Gagasan SAPA KEMENLU Mahasiswa UMM Menangi LKTI Nasional

JARAK fisik di tengah pandemi Covid-19 menjadi keharusan bagi masyarakat untuk diterapkan. Tetapi, manusia terbiasa berkumpul bersama dan bekerja bersama. Akan menimbulkan kecemasan jika harus membatasi jarak meski dunia teknologi sudah memadai.

MALANG – RI, JARAK fisik di tengah pandemi Covid-19 menjadi keharusan bagi masyarakat untuk diterapkan. Tetapi, manusia terbiasa berkumpul bersama dan bekerja bersama. Akan menimbulkan kecemasan jika harus membatasi jarak meski dunia teknologi sudah memadai. Kecemasan, merupakan salah satu permasalahan kesehatan mental. Permasalahan kesehatan mental di tengah pandemi  akan menimbulkan beban kesehatan yang besar serta efek kesehatan yang sangat signifikan. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya formula khusus untuk mengentaskan problem kesehatan mental tersebut. Gagasan dari M. Dodik Prastiyo, Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan ini, memenangi ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional bertajuk “Problematika Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Berdasarkan Prespektif Islam” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (UNISBA), 19 September. Diajang Daring bernama Avicenna Medical Competition 2020 ini, Dodik mengusung gagasan SAPA KEMENLU atau Satuan Aksi Pelayanan Kesehatan Mental Keluarga yang merupakan implementasi yang diisyaratkan Al Quran tentang kesehatan mental. Yakni yang terjelaskan dalam surat Q.S Al Maidah [5] : 2 dan Al Hujurat [49]: 10 dan 13. Terdapat empat tahapan yang diajukan dalam gagasannya. Pertama, melakukan Edukasi kepada keluarga menggunakan media video dan booklet. “Penggunaan booklet di sini berfungsi sebagai Media Edukasi mengenai kesehatan mental dan manfaat melaksanakan terapi relaksasi. Keuntungannya yakni informasi yang disampaikan lebih terperinci dan jelas. Klien dapat menyesuaikan diri dalam belajar mandiri, mudah dibuat, diperbanyak, diberbaiki sesuai kebutuhan, bisa dibuat sederhana dengan biaya relatif murah, mudah dibawa dan dibaca kembali jika pembaca lupa dengan isinya,” terang Mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan ini. Setelah itu, penggunaan video tentang beberapa teknik relaksasi dapat memperjelas gambaran abstrak mengenai langkah-langkah teknik relaksasi. Selain membaca dan membayangkan, Keluarga dapat melihat secara langsung dan jelas tentang langkah-langkah teknik relaksasi melalui video tersebut. Dengan pemberian edukasi menggunakan kombinasi antara booklet dan video diharapkan Keluarga akan mampu memahami secara cepat bagaimana pelaksanaan teknik relaksasi. Kedua, pelatihan teknik relaksasi. Di tahap ini, Klien atau Keluarga diberikan pelatihan dengan pendekatan Roleplay bersama Anggota Keluarga yang lainnya. Pendekatan Metode Roleplay ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kemampuan Keluarga dalam diberikan pelatihan. “Metode Roleplay merupakan metode pembelajaran, dimana subjek diminta untuk berpura-pura menjadi seseorang dengan Profesi tertentu yang digeluti orang tersebut,” ungkapnya, Jum’at (9/10). Ketiga, pendampingan evaluasi kesehatan mental di Rumah. Pendampingan Keluarga oleh Perawat dalam perlakuan Manajemen Diri saat mengalami gangguan kesehatan mental selama satu bulan terakhir dilakukan satu bulan sekali. Ditujukkan dengan lembar persepsi aktivitas, informasi yang ada di dalam lembar persepi aktivitas meliputi nama, usia, tanggal dan hari dalam satu bulan, tanda gangguan kesehatan yang dialami, aktivitas yang dilakukan, riwayat konsumsi obat-obatan. Keempat, tahap konsultasi. Diterangkan Dodik, layanan konsultasi berguna bagi para Keluarga untuk menyampaikan keluhan-keluhan yang dirasa tidak bisa diatasi oleh teknik relaksasi yang sudah dilakukan. Konsultasi bisa dilakukan satu bulan sekali bersamaan dengan ketika pendampingan evaluasi. “Keluarga juga dapat melakukan konsultasi sedini mungkin dengan tenaga kesehatan yang bertugas jikalau dirasa perlu penanganan segera,” katanya melaui pesan WhatsApp. Gagasan tentang konsultasi ini, dilanjutkan Dodik, sejalan dengan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat menurut pandangan Al-Quran. Dimana Islam memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang individunya saling membutuhkan dan saling mendukung. Antara individu dan masyarakat mempunyai hubungan yang idealnya saling menguntungkan. “Prinsip tersebut adalah ukhuwwah, ta’awun dan persamaan derajat manusia,” pungkas Dodik.

