Jurnal Keperawatan FIKES UMM Siap Meraih Rangking SINTA 2

Jurnal Keperawatan FIKES UMM atau dikenal dengan sebutan JK saat ini mempersiapkan untuk meningkatkan peringkat SINTA. SINTA adalah kepanjangan dari Science and Technology Index merupakan portal jurnal yang dikelola oleh kemenristek DIKTI. Melalui sistem tersebut dapat diketahui pengukuran dari sebuah kinerja dari ilmu pengatahuan dan teknologi. Kinerja yang dapat dilihat berasal dari para peneliti/penulis/author, kinerja jurnal, kinerja institusi Iptek Kepala Editor, Bapak Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, mengatakan bahwa “JK pada bulan agustus 2020 mendatang akan mengajukan akreditasi SINTA. Hal ini dilakukan karena JK yang sudah 11 tahun terbit akan meningkatkan kualitas terbitannya dengan indeks Sinta dari Kemenristek dari SINTA peringkat 3 menuju SINTA Peringkat 2. Dan target pencapain peningkatan rangking ini adalah di tahun 2021. Persiapan akreditasi ini terus mendapat pengawalan dari LPPI UMM dan juga support dari Dekan FIKES UMM’., katanya. Bapak yang akrab disapa Pak Yoyok, menambahkan bahwa “persiapan yang dilakukan oleh TIM JK demi mendapat predikat SINTA 2 antara lain, dengan cara peningkatan substansi artikel dan manajemen JK. Adapaun Subtansi tersebut terkait dengan meningkatkan kualitas artikel keperawatan yang dipublish di JK, dan juga dapat menunjang iptek di bidang keperawatan. Sedangkan, manajemen JK yaitu, terkait dengan sistem OJS (open journal system) dan sitiasi. Saat ini JK sudah disitasi sebanyak 240 artikel, dgn h-index 7 dan i10-index 6”, Tandasnya. Managing editor JK, Edi Purwanto, MNg, menambahkan “TIM JK insyaallah optimis dalam meraih peningkatan rangking SINTA 2 karena memiliki sumberdaya yang mumpuni. Di samping itu, Tim editor dan peer-reviewer memiliki kualifikasi: author yg produktif dgn karya publikasi di jurnal bereputasi, sekaligus menjadi reviewer di berbagai jurnal nasional dan internasional yg lain. JK juga sudah terindeks crossref, portal garuda, google school, base, indonesia one search, neliti. Kemudian, Visitor online JK sudah diatas 100 orang/hari dan JK memiliki coach yg handal dibidangnya pak Zulfatman dan Mas Dana dari LPPI’, Tandasnya. Dekan Fakultas Kesehatan UMM, Faqih Ruhyanudin, mengatakan “sudah saatnya JK meraih peringkat SINTA 2, dan fakultas akan mendukung penuh upaya yang dilakukan TIM JK. Dan tak lupa terima kasih kepada TIM LPPI UMM yang selalu memberikan arahan yang sangat berarti bagi TIM JK”, katanya. Jurnal JK dapat diakses di laman berikut ini http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/index.
Apa Itu Termometer Gun? Bagaimana Cara Menggunakannya Dengan Benar?

