Prodi Ners FIKES UMM, Meraih Kelulusan UKOM 100%

Program Studi Ners FIKES UMM menorehkan prestasi kembali, dengan menyabet lulus 100% dalam uji kompetensi perawat nasional (UKOM). Kelulusan 100% tersebut pada uji kompetensi periode November 2021. Angkatan Ners yang mengikuti UKOM tersebut adalah Ners 22. Anggraini Dwi Kurnia, MNS, Kaprodi Ners, mengatakan bahwa banyak upaya yang dilakukan prodi dalam keberhasilan tersebut. Salah satunya adalah membentuk Pansus (panitia khusus) untuk menggembleng adik-adik mahasiswa dengan soal-soal yang mendekati soal UKOMNAS. “Saya kira itu efektif sekali memperkenalkan secara dini soal-soal kepada mahasiswa. Kita memiliki bank soal yang dihimpun dari seluruh dosen keperawatan” “Selain itu, kadang prodi mengadakan pertemuan lewat google meet untuk memberikan motivasi dan evaluasi dari hasil bimbingan persiapan UKOM. Selanjutnya, Prodi juga mengarahkan agar mahasiswa ikut Try out, baik internal ataupun eksternal. Terkadang juga, harus telepon personal, khususnya yang retaker, guna menggali masalah mereka dan memotivasinya”, katanya. “Kami juga berterima kasih kepada keterlibatan semua pihak khususnya terbantu oleh Pansos. Akhir kata, Kami bangga pada mahasiswa yang juga sudah berjuang. Harapan kedepannya bisa dipertahankan dan semakin baik dan baik lagi” tambahnya. Dr Yoyok Bekti Prasetyo, Selaku Dekan FIKES UMM, mengatakan bahwa capain kelulusan 100% ini, merupakan bentuk nikmat dari Allah SWT kepada UMM, dan kali ini dari prodi ners FIKES UMM. Wajib disyukuri atas nikmat ini. “tentu saja nikmat ini tidak datang begitu saja, kerja keras yang ikhlas. Dan juga, diperlukan persiapan yang matang oleh seluruh pihak, dari admin, tim IT, dosen, pimpinan prodi, doa yang khusuk, sehingga melahirkan prestasi ini” “terima kasih juga kami sampaikan pada Rektor UMM atas dukungan kebijakan, dan kesempatan yang diberikan pada FIKES”, katanya. Bapak Yoyok, nama panggilan akrab beliau, menambahkan bahwa capaian ini adalah yang kesekian kalinya. Sehingga, hal ini menjadi tradisi yang baik. “Ini menunjukkan bahwa Prodi Ners FIKES UMM memiliki quality control yg sangat baik. Dan ini sesuai capaian akreditasi “A” prodi S1 keperawatan dan Ners” tandasnya. Miska, ketua kelas ners 22, salah satu mahasiswa yang lulus 100% UKOM, mengatakan hari ini merupakan hari yang luar biasa, saya mewakili teman-teman ners angkatan 22 sangat terharu atas pencapaian ini. “tidak lupa kami ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada bapak/ibu dosen yang telah membimbing kami selama ini. Ini merupakan awal yang baik untuk kedepannya, tentu banyak hal yang kami siapkan sebelum UKNI, mulai dari pembahasan soal-soal ukom sebelumnya, serta persiapan mental dalam menghadapi 180 soal, tentu ini sesuai dengan slogan UMM PASTI, yaitu pasti lulus tepat waktu, bekerja, serta mandiri. Kami bangga menjadi keluarga besar UMM” ucapnya. (editor:zq)
FIKES UMM Meluluskan Fisioterapis Pertama Di Provinsi Jawa Timur