Peluang dan Tantangan Perawat FIKES UMM dalam Masa Pandemik

Keperawatan FIKES UMM menyelenggarakan kuliah tamu yang ditujukan kepada MABA 2020/2021. Tema yang di usung adalah tentang bagaimana seoarang perawat menanggapi masa pandemik, apakah menjadi peluang dan apakah tantangannya.

Keperawatan FIKES UMM menyelenggarakan kuliah tamu yang ditujukan kepada MABA 2020/2021. Tema yang di usung adalah tentang bagaimana seoarang perawat menanggapi masa pandemik, apakah menjadi peluang dan apakah tantangannya. Kuliah tamu dihadiri oleh Hung-Yu, Chen, asal dari Taiwan dan juga Muhammad Muslih, dosen Fikes UMM yang sedang menempuh PhD saat ini. Menurut Bapak Muslih, begitu panggilan akrabnya,  tantangan terbesar perawat dalam menghadapi pandemik covid ini justru menjadi peluang untuk melakukan penelitian-penelitian terkait covid. Kita bisa memberikan andil besar dalam pencegahan dan pengobatan untuk covid, misalnya dengan meneliti beberapa tanaman herbal guna pengobatan covid. “Selain itu, tantangan perawat saat ini adalah bagaimana kita harus mendunia, yaitu dengan cara belajar maupun bekerja di luar negeri. Peluang untuk sekolah ke luar negeri sangatlah terbuka bagi seorang perawat karena banyak beasiswa yang disediakan untuk perawat. Selain itu, Peluang bekerja di luar negeri juga sangat terbuka lebar karena kebutuhannya sangat tinggi”Jelasnya Menurut, Hung-Yu, Chen, Tantangan untuk menjadi seroang perawat adalah bagaimana kita harus bekerja keras dalam belajar dasar-dasar medis, banyak belajar melalui buku, open minded dan juga belajar menanyakan dengan baik dalam mengkaji pasien serta harus menemui berbagai tipe orang (pasien) “Perawat di Taiwan tidak hanya bisa bekerja di Rs, namun juga bisa di pesawat, art therapist, clinical research associate maupun sebagai intruktur fitness.” “Seorang perawat harus bersikap open minded yakni, betul-betul tidak pernah merasa puas akan ilmu yang sudah mereka punya, harus tetap belajar dan tetap merasa haus akan ilmu baru”, katanya Kaprodi S1 Keperawatan, Nurlailatul Masruroh menambahkan bahwa UMM saat ini semakin menggencarkan kerjasama-kerjasama internasional misalnya, perancis, Portugal, Taiwan, Australia, ceko dan lain sebagainya, hal itu merupakan sebuah peuang kita untuk menjadi perawat internasional dan kampus internasional ke depannya. Hal ini selaras dengan visi UMM dalam 5 tahun ke depan ingin menjadi Universitas yang bertaraf internasional, tandasnya”

Mahasiswa FIKES UMM Menjadi Terbaik Ke-5 Se-Jatim dalam Ajang Pemilihan Duta Bahasa 2020

Mahasiswa FIKES UMM atas nama Dimas Setyadi Putra, Mahasiswa Farmasi UMM angkatan 2017 menjadi terbaik 5 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara tersebut di ikuti oleh 150 peserta se-Jawa Timur dari perguruna tinggi baik PTN dan PTS.