Mengukur suhu seseorang dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu metode untuk mengukur suhu permukaan seseorang adalah dengan menggunakan termometer inframerah atau termometer gun. Termometer inframerahdapat digunakan untuk mengurangi risiko kontaminasi silang dan meminimalkan risiko penyebaran penyakit. Walaupun biasanya 98,6 ° F (37,0 ° C) dianggap sebagai suhu “normal”, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa suhu tubuh “normal” dapat berada dalam kisaran yang luas, dari 97 ° F (36.1 ° C) hingga 99 ° F (37.2). ° C). Sebelum termometer inframerahdigunakan, penting untuk memahami manfaat, keterbatasan, dan penggunaan yang tepat dari termometer ini. Penggunaan termometer inframerahyang tidak tepat dapat menyebabkan pengukuran suhu yang tidak akurat. Apa Manfaat dari termometer inframerah? Mengurangi risiko penyebaran penyakit di antara orang yang dievaluasi Mudah digunakan Mudah dibersihkan dan didisinfeksi Mengukur suhu dan menampilkan bacaan dengan cepat Mengukur suhu berulang dengan cepat Apa keterbatasan termometer infrared? Hal-hal yang dapat mempengaruhi pengukuran (misalnya, penutup kepala, lingkungan, pemosisian di dahi). Bagaimana Penggunaan termometer infrared yang benar? 1. Mempersiapkan Lingkungan dan termometer infrared: Lingkungan dapat memengaruhi kinerja termometer infrared. Rekomendasi agar alat tersebut bekerja secara optimal, seperti berikut ini: Gunakan di ruang bebas angin dan sinar matahari langsung atau dekat sumber panas. Tentukan apakah kondisinya optimal untuk digunakan. Biasanya, suhu lingkungan harus antara 60,8-104 ºF (16-40 ºC) dan kelembaban relatif di bawah 85 persen. Tempatkan termometer infrared di lingkungan tempat untuk mengukur suhu selama 10-30 menit sebelum digunakan alat dapat menyesuaikan dengan lingkungan. 2. Membersihkan Antara Penggunaan: Untuk membersihkan termometer infrared di sela-sela penggunaan, dapat menggunakan alkohol swap. Kebanyakan termometer infrared tidak boleh direndam dalam air atau cairan lain. 3. Mempersiapkan Orang yang akan diukur suhunya Dalam persiapan untuk melakukan pengukuran suhu dengan termometer infrared, orang yang menggunakan termometer infrared harus memastikan hal di bawah ini: Area dahi harus bersih, kering dan tidak terhalang selama pengukuran. Suhu atau suhu tubuh orang tersebut di area uji dahi belum meningkat atau berkurang dengan mengenakan pakaian berlebihan atau penutup kepala (misalnya ikat kepala, bandana), atau dengan menggunakan produk pembersih wajah (misalnya tisu kosmetik). 4. Cara mengoperasikan termometer infrared: Pegang bidang penginderaan termometer infrared secara tegak lurus ke dahi dan perintahkan orang tersebut untuk tetap diam selama pengukuran. Jarak antara termometer infrared dan dahi 2-3 cm. Namun, alangkah baiknya lihat instruksi setiap alat Jangan menyentuh area penginderaan termometer infrared dan menjaga sensor tetap bersih dan kering. Gambar 1. Cara pengukuran yang benar, kepala tegak lurus dan tepat pada dahi sinarnya Gambar 2. Cara Pengukuran yang salah, tidak tepat pada dahi dan tidak tegak lurus Gambar 3. Cara Pengukuran yang salah, karena terpapar sinar matahari langsung
Bahayakah Pemakaian Termometer Gun? Apakah Merusak Mata atau Otak?

