negara. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui seminar internasional, pertukaran mahasiswa, kuliah tamu internasional, penelitian kolaboratif, hingga program pengabdian lintas negara. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menilai bahwa penguatan jejaring internasional menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan kesehatan modern. “Tenaga kesehatan masa depan akan bekerja dalam lingkungan yang semakin global. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali pengalaman internasional sejak masa pendidikan agar memiliki perspektif yang lebih luas dan kemampuan beradaptasi yang baik,” ujarnya. Menurutnya, internasionalisasi tidak hanya berkaitan dengan mobilitas mahasiswa ke luar negeri, tetapi juga mencakup pertukaran gagasan, transfer pengetahuan, dan pengembangan inovasi bersama mitra internasional. Melalui berbagai kerja sama yang telah terbangun, mahasiswa FIKES UMM kini memiliki kesempatan lebih luas untuk berinteraksi dengan akademisi dan praktisi kesehatan dari berbagai negara. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah yang sangat penting dalam meningkatkan daya saing lulusan. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa internasionalisasi saat ini telah menjadi bagian integral dari pengembangan akademik di lingkungan fakultas. “Mahasiswa tidak hanya belajar dari dosen di dalam kampus. Mereka juga dapat memperoleh wawasan dari pakar internasional, mengikuti forum akademik global, bahkan terlibat dalam berbagai proyek kolaboratif yang memperkaya pengalaman belajar mereka,” jelasnya. Selain memberikan manfaat akademik, kolaborasi internasional juga membuka peluang peningkatan kualitas penelitian dosen dan mahasiswa. Berbagai publikasi ilmiah bersama mulai berkembang sebagai hasil dari jejaring yang telah dibangun selama ini. Sementara itu, Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan internasionalisasi juga memerlukan dukungan sistem dan fasilitas yang memadai. “Kami terus memperkuat kapasitas SDM, tata kelola, serta sarana pendukung agar seluruh program internasional dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun dosen,” ungkapnya. Melalui semangat kolaborasi global, FIKES UMM terus memperluas perannya dalam membangun pendidikan kesehatan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi internasional. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen fakultas untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kesehatan abad ke-21.

FIKES UMM Perkuat Kualitas Pendidikan Melalui Pengembangan Laboratorium dan Fasilitas Pembelajaran Modern

Malang – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan melalui penguatan kurikulum dan sumber daya manusia, tetapi juga melalui penyediaan fasilitas pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan pendidikan kesehatan modern. Hal inilah yang terus menjadi perhatian Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa Keperawatan, Farmasi, dan Fisioterapi. Sebagai fakultas yang menyiapkan calon tenaga kesehatan profesional, FIKES UMM menyadari bahwa pengalaman belajar mahasiswa harus didukung oleh lingkungan akademik yang representatif, modern, dan sesuai dengan perkembangan teknologi kesehatan. Oleh karena itu, berbagai upaya pengembangan laboratorium, sarana praktik, ruang pembelajaran, hingga fasilitas pendukung akademik terus dilakukan secara berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar fakultas dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan pelayanan kesehatan saat ini. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menegaskan bahwa kualitas fasilitas pendidikan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan. “Pendidikan kesehatan memiliki karakteristik yang berbeda dengan bidang ilmu lainnya karena mahasiswa harus menguasai keterampilan klinis dan profesional secara langsung. Oleh sebab itu, keberadaan laboratorium dan fasilitas pembelajaran yang memadai menjadi kebutuhan utama dalam proses pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, FIKES UMM terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman praktik yang mendekati kondisi nyata di lapangan. Menyiapkan Mahasiswa Menghadapi Dunia Profesi Dalam proses pendidikan kesehatan, laboratorium memiliki peran yang sangat penting sebagai jembatan antara teori dan praktik. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan klinis sebelum berhadapan langsung dengan pasien maupun masyarakat. Program Studi Keperawatan, misalnya, terus mengembangkan laboratorium keterampilan dasar keperawatan, laboratorium keperawatan medikal bedah, maternitas, anak, komunitas, dan keperawatan gawat darurat. Melalui berbagai fasilitas tersebut, mahasiswa dapat melatih kemampuan klinis secara bertahap dan sistematis. Di Program Studi Farmasi, laboratorium menjadi pusat pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang farmasetika, farmakologi, kimia farmasi, teknologi sediaan farmasi, hingga analisis obat. Fasilitas yang tersedia memungkinkan mahasiswa memahami proses pengembangan produk farmasi secara lebih mendalam. Sementara itu, Program Studi Fisioterapi terus memperkuat laboratorium yang mendukung pembelajaran terapi latihan, rehabilitasi medik, fisioterapi olahraga, serta berbagai pendekatan intervensi fisioterapi modern yang dibutuhkan dalam praktik profesional. Melalui fasilitas tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan belajar yang lebih komprehensif dan terintegrasi dengan kebutuhan dunia kerja. Investasi untuk Masa Depan Pendidikan Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan fasilitas pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi kemajuan fakultas. “Peningkatan kualitas laboratorium dan sarana pembelajaran bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk mempersiapkan pendidikan kesehatan menghadapi tantangan masa depan. Dunia kesehatan berkembang sangat cepat sehingga institusi pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut,” jelasnya. Menurut Henik, pengembangan fasilitas tidak hanya berfokus pada penyediaan peralatan, tetapi juga mencakup penguatan sistem manajemen laboratorium, peningkatan keamanan penggunaan alat, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Selain itu, fakultas juga terus memperhatikan kenyamanan lingkungan belajar mahasiswa agar mampu menciptakan suasana akademik yang kondusif dan produktif. Mendukung Akreditasi dan Standar Internasional Pengembangan fasilitas pendidikan juga menjadi bagian penting dalam upaya peningkatan mutu dan pencapaian standar akreditasi nasional maupun internasional. Saat ini, tuntutan terhadap institusi pendidikan kesehatan semakin tinggi, tidak hanya dari sisi kurikulum dan sumber daya manusia, tetapi juga dari kesiapan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa kualitas fasilitas pendidikan merupakan salah satu komponen penting dalam evaluasi mutu akademik. “Ketika kita berbicara tentang pendidikan kesehatan yang unggul, maka fasilitas pembelajaran menjadi salah satu indikator yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, penguatan laboratorium dan sarana pendidikan terus menjadi prioritas dalam pengembangan fakultas,” ujarnya. Menurutnya, fasilitas yang memadai akan memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal sekaligus meningkatkan kepercayaan berbagai mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, FIKES UMM juga terus memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai rumah sakit, klinik, apotek pendidikan, pusat rehabilitasi, serta institusi kesehatan lainnya yang menjadi wahana praktik mahasiswa. Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pengalaman belajar di kampus dengan kondisi nyata di dunia pelayanan kesehatan. Pengembangan SDM Sejalan dengan Penguatan Fasilitas FIKES UMM menyadari bahwa fasilitas yang baik harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang kompeten. Oleh karena itu, pengembangan laboratorium selalu dibarengi dengan peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan. Berbagai pelatihan, sertifikasi, workshop, serta program pengembangan profesional terus dilakukan guna memastikan bahwa seluruh fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung proses pembelajaran. Menurut Dr. Hidajah, kualitas pendidikan terbaik hanya dapat dicapai apabila fasilitas dan sumber daya manusia berkembang secara bersamaan. “Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa memperoleh pengalaman belajar terbaik. Karena itu, pengembangan fasilitas selalu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan,” katanya. Membangun Ekosistem Pendidikan Kesehatan yang Unggul Pengembangan fasilitas pendidikan yang dilakukan FIKES UMM merupakan bagian dari visi besar fakultas dalam membangun ekosistem pendidikan kesehatan yang unggul, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Di tengah transformasi dunia kesehatan yang semakin dinamis, kebutuhan akan tenaga kesehatan yang kompeten terus meningkat. Oleh sebab itu, institusi pendidikan harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Melalui penguatan laboratorium, modernisasi sarana pembelajaran, peningkatan kualitas SDM, serta perluasan jejaring kemitraan, FIKES UMM terus memperkuat fondasi untuk menghasilkan lulusan yang profesional dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Ke depan, berbagai program pengembangan fasilitas akan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen fakultas dalam menjaga mutu pendidikan dan meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa. Dengan dukungan seluruh sivitas akademika, FIKES UMM optimistis mampu menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan unggulan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pembangunan kesehatan Indonesia dan dunia.