Mahasiswa FIKES UMM atas nama Dimas Setyadi Putra, Mahasiswa Farmasi UMM angkatan 2017 menjadi terbaik 5 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara tersebut di ikuti oleh 150 peserta se-Jawa Timur dari perguruna tinggi baik PTN dan PTS. Menurut Dimas, sapaan akrabnya mengatakan beberapa tahap telah saya lalui dari seleksi administrasi, seleksi 1, seleksi 2, hingga Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dan malam penganugrahan yang dilaksanakan di Aston Hotel Sidoarjo. “Pada kesempatan tersebut saya sangat didukung oleh Kemahasiswaan UMM dan Pembina Putra Putri Kampus UMM, Program Krida Kebahasaan yang saya bawakan untuk lomba sejalan dengan kelompok 16 gelombang 4 PMM saya dengan judul “Mimpiku, Masa depanku” guna menjalankan SDG’s No. 4 terkait Quality Education yang di canangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB” jelasnya “pada kegiatan tersebut saya juga bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pembentukan karakter bangsa melalui penciptaan pojok literasi/KPK Corner, dari serangkaian kegiatan tersebut saya berhasil mendapatkan predikat tingkat II (Sangat Unggul) pada UKBI dan terbaik 5 pada pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur 2020” tambahnya Menurut Dimas, persiapan yang dilakukan sangatlah banyak, ketika proses administrasi saya menyiapkan berkas2 pendaftaran meliputi formulir pendaftaran, CV, dan juga salinan sertifikat-sertifikat. Foto penghargaan “Untuk seleksi 1 saya menyiapkan belajar berupa latihan menulis esai dan juga berlatih soal-soal bahasa indonesia. Untuk sekeksi 2 saya berlatih wawancara seputar Tri Gatra Bangun Bahasa dengan mengutamakan bahasa indonesia, melestraikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing, saya sebagai semifinalis juga diwajibkan membuat Karya Tulis Ilmiah Krida Kebahasaan untuk pengabdian kepada masyarakat terkait Literasi” tambahnya “Pada saat malam penganugrahan saya belajar terkait soal-soal UKBI dengan berpacu pada literatur Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dari Kemendikbud. Tentunya saya juga berlatih dasar-dasar dari seorang duta beruba 3B yakni Brain,Beauty and Behavior” jelasnya dari pemuda usia 22 tahun itu.

Menjadi Aktivis Bukan Menjadi Halangan Untuk Memperoleh IPK Predikat Sangat Puas

Menjadi aktivis dan juga berprestasi dalam akademik merupakan idaman semua mahasiswa. Seperti yang dialami oleh Frizal Wiratama, Mahasiswa lulusan S1 Farmasi FIkes UMM ini.