Penggunaan termometer gun atau di sebut juga dengan termometer inframerah telah menjadi hal yang lumrah dilakukan masyarakat sebagai tindakan pencegahan untuk mendeteksi adanya kecurigaan bagi seseorang yang terkana virus corona atau covid 19. Namun, akhir-akhir belakangan ini, masyarakat dibuat resah karena adanya video yang viral melalui jejaring sosial dan whatsapp. Dalam video itu memaparkan adanya risiko kerusakan pada mata dan otak jika terpapar oleh termometer gun tersebut. Video itu juga menjelaskan bahwa sinar yang dihasilkan dari perangkat tersebut adalah sinar laser. Tapi, apa benar termometer gun dapat merusak kesehatan mata dan otak? amankah digunakan? Bapak Faqih Ruhyanudin, Dekan FIKES UMM merespons dengan mengatakan “itu tidak benar” dan aman digunakan, serta menjelaskan bagaimana fungsi lampu merah pada termometer itu. “Manusia itu dapat mengeluarkan panas dari tubuhnya, dalam bentuk sebuah energi. Jenis termometer ini dapat mendeteksi suhu tubuh manusia dengan cara menembakkan gelombang inframerah, dan dikirimkan ke sensor pada alat tersebut, kemudian dapat mendeteksi suhu yang kita miliki, ”jelasnya. “dan jelas termometer gun ini tidak akan melukai kita, mata atau otak bagian tubuh mana pun”, katanya. “Cahaya yang dipancarkan oleh termometer gun itu bukanlah sinar laser. Sehingga, Seandainya cahayanya terkena mata sekalipun tidak merusak bola mata kita. Titik merah yang kita lihat adalah cahaya yang disediakan termometer, agar kita dapat dengan mudah dapat melihat bagian area yang mana yang akan diukur suhunya. ” Wadek II, Bapak Sobrun Jamil menambahkan bahwa “jenis termometer yang menggunakan sinar laser memang ada. akan tetapi, jenis termometer ini bukan digunakan untuk mengukur suhu manusia, namun digunakan dalam konstruksi dan automotif. Misalnya, untuk mengukur suhu semen, suhu atap, suhu mesin mobil dll. Ini adalah laser komersial, dengan penggunaan yang sama sekali berbeda dengan yang digunakan untuk suhu tubuh, ”kata Bapak Jamil, “untuk jenis termometer ini memang dapat menyebabkan kerusakan pada mata jika terkena pada area mata. Oleh sebab itu, misalnya, jika seseorang ingin mengukur suhu mesin dengan termometer ini disarankan menggunakan kaca mata goggle. Tetapi, sekali lagi, termometer gun yang digunakan untuk mendeteksi suhu badan manusia adalah penggunaan sama sekali berbeda,” ia menegaskan kembali, oleh karena itu, menyarankannya untuk “menggunakan sumber tepercaya agar tidak meresahkan dan membuat panik masyarakat” katanya.
Alumni Keperawatan FIKES UMM yang Kerja di Jepang Silaturahmi dengan Pimpinan UMM

Tidak terasa teman-teman alumni Keperawatan FIKES UMM sudah hampir 2 tahun, menginjakkan kaki di Negeri Sakura, Jepang. Mereka adalah para alumni FIKES UMM yang diberangkatkan ke Jepang melalui kerjasama UMM dengan Jepang. Mereka bekerja sebagai perawat di negera sakura itu. Mungkin ini juga bisa dibilang silaturrahmi, jumpa kangen dan juga evaluasi mahasiswa yang ada di Jepang. Walaupun pertemuan itu melalui daring dengan ZOOM Meeting tapi keharuan terasa sekali dalam pertemuan itu. Tampak dari wajah semuringah para pimpinan dan alumni yang berada di Jepang. Pertemuan itu di hadiri oleh pimpinan universitas antara lain, Bapak Rektor, Bapak Fauzan, Warek 1 dan Warek 4. Pimpinan Fakultas yang menghadiri antara lain, Bapak Dekan Fikes, Faqih Ruhyanudin, Kaprodi dan Sekprodi S1-Keperawatan, Kaprodi dan Sekprodi D-3 Keperawatan. Sedangkan, alumni yang bergabung dalam pertemuan itu antara lain, (1) Mustika Deni Pradana (2) Inge Putrian Rizky, (3) Ekti Demi Pangastuti, (4) Yanuar Tri Sasmita Nugraha dan (5). Ika Wahyu Purwaningsih Mereka bekerja di tempat yang berbeda-beda disana. Misalnya, Mustika Deni Pradana dan Inge Putrian Rizky bekerja sebagai perawat