Sumpah Profesi Fisioterapis pertama yang dilaksanakan di Jawa Timur. Sumpah Profesi Fisioterapis ini juga merupakan angkatan pertama bagi prodi pendidikan fisioterapis di FIKES UMM. Prosesi ini dihadiri oleh Ketua Kolegium Fisioterapis Indonesia, Wasekjen I PERFI Pusat, Wakil Rektor I UMM, Dekan Fakultas Kesehatan dan Jajaran Prodi Fisioterapis. Sumpah tersebut dilaksanakan di Aula Kampus 2 UMM (14 Desember 2021). Bapak Wahyu Kurniawan, SST. FT., Ftr, Selaku Wasekjen I PERFI Pusat, sangat terharu atas pencapain yang diperoleh oleh Prodi Fisioterapis FIKES UMM. Angkatan ini merupakan angkatan pemecah telor, berhasil meluluskan fisioterapi yang berkualifikasikan profesi di Jawa Timur. “Hal ini juga berkesesuain dengan jargon fisioterapis, menuju fisioterapis yang berkemajuan. Jargon itu juga cocok dengan jargon Muhammadiyah, Islam berkemajuan”, tambahnya. Pendidikan profesi merupakan sebuah proses yang berkelanjutan karena merupakan pengetahuan yang luas dan dalam. Perlu adanya pendewasaan dalam ilmu pengetahuan. Harapanny dapat melahirkan fisioterapis yang mampu berpikir kritis, problem solving, kemampuan berkoordinasi, kemampuan emosional, pengambilan keputusan, berorientasi pelayanan dan adaptif, katanya. Ibu Francisca Xaveria Hargia, Selaku Ketua Kolegium Fisioterapis Indonesia menambahkan bahwa lulusan fisioterapis ini disarankan untuk segera mengurus SIP agar dapat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, utamanya dibidang fisioterapi. Disamping itu, Anda dapat membuka praktik secara mandiri. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp. Kom, Dekan FIKES UMM mengatakan bahwa adik-adik lulusan fisioterapis FIKES UMM ini sudah mampu mencuri perhatian masyarakat. Hal ini disebabkan adik-adik yang baru saja disumpah ini sudah banyak yang terserap di dunia kerja, baik rumah sakit maupun klinik. Berarti ini menunjukkan bahwa lulusan fisioterapis kita dipercaya oleh masyarakat. Prof, Dr. Syamsul Arifin, MSI, Wakil Rektor I juga menyatakan bahwa banyaknya minat masyarakat pada luluisan fisioterapis FIKES UMM, membuktikan bahwa lulusan ini memiliki kompetensi. Alih-alih hal ini bisa sebagai sarana untuk magang dan memperkuat skill sebelum disumpah. (editor: Zq)
FIKES UMM Berkolaborasi Riset dan Pertukaran Dosen dengan 2 Universitas Luar Negeri

FIKES UMM melakukan komunikasi dan rapat tertutup dengan 3 universitas di luar negeri. Rapat tersebut dilakukan secara daring. Ketiga negara tersebut diwakili oleh Professor Joshua (yonsei university, Korea Selatan), Professor Rumpa (Srinakharinwirot University, Thailand) dan Rakhmad Rosadi MPT (vice dean Fikes UMM). Rahmad Rosadi mengakatan bahwa hasil dari rapat tertutup tersebut menghasilkan beberapa kesepatan diantara, (1) research collaboration (robotic assisted, neuro rehabilitation, pediatric management), (2) staff exchange between 3 universities dan (3) workshop (practitioners, faculty member, student). Kegiatan ini akan di inisiasi bulan januari tahun 2022. “Kegiatan ini merupakan upaya kita dalam melebarkan sayap kerjasama internasional, tidak hanya berupa MOU tapi upaya kegiatan yang dilakukan. Hal ini juga merupakan tonggak estafet yang di amanahkan universitas pada kita untuk menggenjot kegiatan internasionalisasi” tandasnya. “Kedepannya jangan kaget jika di FIKES UMM ada staff pengajar dari Universitas Luar negeri. Walaupun, Kami saat ini masih berkomunikasi di 2 Universitas luar negeri tersebut. Kedepannya, FIKES akan lebih berekspansi lagi ke Eropa dan USA” tambahnya. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp. Kom menambahkan bahwa hal ini berupakan kabar gembira buat kami khususnya FIKES UMM. Kami sangat mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang berbau internasionalisasi. Oleh sebab itu, kami merancang anggaran dalam upaya ekspansi internasionalisasi tidak main-main. Rancangan ini akan kami publikasi kepada seluruh tim FIKES dan juga seluruh jajaran dosen pada rapat kerja Januari tahun 2022. (editor: Zq)
FIKES dan FISIP UMM, Menggagas Ide Membentuk Lembaga Tobacco Center, Di Malang