Menjadi aktivis dan juga berprestasi dalam akademik merupakan idaman semua mahasiswa. Seperti yang dialami oleh Frizal Wiratama, Mahasiswa lulusan S1 Farmasi FIkes UMM ini. Dia berkecimpung menjadi aktivis diberbagai organisasi intra dan ektra mahasiswa dan juga memperoleh predikat sangat Puas dalam akademiknya. Frizal, begitu disapanya menjelaskan “Sebagai mahasiswa, kuliah tentunya menjadi aktivitas yang setiap hari dijalankan, apalagi mahasiswa kesehatan khusunya farmasi, pasti tidak asing dengan yang namanya praktikum seharian dan laporan yang bertumpuk membuat pusing kalau dibayangkan. Semua itu pasti akan terasa berat apabila bila dikerjakan tidak sepenuh hati, tapi kalau dipikir yang rugi siapa kalau bukan kita sendiri. “Selain perkuliahan aku mulai mengenal organisasi, awalnya aku berpikir pasti hanya akan membuang waktu saja karena sibuk dengan banyak kegiatan, tapi di masyarakat kini tentu tidak melulu kita berbicara tentang akademik saja.  Keraguan terjun dalam organisasi sempat bergejolak dalam benak karena takut tidak bisa membagi waktu, tapi semua itu ternyata salah karena pada saat terjun dalam dunia organisasi HIMFA Paracelsus justru banyak manfaat yang bisa dirasakan seperti halnya menambah relasi sampai bisa diterima sebagai aslab selama 4 semester berturut-turut, dapat mengatur waktu, dan dapat memupuk jiwa kepemimpinan”, tambahnya Afrizal juga melanjutkan ceritanya bahwa “Setelah dari himpunan rasa berorganisasi menjadi candu, Akhirnya berlanjutlah cerita organisasi ini di tingkat Senat Fakultas Ilmu Kesehatan menjadi ketua umum, disinilah tanggung jawab yang besar telihat di depan mata. Management waktu adalah hal penting yang harus diperhatikan karena bisa jadi boomerang kalau kita hanya terlena dunia organisasi saja maka tanamkan bahwa semua adalah tanggung jawab yang sama dan pilihan dari diri kita sendiri dengan begitu semua akan berjalan beriringan dan terbukti tetap bisa lulus tepat pada waktunya”jelasnya “Pengalaman baru juga dirasakan pada saat wisuda karena prosesi dilakukan pada masa pandemi seperti ini, pandemi covid 19 sudah ini tentu suatu hal yang dicemaskan oleh semua masyarakat, tapi UMM tidak berhenti berupaya memberikan yang terbaik untuk semua. Wisuda tetap digelar secara luring namun dengan prokol covid yang ketat seperti pembatasan peserta dan undangan dengan pembagian 3 hari untuk pelaksanaan wisuda. Hebatnya wisuda kali ini tetap dapat berjalan baik dengan semangat yang sama dari semua wisudawan yang lulus periode ini. Pesan untuk teman-teman semua yang mau berorganisasi “Jadikan kuliahmu yang pertama dan organisasi yang  utama” yakin semua akan selesai dengan istiqomah” tandasnya Ibu ,apt. Dian Ermawati, M.Farm, selaku Kaprodi S1 Farmasi mengatakan, Afrizal dikenal anak yang sangat rajin bahkan pernah jadi Asisten Lab dari semester 4 sampai semester 8, dan juga sangat aktif sekali dalam berorganisasi, namun prestasi akademiknya juga bagus. Ini bisa menjadi suri tauladan bagi adik-adik tingkatnya kelak, agar organisasi bukan sebuah alasan untuk tidak berprestasi dalam bidang akademik juga. Serta tak lupa kami ucapkan selamat wisuda bagi mahasiswa FIKES. Jelasnya.