di Oukaen Nursing Home, Ekti Demi Pangastuti bekerja sebagai perawat di Gruphome honoka, Yanuar Tri Sasmita Nugraha bekerja sebagai perawat di Gruphome Wagaya, Ika Wahyu Purwaningsih bekerja sebagai perawat di Day Service Center Enishi. Mereka semua bekerja sebagai perawat care giver di sebuah panti jompo di Jepang. Hasil pertemuan itu juga mengevaluasi kendala-kendala yang dihadapi alumni di sana. Mustika Deni Pradana, yang juga akrab disapa dengan Deni itu menyebutkan bahwa “salah satu yang menjadi kesulitan dalam merawat orang-orang dengan lansia adalah ketika menghadapi lansia demensia/alzeimer yg sedang tantrum“. dan juga syok culture karena menyesuaikan iklim beserta bahasa yang berbeda, walaupun sudah cukup mahir mengucapkan bahasa jepang, imbuh Yanuar, alumni yang meraih predikat bahasa Jepang N3 itu. Kemudian, Inge Putrian Rizky, tak lupa memberikan masukan terkait kurikulum bhs jepang yg lebih aplikatif saat di akadmik. Hal itu bertujuan agar alumni yang ingin berangkat ke Jepang lebih siap lagi, beitu timpal alumni yang akrab disapa dengan Inge itu. Kaprodi S1 Keprawatan, Ibu Nurlailatul Masruroh memberikan arahan kepada para alumni itu agar mengembangkan karir disana sampai jadi Regiter Nurse (RN) atau disebut Kangosi (dalam bahasa Jepang). RN merupakan capaian yang tertinggi agar perawat diakui secara profesional dan mendapatkan gaji yang sangat layak, tambah bu Ila. Sedangkan, tak kalah kaprodi D3 Keperawatan menimpali ke bapak rektor, rencana dalam waktu dekat ini d3 keperawatan membidik Jepang sebagai target serapan tenaga kerja bagi alumninya. Program Studi d3 keperawatan akan serius dalam perencanaan ini dan harus teralisasi agar alumni d3 keperawatan 100% tidak perlu lagi bingung kerja. Seperti slogan UMM pasti, begitu sahut ibu Reni kepada bapak Rektor UMM. Tak lupa, sembari penutup pertemuan online itu, Bapak Rektor UMM, Bapak Dr. Fauzan memberikan pesan bagaimana memanaje keuangan dan jangan sampai terlena dengan efek sosial budaya terkait TKW di indonesia, intine suruh menghemat. Dan juga diminta menjadi duta serta mencari jalan untuk program ini kedepan biar lebih cepat bisa segera berangkat dan kerja, imbuh pak rektor.
Keseriusan Persiapan FIKES UMM, Menghadapi New Normal Tanggal 07 September 2020

Keseriusan FIKES UMM dalam mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 tak diragujan lagi. FIKES UMM memperlakukan protap yang sangat ketat saat siapapun masuk dalam kampus II. Menurut Faqih Ruhyanudin, Selaku Dekan FIKES UMM “Alur orang masuk (orang asing, mahasiswa, karyawan dan dosen) dalam kampus II FIKES UMM, pertama harus melewati screening dengan pengecekan suhu yang di periksa di pintu gerbang, kemudian untuk mahasiswa terlebih dahulu harus mengurus surat izin masuk kampus atau disingkat dengan SIMK. SIMK ini dapat di urus ke Poliklinik kampus 3 atau UMC tanpa dipungut biaya. Pak Faqih mengimbuhkan, jika mahasiswa sudah memiliki SIMK pada saat masuk harus memverifikasi barcode di tempat check point yang sudah disediakan di posko, dan petugas sudah disiapkan mulai jam 07.00-16.00. Pengecekan Barcode SIMK adapun SOP kedatangan mahasiswa ke kampus II antara lain, mahasiswa harus mengecek kesehatan ke poliklinik UMM atau layanan kesehatan lainnya, lalu mahasiswa disana harus mengisi form penerboitan SIMK (surat izin nasuk kampus) pada infokhs.umm.ac.id dengan cara melampirkan surat keterangan sehat untuk mahasiswa yang berdomisili di Malang Raya. sedangkan yang diluar Malang harus melampirkan bukti hasil Rapid test/Swab. alur tersebut dapat dilihat di bawah ini.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga Meningkat Saat Pandemik COVID-19