FIKES UMM Perkuat Pengabdian Masyarakat, Hadirkan Solusi Kesehatan yang Berdampak Langsung bagi Warga

Malang – Sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan yang mengemban mandat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Melalui berbagai program pengabdian yang dijalankan oleh dosen dan mahasiswa dari Program Studi Keperawatan, Farmasi, dan Fisioterapi, FIKES UMM berupaya menghadirkan solusi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program pengabdian telah dilaksanakan di berbagai wilayah, mulai dari edukasi kesehatan remaja, pencegahan stunting, peningkatan kesehatan lansia, pemberdayaan keluarga, pencegahan penyalahgunaan narkoba, penguatan kesehatan mental, hingga pemanfaatan bahan pangan lokal untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Bagi FIKES UMM, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kegiatan seremonial atau pemenuhan kewajiban akademik. Lebih dari itu, pengabdian menjadi sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang dikembangkan di kampus agar dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menjelaskan bahwa keberadaan perguruan tinggi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. “Ilmu kesehatan pada dasarnya hadir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kami terus mendorong agar setiap kegiatan pendidikan dan penelitian dapat bermuara pada penguatan kesehatan masyarakat melalui berbagai program pengabdian yang berkelanjutan,” ujarnya. Menurutnya, tantangan kesehatan masyarakat saat ini sangat beragam dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Oleh sebab itu, FIKES UMM mengembangkan berbagai program pengabdian yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin agar solusi yang diberikan menjadi lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat. Dari Kampus untuk Masyarakat Salah satu kekuatan FIKES UMM terletak pada keberagaman bidang keilmuan yang dimiliki. Program Studi Keperawatan memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan kesehatan komunitas, pemberdayaan keluarga, kesehatan jiwa, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan penyakit kronis. Di sisi lain, Program Studi Farmasi aktif mengembangkan edukasi penggunaan obat yang rasional, pengenalan tanaman obat keluarga, pengembangan produk kesehatan berbasis bahan alam, serta pendampingan masyarakat dalam meningkatkan literasi kesehatan. Sementara Program Studi Fisioterapi berkontribusi melalui berbagai program rehabilitasi komunitas, peningkatan aktivitas fisik masyarakat, pencegahan gangguan muskuloskeletal, hingga pendampingan kelompok lansia dalam menjaga kualitas hidup. Sinergi ketiga program studi tersebut memungkinkan FIKES UMM menghadirkan program pengabdian yang lebih komprehensif dan berdampak luas. Berbagai kegiatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah kesehatan jangka pendek, tetapi juga mendorong perubahan perilaku kesehatan yang berkelanjutan di masyarakat. Edukasi Sebagai Kunci Pencegahan Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menilai bahwa edukasi kesehatan masih menjadi salah satu strategi paling efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. “Banyak masalah kesehatan sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, sebagian besar program pengabdian yang kami lakukan selalu mengedepankan aspek edukasi dan pemberdayaan,” jelasnya. Menurut Sendi, pendekatan edukatif memungkinkan masyarakat menjadi lebih mandiri dalam menjaga kesehatan diri dan keluarganya. Dengan demikian, dampak program dapat bertahan lebih lama dibandingkan intervensi yang bersifat sesaat. Dalam berbagai kegiatan pengabdian, dosen dan mahasiswa FIKES UMM tidak hanya menyampaikan materi kesehatan, tetapi juga melakukan pendampingan secara langsung agar masyarakat mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Pendekatan partisipatif tersebut terbukti lebih efektif dalam membangun kesadaran kesehatan dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam berbagai program kesehatan. Mahasiswa Belajar dari Kehidupan Nyata Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, kegiatan pengabdian juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam memahami berbagai permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Mereka belajar berkomunikasi dengan berbagai kelompok usia, memahami kondisi sosial budaya masyarakat, melakukan edukasi kesehatan, serta mengembangkan keterampilan problem solving yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja profesional. Pengalaman tersebut menjadi pelengkap penting bagi pembelajaran yang diperoleh di ruang kelas maupun laboratorium. “Mahasiswa kesehatan harus mampu memahami kondisi masyarakat secara langsung. Dengan turun ke lapangan, mereka belajar bahwa setiap masalah kesehatan memiliki konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang perlu dipahami sebelum menentukan solusi,” ungkap Dr. Hidajah. Menurutnya, pengalaman lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian sosial yang tinggi. Didukung SDM dan Fasilitas yang Berkualitas Keberhasilan berbagai program pengabdian masyarakat tidak terlepas dari dukungan sumber daya manusia dan fasilitas yang terus dikembangkan oleh FIKES UMM. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menjelaskan bahwa fakultas terus melakukan penguatan kapasitas dosen dan penyediaan sarana yang mendukung implementasi program pengabdian. “Pengabdian yang berkualitas memerlukan dukungan SDM yang kompeten dan fasilitas yang memadai. Karena itu, kami terus mendorong peningkatan kompetensi dosen sekaligus memastikan berbagai kebutuhan operasional kegiatan lapangan dapat terpenuhi dengan baik,” jelasnya. Menurut Henik, pengembangan SDM menjadi salah satu investasi penting karena kualitas program pengabdian sangat bergantung pada kemampuan dosen dalam menerapkan ilmu pengetahuan secara tepat di tengah masyarakat. Menguatkan Peran FIKES UMM dalam Pembangunan Kesehatan Ke depan, FIKES UMM berkomitmen untuk terus memperluas cakupan dan kualitas program pengabdian masyarakat. Berbagai isu kesehatan strategis seperti stunting, kesehatan mental, penyakit tidak menular, kesehatan remaja, kesehatan lansia, serta penguatan kesehatan berbasis komunitas akan tetap menjadi fokus utama pengembangan program. Selain itu, fakultas juga akan terus mendorong integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian sehingga setiap inovasi yang dihasilkan dari kampus dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bagi FIKES UMM, keberhasilan pendidikan kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau capaian akademik, tetapi juga dari sejauh mana ilmu pengetahuan yang dikembangkan mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Melalui semangat pengabdian dan kolaborasi, FIKES UMM terus mempertegas perannya sebagai institusi pendidikan kesehatan yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga aktif menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Budaya Riset Menguat, Mahasiswa FIKES UMM Tembus Publikasi Internasional dan Kompetisi Ilmiah Global

Malang – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang kuat melalui penguatan penelitian dan publikasi ilmiah. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh para dosen, tetapi juga melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIKES UMM, mulai dari Keperawatan, Farmasi, hingga Fisioterapi. Dalam beberapa tahun terakhir, capaian penelitian mahasiswa dan dosen FIKES UMM mengalami peningkatan yang signifikan. Berbagai karya ilmiah berhasil dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional bereputasi, sementara sejumlah mahasiswa juga mampu menorehkan prestasi melalui kompetisi ilmiah tingkat nasional dan internasional. Perkembangan ini menjadi indikator bahwa budaya riset di lingkungan FIKES UMM semakin tumbuh dan berkembang. Tidak hanya sebagai kewajiban akademik, penelitian kini telah menjadi bagian dari budaya belajar yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, inovatif, dan berbasis bukti ilmiah. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menyampaikan bahwa penguatan budaya riset merupakan salah satu strategi utama fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kontribusi keilmuan di bidang kesehatan. “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif melakukan penelitian, menghasilkan publikasi berkualitas, serta mengembangkan inovasi yang dapat menjawab berbagai permasalahan kesehatan,” ujarnya. Menurutnya, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan solusi yang didasarkan pada hasil penelitian yang kuat. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu dibiasakan untuk terlibat dalam kegiatan penelitian sejak dini agar memiliki kemampuan analisis yang baik ketika memasuki dunia profesi. Mahasiswa Tidak Hanya Menjadi Pembelajar, tetapi Juga Peneliti Salah satu ciri khas pengembangan akademik di FIKES UMM adalah keterlibatan mahasiswa dalam berbagai aktivitas penelitian dosen. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga memahami secara langsung bagaimana proses penelitian dilakukan mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis, hingga publikasi hasil penelitian. Di Program Studi Keperawatan, misalnya, mahasiswa banyak terlibat dalam penelitian terkait kesehatan masyarakat, penyakit kronis, kesehatan jiwa, kesehatan lansia, hingga pengembangan intervensi keperawatan berbasis komunitas. Sementara itu, mahasiswa Farmasi aktif melakukan penelitian mengenai pengembangan bahan alam, formulasi sediaan farmasi, keamanan penggunaan obat, serta berbagai inovasi yang mendukung perkembangan industri farmasi dan pelayanan kefarmasian. Pada Program Studi Fisioterapi, penelitian banyak diarahkan pada pengembangan terapi rehabilitasi, peningkatan kualitas hidup pasien, fisioterapi olahraga, serta pendekatan fisioterapi berbasis komunitas yang saat ini semakin dibutuhkan masyarakat. Keberagaman tema penelitian tersebut menunjukkan bahwa FIKES UMM terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan melalui pendekatan multidisiplin. Publikasi Internasional Menjadi Target Bersama Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa saat ini fakultas terus mendorong peningkatan jumlah publikasi ilmiah sebagai bagian dari penguatan budaya akademik. “Publikasi bukan hanya soal angka atau capaian institusi. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil penelitian dapat disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Karena itu kami terus memberikan pendampingan kepada dosen dan mahasiswa agar mampu menghasilkan publikasi yang berkualitas,” jelasnya. Menurut Sendi, berbagai program telah dikembangkan untuk mendukung peningkatan produktivitas penelitian, mulai dari pelatihan metodologi penelitian, workshop penulisan artikel ilmiah, pendampingan publikasi, hingga kolaborasi penelitian dengan mitra nasional maupun internasional. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang positif. Semakin banyak mahasiswa yang berhasil mempresentasikan hasil penelitiannya dalam seminar ilmiah, mengikuti kompetisi karya tulis, maupun menjadi bagian dari artikel yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi. Hal ini menjadi modal penting dalam meningkatkan daya saing lulusan FIKES UMM di tingkat nasional maupun internasional. Menjawab Tantangan Kesehatan Melalui Inovasi Bagi FIKES UMM, penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi semata. Hasil penelitian harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menjadi dasar dalam pengembangan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Karena itu, berbagai penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa diarahkan untuk menjawab isu-isu kesehatan yang berkembang di masyarakat, seperti stunting, penyakit tidak menular, kesehatan mental, penggunaan obat yang rasional, rehabilitasi pasien pascastroke, hingga peningkatan kualitas hidup kelompok rentan. Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dr. Hidajah menilai bahwa perguruan tinggi kesehatan harus mampu menjadi pusat solusi bagi berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi bangsa. “Kami ingin hasil penelitian yang lahir dari FIKES UMM tidak hanya tersimpan dalam jurnal atau laporan akademik. Kami berharap penelitian tersebut dapat diimplementasikan, dimanfaatkan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan kesehatan yang ada,” ungkapnya. Membangun Ekosistem Akademik yang Mendukung Keberhasilan pengembangan budaya riset tentu tidak dapat dilepaskan dari dukungan lingkungan akademik yang kondusif. Oleh karena itu, FIKES UMM terus memperkuat berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan penelitian dan pembelajaran. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menjelaskan bahwa fakultas terus berupaya meningkatkan kualitas sarana pendukung penelitian agar mampu mengakomodasi kebutuhan dosen dan mahasiswa. “Penguatan laboratorium, akses terhadap sumber referensi ilmiah, pengembangan teknologi pembelajaran, serta peningkatan kompetensi SDM menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas penelitian di lingkungan FIKES UMM,” jelasnya. Menurut Henik, investasi pada fasilitas pendidikan dan penelitian merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Menyiapkan Generasi Inovator Kesehatan Ke depan, FIKES UMM berkomitmen untuk terus memperluas budaya riset hingga menjadi identitas akademik yang melekat pada seluruh sivitas akademika. Melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, fakultas berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga mampu menjadi inovator dan agen perubahan. Di tengah perkembangan ilmu kesehatan yang berlangsung sangat cepat, kemampuan melakukan penelitian dan menghasilkan inovasi menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi. Dengan dukungan dosen yang produktif, mahasiswa yang aktif, serta lingkungan akademik yang terus berkembang, FIKES UMM optimistis dapat terus meningkatkan kontribusinya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia. Melalui semangat kolaborasi dan inovasi, FIKES UMM terus membuktikan bahwa budaya riset bukan hanya menjadi agenda akademik, melainkan fondasi utama dalam membangun masa depan kesehatan yang lebih baik.