Untuk Kesekian Kalinya, Mahasiswa Ners FIKES UMM Lulus UKNI 100%

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih kelulusan UKOM (Uji Kompetensi) 100% pada periode UKOM Juli 2020. Ini merupakan prestasi yang kesekian kalinya didapatkan oleh Prodi Ners FIKES UMM.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih kelulusan UKOM (Uji Kompetensi) 100% pada periode UKOM Juli 2020. Ini merupakan prestasi yang kesekian kalinya didapatkan oleh Prodi Ners FIKES UMM. Terdapat 50 mahasiswa yang mengikuti UKOM pada periode tersebut dan semunya dinyatakan “kompeten” secara nasional Ririn Harini, M. Kep, Selaku Kaprodi Ners mengatakan keberhasilan prodi ini tidak luput dari kerjasama berbagai pihak. Dimulai dari pimpinan fakultas, prodi, dosen keperawatan maupun clinical instructure dari rumah sakit (RS) yang telah membimbing mahasiswa selama praktik profesi Ners karena kualitas proses pembelajaran di wahana praktik turut menunjang keberhasilan mahasiswa dalam kelulusan UKOM. Oleh karena itu, Prodi Ners juga melakukan seleksi RS yang digunakan praktik. “Keberhasilan ini juga tidak lepas dari persiapan-persiapan yang dilakukan secara matang. Prodi memberikan mahasiswa buku sinersi sejak awal profesi, pembahasan soal UKOM yang dibimbing langsung oleh Dosen Keperawatan, dan yang terkahir adalah dengan mengadakan try out internal  sebanyak enam sampai delapan kali secara daring” tambahnya. Nur Aini, M. Kep., selaku sekprodi ners menambahkan mahasiswa juga kita wajibkan mengikuti try out yang dilaksanakan AIPNI pusat, AIPNI regional maupun oleh AIPNEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Muhammadiyah Aisyiyah). Soal yang diujicobakan secara internal berjumlah 180 buah. Soal-soal tersebut telah disesuaikan dengan kompetensi Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI). Selain itu, selama pembelajaran Profesi Ners yang berlangsung 2 semester, mahasiswa harus mengikuti final exam yang diadakan oleh setiap departemen. Hal itu menambah wawasan mahasiswa bertambah. “Total ada 9 departemen dan soal-soal yang diujikan dalam final exam menggunakan tipe soal vignete sebagaimana pada UKOM. Sehingga mahasiswa sejak awal sudah terlatih. Seringnya berlatih mengerjakan soal, maka akan menambah pemahaman mahasiswa dan  tentu saja semua program ini sangat membantu mereka dalam kelulusan UKOM” jelasnya. Dekan FIKES UMM, Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep. MB menyatakan bahwa kami sangat mendukung program-program yang di canangkan oleh prodi karena program-program tersebut terbukti berhasil membawa anak didik kami dalam 3 tahun ini selalu lulus 100% UKOM Nasional, bahkan kami berada di urutan nomer 2 terbanyak lulus se Jawa Timur PTN dan PTS.

Mahasiswa PMM FIKES UMM Ciptakan Handsanitizer Alami

Mahasiswa Fikes UMM ciptakan hand sanitizer alami. hand sanitizer tersebut diciptakan dari bahan-bahan alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kelompok PMM tersebut digawangi oleh Melisa Nur Diniah, Azizah Chairani, Siti Nuraini, Rimbha Putri Lestari dan Nur Insani Ernas. Ke liima anak itu adalah anak Jurusan Farmasi Fikes UMM. 