Kekerasan dalam rumah tangga pada masa pandemik saat ini meningkat cukup signifikan. Hal ini menjadi salah satu latar belakang FIKES UMM mengadakan seminar ini. Seminar ini ditujukan pada para klinisi perawat terutama yang konsen dalam bidang keperawatan maternitas. Seminar dan pelatihan ini di hadiri oleh 170 orang perawat klinisi yang memang konsen terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti seminar. Hal ini dibuktikan oleh adanya 25 penanya saat seminar berlangsung. Menurut pemateri 1, Ibu Mia Siscawati, PhD, dosen senior di Universitas Indonesia, “mengatakan bahwa kasus KDRT dimasyakat tidak hanya terjadi pada wanita saja, namun juga terjadi pada laki-laki. walaupun kasus terbanyak terjadi pada wanita. Ibu yang berkecimpung dalam perlindungan wanita ini menambahkan bahwa misi organisasi yang beliau dirikan adalah “zero for violence”, yaitu, tidak ada kekerasan d dalam rumah tangga lagi”. Perempuan yang akrab disapa dengan Bu Mia ini juga mengimbuhkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga atau disingkat dengan KDRT ini tidak hanya kekerasan secara fisik saja, namun juga secara psikologis. Beliau mencontohkan kekerasan secara fisik antara lain, pemukulan bahkan kekerasan secara seksual. Kekerasan dalam seksual biasanya dipicu dengan adanya penyimpangan seksual atau mungkin terinspirasi dari film-film yang ditonton oleh suaminya atau istrinya. Beliau menceritakan bahwa pasien yang beliau tangani kadang mengalami perobekan pada alat kelamin. sedangkan, kekerasan pada psikis misalnya bentakan atau bodyshaming pada istri atau suami. Mia Siscawati, PhD, Ketua kajian Gender UI Menurut pemateri kedua, Ibu Tri Lestari Handayani, M. Kep., Sp. Mat, Dosen Senior FIkes UMM,”menyatakan bahwa angka kejadian KDRT saat pandemik meningkat sekitar 33% dibandingkan sebelum adanya pandemik. Hal ini dimungkinkan karena adanya pendapatan ekonomi yang berkurang dan juga angka kehamilan meningkat namun tidak diiringi dengan PHK besar-besaran dan penurunan income ekonomi”, imbuh ibu mantan dekan Fikes UMM ini. Ibu Tri, begitu sapaannya adalah mahasiswa doktoral di UI ini mengatakan bahwa perawat dapat ikut andil dalam pencegahan kasus KDRT ini, dimana perawat dapat bertindak sebagai konselor. perawat konselor adalah memfasilitasi keluarga yang mengalami KDRT dan bersama mencarikan solusi bagi keluarga tersebut. Tri Lestari Handayani, M. Kep., Sp. Mat, Dosen Senior FIkes UMM Pembicara ke-3 Prof Yati Afiyanti, yang merupakan dosen senior keperawatan UI, “menambahkan faktor-faktor resiko terhadap KDRT antara lain, faktor individu, faktor hubungan dengan pasangan, faktor lingkungan kecil, faktor masyarakat luas. adapun faktor individu antara lain, pernah mengalami kekerasan pada masa anak-anak atau pernah menyaksikan KDRT dengan mata kepala sendiri. faktor hubungan dengan pasangan yakni, konflik dalam perkawinan atau tingginya kendali laki-laki atau bisa dikatakan suaminya egois ataupunb isa jadi istrinya”, imbuh prof yati. Prof. Dr. Yati Afiyanti, S, Kep, MN, Dosen senior Maternitas Keperawatan UI Ibu yati juga menambahkan bahwa, menurut beliau “kita dapat mendeteksi adanya tindak KDRT pada masyarakat diantaranya adalah adanya gejala infeksi penyakit menular seksual, infeksi pada vagina berulang kali, nyeri atau perdarahan pada vagina, gangguan BAB atau BAK, adanya cedera pada payu dara atau bahkan pada dubur, ditemukan cairan mani di sekitar mulut. oleh sebab itu, beliau menghimbau jika ada seorang wanita mengalami pemerkosaan, agar wanita tersebut jangan mandi dahulu sebelum melaporkan ke Pihak berwenang, untuk dijadikan bukti kejahatan. prof yati juga mengajak para peserta untuk ikut andil dalam kekerasan pada wanita, misalnya jika ditemukan pasangan di jalan, sebisa mungkin kita melerai dan memfasilitasi agar tidak terjadi pemukulan pada salah satu pihak. begitu tutupnya.