Mahasiswa Fikes UMM ciptakan hand sanitizer alami. hand sanitizer tersebut diciptakan dari bahan-bahan alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kelompok PMM tersebut digawangi oleh Melisa Nur Diniah, Azizah Chairani, Siti Nuraini, Rimbha Putri Lestari dan Nur Insani Ernas. Ke liima anak itu adalah anak Jurusan Farmasi Fikes UMM. Melisa, sebagai ketua kelompok mengatakan awalnya hand sanitizer yang ingin kami bagikan ke masyarakat itu hand sanitizer yang pada umumnya dijual diapotek. tapi setelah kami survey harga ke beberapa tempat, harga hand sanitizer masih cukup tinggi, sehingga kami sempat berdiskusi bagaimana jika kita buat saja, dengan kiblat formulasi hand sanitizer dari WHO. Kami kembali mensurvey harga serta formulasi yang mau digunakan, dan benar pembuatan sendiri memnag jauh lebih murah. Namun, kami lagi-lagi terbatas dengan alat ukur standart yang harus kami gunakan untuk pembuatan hand sanitizer dengan bahan kimia seperti alkohol 70%, gliserin, aquadest. “Setelah beberapa kali diskusi lalu kami memutuskan untuk membuat hand sanitizer alami dari daun sirih dan jeruk nipis. Bahan untuk pembuatan hand sanitizer alami, sangat mudah untuk ditemukan hanya berbahan dasar daun sirih, jeruk nipis, dan aquadest/air biasa”, jelasnya “Daun sirih memiliki kandungan saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Senyawa fenol yang terkandung dalam minyak atsiri daun sirih bersifat antimikroba dan antijamur yang kuat dan efektif menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri. Dari beberapa jurnal penelitian juga disebutkan bahwa daun sirih dikenal sebagai antiseptic yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga mampu membunuh kuman penyakit, dikatakan bahwa ekstrak daun sirih sebesar 15%  setara dengan alkohol 70%. Namun, penggunaan daun sirih pun mempunyai kekurangan yaitu mudah teroksidasi. Sehingga untuk memperlambat proses oksidasi tersebut, dipilhlah air jeruk nipis sebagai pengawet alami yang kaya akan antioksidan. Pemilihan pemakaian hand sanitizer alami juga menjadi salah satu solusi untuk orang yang memiliki hipersensitif terhadap bahan kimia yang terdapat dalam hand sanitizer umunya, seperti alkohol 70% atau 96%”, tambahnya. Azizah, juga menambahkan bahwa untuk membuat 100 ml hand sanitizer alami diperlukan 40 ml ekstrak daun sirih, 5-10 ml air jeruk nipis, dan aquadest ad 100ml. Proses pertama yang harus dilakukan adalah membuat ekstrak daun sirih terlebih dahulu. Cukup dengan mensteam/mengkukus daun sirih sebanyak 50g yang sudah dipotong kecil-kecil lalu direndam dengan air panas 200ml. rendaman tersebutlah yang akan dikukus selama kurang lebih 30 menit. Setelah 30 menit diamkan hingga dingin, lalu disaring untuk memisahkan ekstrak cair dengan daun sirihnya. “Kemudian diukur sebanyak 40 ml, lalu ditambahkan dengan air perasan jeruk nipis sebanyak 8ml, diaduk hingga rata lalu yang terkhir ditambahkan aquadest sebanyak 52ml, diaduk kembali hingga rata. Setelah tercampur rata dilakukan penyaringan sebanyak 2-3 kali, kami menyarankan dalam tahap penyaringan ini, alat saring ditambahkan dengan kain atau kasa hidrofil agar kotorana yang tersaring dapat tersaring secara maksimal. Untuk mendapatkan hasil hand sanitizer yang jernih memang diperlukan penyaringan menggunakan kertas saring whatman” jelasnya. Rimbha, juga menjelaskan bahwa Hand sanitizier alami yang kami buat setelah kami uji coba dapat bertahan sekitar 10-14 hari. Hand sanitizer daun sirih tidak dapat digunakan lagi jika mulai terjadi perubahan warna yang lebih pekat dari hasil awal, adanya endapan menggumpal dibagian bawah dengan warna yang lebih gelap dari cairan dibagian atasnya, dan bau yang tengik tidak sesegar saat pertama kali dibuat. “Pemilihan bahan daun sirih sendiri kami pilih, yang pertama untuk memanfaatkan tanaman TOGA yang mudah dijumpai, jika membeli pun harganya sangat murah, dan memberikan solusi kepada ibu-ibu rumah tangga dalam hal menghemat keuangan dalam masa pandemic saat ini yang menyebabkan kelangkaan dan mahalnya harga hand sanitizer. Kami juga menyarankan dalam membuat hand sanitizer ini baiknya dalam jumlah kecil saja yang sekiranya cukup untuk pemakaian 1-2 minggu dan tidak untuk diperjual belikan” tambahnya.

Olahraga Dapat Mencegah Atropi pada Otot dan Juga COVID-19

Orasi yang disampaikan oleh ibu Aini, dosen fisioterapi dalam acara yudisium FIKES UMM periode 3 mengambil tema tentang Pentingnya olah raga bagi kesehatan tubuh tak bisa dielakkan lagi.