Perdana, FIKES UMM Selenggarakan Pertemuan Wali Secara Virtual

Saat masa pandemik ini, ada hal-hal yang mungkin terhambat. salah satunya adalah komunikasi dengan wali mahasiwa baru tahun ini. akan tetapi, FIKES UMM dapat memecahkan hal itu dengan memanfaatkan platform online atau daring yakni, ZOOM MEETING. Meskipun dilakukan secara daring, kali pertama pertemuan atara dekan dan kaprodi di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan wali mahasiswa berlangsung komunikatif bahkan interaktif. Pertemuan bertajuk Silaturrahim Orang Tua/Wali Mahasiswa Baru FIKES UMM tersebut berlangsung di gedung aula FIKES kampus II UMM tadi pagi. “Bapak ibu sekalian setiap tahun di awal perkuliahan kami selalu mengundang kehadiran orang tua wali untuk bersilaturahmi saling pengertian, keterbukaan. Kami berharap putra putri bapak ibu selama kuliah di FIKES UMM ada komunikasi, sehingga bapak ibu dapat mengawasi dan berkomunikasi secara langsung, kamipun dapat menyampaikan beberapa hal tentang putra putri bapak ibu sekalian selama menempuh pendidikan di FIKES UMM,” ujar Dekan FIKES UMM, Faqih Ruhyanuddin, M.Kep, Sp.Kep, MB. Faqih Ruhyanuddin melanjutkan acara silaturrahim tersebut dengan paparan umum bagaimana mahasiswa FIKES UMM dalam menempuh pendidikan. Dimulai dari perkenalan dengan sejarah berdirinya FIKES UMM sejak 2007 hingga saat ini meliliki 7 program studi. Yaitu D3 Keperawatan, Ilmu Keperawatan (S1) dan Farmasi (S1). Program studi Fisioterapi (S1), program studi Ners (profesi). Program studi apoteker, serta program profesi fisioterapi. Secara universitas UMM terakreditasi A, sementara fakultas FIKES UMM terakreditasi B. Dijelaskan Faqih Ruhyanuddin visi FIKES UMM, menjadi fakultas ilmu kesehatan terkemuka dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi unggul bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan berdasarkan nilai-nilai Islam. Sehingga mahasiswa yang belajar di FIKES UMM mendapatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan adab islami sebagai manusia berpribadi unggul prestasi. Faqih Ruhyanuddin mengungkapkan selain dirinya sebagai nahkoda FIKES UMM, juga memperkenalkan para wakil dekan, kepala program studi (kaprodi), dan sekprodi, lengkap dengan nomor telepon. Selama menempuh pendidikan di FIKES UMM, normalnya mahasiswa antara 7-8 semester atau 4 tahun. Tetapi maksimal bisa 14 semester atau 7 tahun. Namun setelah 7 tahun tidak bisa menyelesaikan studinya maka sesuai aturan pendidikan tinggi (dikti) akan ditindak drop out (DO). Untuk mengontrol hal ini, tandas Faqih Ruhyanuddin, wali mahasiswa dapat mengunduh aplikasi My UMM parent dan My UMM student. Di aplikasi tersebut ada infromasi tentang berapa SKS yang sudah ditempuh, masa studi yang harus ditempuh, serta mata kuliah apa saja yang belum ditempuh. Termasuk program kreatifitas mahasiswa juga dapat diakui masuk sebagai SKS tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Program lainnya disampaikan Faqih Ruhyanuddin seperti lembaga kegiatan mahasiswa di kampus, P2KK, bea siswa, e-book, dan beberapa program lain yang semua dapat dilihat di aplikasi sesuai dengan informasi brosur UMM. Acara silaturahmi ini ditutup dengan tanya jawab antara Faqih Ruhyanuddin sebagai dekan FIKES UMM dengan para wali mahasiswa terkait penjelasan yang sudah disampaikan. Pertanyaan tersebut seperti bagaimana cara mengunduh My UMM parent di App Store, proses P2KK, serta kapan mahasiswa mulai kuliah.