Orasi yang disampaikan oleh ibu Aini, dosen fisioterapi dalam acara yudisium FIKES UMM periode 3 mengambil tema tentang Pentingnya olah raga bagi kesehatan tubuh tak bisa dielakkan lagi. Dengan berolah raga, tubuh kita bisa fit dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita. Yudisium kali ini menggunakan pendekatan dua metode, ada sebagian yang daring dan luring. Daring dilakukan melalui zoom meeting dan youtube live streaming. Ibu Aini mengatakan, orang jika tidak rajin olah raga atau malas bergerak dapat meningkatkan resiko diabetes dan penyakit jantung. jika tubuh kita selama 2 minggu tidak beraktivitas dapat mengakibatkan berbagai hal buruk seperti, penurunan fungsi jantung dan pernafasan, penurunan kerja hormon insulin, penurunan kekuatan otot bahkan dapat mengakibatkan depresi dan gangguan emosi. “aktivitas fisik sangatlah bermanfaat bagi tubuh, diantaranya dapat meningkatkan kekuatan otot pernafasan sehingga tidak mudah terserang covid-19 dan juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita, yang berfungsi untuk melawan virus covid-19” jelasnya. “aktivitas fisik yang dianjurkan selama kita lock down di rumah diantaranya melakukan olah raga lewat kelas online, menari dengan diiringi musik, main video game yang membutuhkan pergerakan fisik dan juga bisa lompat tali” Prof Nursalam, Ketua PPNI Jatim, selaku tamu undangan yudisium, menambahkan bahwa aktivitas fisik dibutuhkan agar kondisi tubuh kita selalu terjaga sehingga tidak mudah terserang penyakit, utamanya saat ini adalah covid-19.

FIKES UMM Dorong Percepatan Kepangkatan

FIKES UMM mendorong dalam percepatan kepangkatan, mulai dari asisten ahli smpai ke lektor kepala. Dorongan tersebut dilakukan dengan cara melakukan pembimbingan secara langsung dan dosen harus sudah menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan. 

FIKES UMM mendorong dalam percepatan kepangkatan, mulai dari asisten ahli smpai ke lektor kepala. Dorongan tersebut dilakukan dengan cara melakukan pembimbingan secara langsung dan dosen harus sudah menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan. Bapak Sobrun Jamil, Selaku Wadek 2 mengatakan FIKES memiliki potensi yang cukup besar menyumbang SDMnya (Dosen) yang memiliki kepangkatan ke universitas. hal ini berguna sekali dalam proses akreditasi dan perangkingan universitas. Saat ini, FIKES UMM sudah memiliki 4 lektor kepala dan 5 lektor dan yang lain asisten ahli. “saat ini kami masih fokus dalam percepatan kepangkatan bagi dosen yang masih tenaga pengajar, namun sebulan lagi akan ada pemantapan lagi bagu dosen-dosen yang ingin meningkatkan jabatan fungsionalnya menuju lektor dan kepala lektor”, tambahnya. Bapak Sidik, Wakil Rektor IV, menambahkan jabatan fungsional atau jabfung ini sangatlah penting, ibarat jika mengemudi kendaraan, maka Jabfung itu seperti SIM. sehingga, jika dosen tidak punya SIM maka dapat ditilang atau dapat peringatan dari DIKTI. Oleh sebab itu, UMM sangat mendukung sekali program yang dicanangkan oleh FIKES UMM dalam mempercepat pengurusan kepangakatan bagi dosen-dosennya. PROSES BIMBINGAN DAN PENGARAHAN JABFUNG Faqih Ruhayanudin, Dekan FIkes UMM, menambahkan Jabfung yang cukup mumpuni dapat menambah kepercayaan masyarakat kepada FIKES UMM untuk menyekolahkan anak-anak mereka disini, karena dipandang kualified dalam pengajarannya. Selain itu, Dosen Fikes UMM sangatlah tinggi dalam publikasi jurnal internasionalnya, sehingga sebetulnya tidak ada alasan bagi dosen kita untuk tidak menjadi profesor nantinya.

Mahasiswa FIKES UMM Mengelola Ikan Tuna Menjadi Frozen Food Siap Saji

Mahasiswa FIkes UMM melakukan pengabdian masyarakat dengan cara berbagi info dalam mengelolaan ikan tuna di Maluku. Ikan tersebut diperuntukkan untuk dapat dikonsumsi secara cepat dengan cara di bekukan.