Yanuar, Si perawat sang penulis

“Rumit, sukar, senang, sedih, gelisah tentang apa-apa yang telah dan sedang terjadi terkadang butuh ditenangkan. Dan bagiku, menulis adalah kegiatan candu yang menjadikannya tenang”. Begitu salah satu ungkapan dari yanuar sasmita. Yanuar Sasmita atau yang akrab di panggil Yanuar ini merupakan Alumni keperawatan FIKES UMM tahun 2015. “Berawal dari kecanduan membaca novel dan banyaknya kegelisahan dari apa yang ada di sekitar serta entah dimana harus dikemukakan, maka aku menulis tentang semua ide menjadi sebuah gagasan. Setiap hari ada saja hal-hal yang menurutku perlu untuk aku tulis, dari sanalah aku hobi menulis. Hingga akhirnya nekat untuk mencoba mengirim naskah ke penerbit. Gagal pasti ada, sempat ditolak beberapa penerbit sampai akhirnya ada penerbit yang menerima naskahku. Intinya, “lakukanlah apa yang kamu senangi selama itu baik, rehat sejenak boleh, tapi jangan menyerah, sebab siapa tahu sebentar lagi kamu akan meraih apa yang kamu cita-citakan.” Buku 1; judul “Kebelet Cinta”, bergenre non fiksi-komedi. Buku pertamaku ini bercerita tentang kumpulan kisah absurdku dari aku SD hingga kuliah. Tentunya tak lepas dari kisah percintaan. Singkatnya, buku pertamaku ini berkisah tentang akumulasi kisah dari seorang anak yang tumbuh menjadi remaja dengan segudang kisah kocak, nyeleneh, aneh dan absurdnya, begitu tandas yanuar kemudian, Buku 2; judul “(Tidak) Semua Cowok Sama Aja”, bergenre romance. Buku keduaku ini bercerita tentang stigma yang diberikan oleh kebanyakan cewek yang beranggapan bahwa semua cowok itu sama aja. Padahal sifat setiap orang itu berbeda. Sebab, terkadang kita hanya perlu memandang dari sudut pandang yang berbeda, untuk bisa memahami definisi cinta. Selain gemar menulis, penulis yang satu ini juga kerja sebagai perawat di Jepang. Cowok penulis ini mengikuti program ke Jepang yang diselenggarakan oleh universitas muhammadoyah malang, UMM sejak tahun 2019.
Tembus Jurnal Internasional, Hidajah Bagi Resep In-Silico Pada Dosen FIKES UMM

Sukses meneliti manfaat suatu senyawa melalui metode in-silico atau prediksi, ternyata menjadi salah satu alternatif bagi para dosen dalam melakukan penelitian yang tidak membutuhkan biaya besar. Berawal dari hal inilah Dr. Apt. Hidajah Rachmawati, S.Si, Sp, FRS, sharing penulisan jurnal in-silico pada sejumlah dosen program studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM), dalam tajuk Workshop In Silico Molecular Docking. Menurut Hidajah Rachmawati, in-silico adalah memprediksi interaksi senyawa obat (dengan protein target baik enzim maupun reseptor dalam suatu penelitian. Apakah senyawa ini mempunyai manfaat atau efek yang diinginkan. Seperti yang dilakukannya tentang betaglukan (beta-Glucan) apakah mempunyai potensi terhadap infeksi demam tifoid. Nah, jika hal ini diuji langsung pada (dengan uji) klinis membutuhkan biaya mahal dan waktu lama. Salah satu upaya adalah prediksi dengan molecular docking secara in silico. Agar dapat memprediksi manfaat ini, lanjut Hidajah-nama panggilan Hidajah Rachmawati-seorang peneliti harus mengetahui jalur senyawa itu berinteraksi di dalam tubuh manusia seperti interaksinya dengan reseptor dan ligan pada sel manusia. Sehingga metode prediksi ini akan mempermudah peneliti sebelum penelitian laboratorium maupun uji klinik. Ditegaskan Hidajah bahwa analisis in-silico ini merupakan awal prediksi apakah suatu senyawa itu mempunyai khasiat yang diinginkan. Supaya tidak mencoba-coba dengan sesuatu yang mahal. Karena sifatnya prediksi belum tentu seratus persen akurat, namun paling tidak melalui prediksi ini kemungkinan untuk berhasil menemukan senyawa baru lebih cepat. “Ini sangat membantu apakah penelitian ini dapat diteruskan untuk pengembangan. Alhamdulillah saya sangat terbantu dengan pendekatan in-silico ini hingga dapat mempublikasi dalam jurnal internasional dan Q3,” akunya.