Mahasiswa FIkes UMM melakukan pengabdian masyarakat dengan cara berbagi info dalam mengelolaan ikan tuna di Maluku. Ikan tersebut diperuntukkan untuk dapat dikonsumsi secara cepat dengan cara di bekukan. Yunita Maulaningsih, perwakilan dari mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2017, menyatakan jika saat ini sedang melaksanakan Kegiatan KKN_PMM di desa Babang kec. Bacan Timur Kab. Halmahera Selatan Maluku Utara. Disini saya hanya Individu dalam melakukan kegiatan tersebut maka dari itu dengan adanya dukungan dari pihak desa setempat dan masyarakat sehingga muncul ide baru untuk memanfaat hasil Laut yang ada, jelasnya “Di Maluku utara tepatnya di Kabupaten Halmahera selatan hasil laut ikan tuna dan cakalan sangat berlimpah bahkan sampai di ekspor ke eropa. Namun masyarakat setempat hanya memanfaatkan ikan sebagai lauk makan sehari hari. Masyarakat belum begitu paham dengan pengolahan ikan tuna sebagai makanan siap saji yang tanpa bahan pengawet dan bisa dibuat sendiri itu bagaimana. Maka dari itu memulai dengan hal2 kecil yang mungkin bisa diperkenalkan di masyarakat dengan adanya pemberdayaan ke masyarakat saat ini”, tambahnya. Sulastri, yang juga anggota kelompok menambahkan bahwa menurutnya salah satu ikan yang menjadi primadona disana adalah ikan tuna. Ikan tuna dan cakalang/tongkol dijadikan komoditas makanan yang sehat karena memiliki kandungan protein dan omega 3 yang sangat tinggi. selain itu, Daerah Bacan ikan tuna tongkol diakui kesegarannya karena setiap hari selalu ada nalayan yang pergi memancing dilaut berhari hari dari hasil pancing itulah pihak perusahan mengolah dan menjadikan olahan tersebut untuk siap diekspor keluar negeri” Jelasnya.

Mahasiswa FIKES UMM Berikan Paket New Normal KIT pada Warga untuk Pencegahan COVID-19

Mahasiswa FIKES UMM melakukan pengabdian masyarakat lewat program Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat atau yang disebut dengan PPM. program ini merupakan kegiatan intrakurikuler wajib yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Mahasiswa FIKES UMM melakukan pengabdian masyarakat lewat program Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat atau yang disebut dengan PPM. program ini merupakan kegiatan intrakurikuler wajib yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Menurut Dinda, Mahasiswa FIKES UMM angkatan 2017, yang juga anggota Kelompok PMM 56 Gelombang 5. Kegiatan PMM kelompok kami ini, dilakukan di RT. 32 Kelurahan Damai Kota Balikpapan yaitu dengan membentuk Kampung Damai Siaga Covid-19. Salah satu kegiatannya yaitu melakukan penyuluhan door-to-door dikarenakan tidak memungkinkan untuk melakukan penyuluhan dengan mengumpulkan warga di satu tempat. “Penyuluhan yang dilakukan menekankan pada protokol kesehatan yang berlaku selama new normal di masa pandemi sekarang. Seperti penggunaan masker yang baik dan benar, cara membersihkan masker reusable , fakta dan mitos yang bisa menjadi hoax tentang covid-19 yang masih marak tersebar di media sosial’, Jelasnya Sulastri juga menambahkan bahwa “Kami mendapat dukungan penuh dari ketua RT setempat dikarenakan masih banyaknya warga yang tidak menggunakan masker saat keluar rumah dan tidak melakukan jaga jarak. Dan kami juga memberikan paket new normal kit yg berisi 2 masker, handsanitizer dan vitamin c kepada warga yg sudah mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan informasi dari kami, selain itu pemberian paket new normal ini di harapkan dapat memfasilitasi masyarakat RT.32 ( Kampung Damai Siaga Covid-19 ) agar lebih siap menghadapi new normal. Sunardi, Selaku Wadek 3 mengatakan, program pencegahan penyebaran covid-19 di kegiatan PMM merupakan perwujudan UMM dalam program penanggulanagan covid-19 dan support pada pemerintah. Pencegahan yang terbaik adalah dengan cara meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga protokol yang dicanangkan oleh pemerintah dan WHO. Jelasnya.