FIKES UMM Gelar Pelatihan NVIVO dan Artificial Intelegence, Siap Publish Jurnal Internasional Bereputasi

Dalam rangka meningkatkan kemampuan akademis para dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan “Workshop Nvivo 12 Plus dan Artificial Intelegence (AI)”. Kegiatan ini diikuti sekitar 15 peserta yang terdiri atas pengelola jurnal di setiap program studi (Prodi). Acara yang diselenggarakan di aula kampus II UMM berlangsung dari tanggal 15-17 Juni 2020. “Tujuan kegiatan kali ini untuk menyakinkan para dosen bahwa kemampuan dalam menghasilkan karya ilmiah itu harus ditingkatkan, walaupun dalam keadaan sedang pandemi. Kami berharap workshop ini bisa membuat para dosen menjadi produktif,” ujar Dekan FIKES UMM Faqih Ruhyanudin, M.Kep, Sp.Kep. MB, pagi tadi. Menurut Faqih Ruhyanudin dalam sambutannya mengatakan workshop ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademis para dosen FIKES UMM dalam bidang karya ilmiah, karena saat ini masa pandemi covid19 dosen harus mampu menghasilkan karya ilmiah dalam bentuk jurnal, apalagi dengan adanya Nvivo 12 diyakini bisa membantu para dosen untuk menghasilkan jurnal nasional dan internasional. Bahkan, lanjut Faqih Ruhyanudin para dosen bisa mempublikasikan pada jurnal nasional dan internasional terindeks. Jika indikator tidak tercapai maka bisa merugikan FIKES dan bahkan UMM sendiri. Oleh sebab itu para dosen dari 3 prodi FIKES harus dapat menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal nasional maupun jurnal internasional yang tidak terindeks. Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Edy Purwantoro, mengungkapkan membuat karya ilmiah diharuskan ada sumber referensi, jadi untuk dosen sendiri tidak perlu bingung mencari referensi karena fakultas sudah menyediakan. Edy Purwantoro memberikan arahan kepada para peserta workshop agar dapat meningkatkan produktivitas, dan kualitas para dosen dalam hal membuat publikasi dalam jurnal ilmiah dengan menerapkan meta analisisnya. Itu sebabnya dosen FIKES UMM peserta workshop ini agar betul-betul dapat menstimulasi, memotivasi dan memfasilitasi dosen lainnya dalam menghasilkan karya ilmiah dan dapat dipublikasikan oleh jurnal yang dituju. Bukan itu saja, tambah Edy Purwantoro, dapat terjalin komunikasi antar dosen pembimbing ketika membuat karya ilmiah khususnya di lingkup FIKES. “Kami berharap sama seperti tujuan awal kami, dengan diadakannya acara ini membuat dosen menjadi produktif, kami ingin para dosen juga bisa membimbing mahasiswa membuahkan hasil karya ilmiah. Jika semua sudah mencapai target, ke depan kami akan adakan workshop penguatan lagi. Workshop ini menjawab permasalahan para dosen yang tidak kunjung produktif menghasilkan karya ilmiah di tengah pandemi,” akunya.