Inisiasi pertemuan antara pimpinan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM yakni, membentuk tobacco center. Rapat terbatas tersebut dilakukan di ruang rapat dekan FIKES UMM. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Dr. Frida Kusumastuti, M.Si, selaku penggagas ide tobacco center, dan Salahudin, M.Si., M.P.A, selaku wakil dekan I FISIP UMM, sebagai wakil dari FISIP yang menghadiri. Sedangkan, FIKES diwakili oleh Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, Selaku Dekan FIKES UMM; Henny Dwi Susanti, M.Kep., Sp.Kep.Mat, PhD, selaku wakil dekan I dan Apt. Nailis Syifa’ S.Farm, M.Sc, Selaku Wakil Dean II. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan upaya yang strategis, Dimana adanya penyatuan dua fakultas untuk bekerjasama dalam pengendalian tembako di masyarakat kampus dan masyarakat secara umum. Upaya Kerjasama Multidisipliner ini diharapkan dapat membentuk Lembaga sentral dalam yang bersinergi dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. Kegiatan Tridarma tersebut juga dapat melibatkan mahasiswa kita, sehingga bisa dapat bebas KKN dan skripsi, tambahnya. Salahudin, M.Si., M.P.A, menambahkan bahwa gagasan ini juga bisa dikatakan sejalan dengan visi UMM, sebagai centre of excellent. Artinya kegiatan semacam ini, bisa menjadi salah satu Lembaga strategis dari universitas, yang pusat kerjanya sebagai pengendalian tembakau, yang dapat digali dalam lingkup sosial politik dan kesehatan. Selain itu, hasil-hasil penelitian dan pengabdian dari Lembaga ini, diharapkan dapat dipublikasikan baik skala nasional dan lebih-lebih internasional yang terindeks scopus, tandasnya. Selanjutnya, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si, mengatakan bahwa pusat pengendalian tembakau ini jangkauannya adalah Kerjasama internasional. bahkan menurut Ibu Frida, begitu sapaan akrabnya, mengatakan studi-studi kita dalam pengendalian tembako ini sudah bekerjasama dengan Universitas Sidney, Australia. Sehingga, kran untuk Kerjasama internasional antar universitas sangat terbuka lebar, yang juga menguntungkan bagi FIKES UMM dan FISIP UMM, serta juga UMM.
Pakar Fisioterapi UMM Jelaskan Fenomena Popping Sendi

Ketika mengalami kelelahan, beberapa orang melakukan perenggangan dengan membunyikan sendi-sendi di jari tangan ataupun leher. Pada istilah medis proses peregangan yang menghasilkan bunyi itu disebut dengan istilah kavitasi. Sementara bunyi ‘krek’ yang dihasilkan saat perenggangan biasa disebut dengan popping. Dosen fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zidni Imanurrohmah Lubis menjelaskan, bunyi yang dihasilkan saat proses peregangan merupakan hasil dari kompresi di dalam sendi. Kompresi tersebut menyebabkan pelepasan atau letupan gelembung nitrogen di cairan antarsendi. “Cairan antarsendi berfungsi sebagai pelumas,” ujar Zidni. Menurut Zidni, antarsendi biasanya memiliki kadar nitrogen yang berbeda sehingga ada saatnya proses kavitasi tidak menghasilkan bunyi popping. Sebagian orang biasanya melakukan kavitasi karena merasa senang atau lega dengan bunyi popping yang dihasilkan. Apalagi saat berada di posisi yang sama dalam waktu yang lama sehingga mavitasi seringkali jadi pilihan masyarakat. Saat ini, kata Zidni, belum ada bukti ilmiah bahwa proses kavitasi berkorelasi negatif maupun positif terhadap tubuh. “Asal tidak melakukan peregangan secara berlebihan, kavitasi ini tergolong aman untuk dilakukan,” jelasnya. Menurut Zidni, proses kavitasi umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau nyeri. Apabila pada proses tersebut diikuti dengan rasa nyeri ataupun sakit di persendian, dia menyarankan untuk segera periksa ke rumah sakit (RS) maupun fisioterapis. Meskipun cukup aman dilakukan, ada beberapa kasus di mana kavitasi bukan menjadi solusi utama. Kasus-kasus tersebut yaitu saat berada dalam kondisi kelelahan. Kondisi ini biasanya otot terasa kaku maupun gerak sendi yang terbatas. “Adapula kondisi ketika otot-otot masih terasa nyeri,” jelas dosen asli Malang tersebut. Dibanding melakukan kavitasi, lebih baik melakukan stretching. Penguluran otot tersebut dapat dilakukan dengan menahan posisi stretching selama 20 hingga 30 detik agar pengulurannya optimal. Cara ini bisa memberikan rasa lega seperti yang dirasakan saat melakukan kavitasi. Masyarakat bisa pergi ke fisioterapi ketika ingin melakukan kavitasi secara profesional. “Meskipun proses kavitasi dan suara ‘popping’ bukan tujuan utama penanganan, fisioterapis memiliki kompetensi dalam mobilisasi sendi manual. Oleh sebab itu, akan lebih aman karena dilakukan bersama orang yang tahu dan paham terkait hal itu.
Bahas Penanganan Limbah Medis, Mahasiswa FIKES UMM Juara Esai

Penggunaan masker di masa pandemi menyebabkan naiknya angka limbah B3. Melihat hal itu, mahasiswa Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dinda Putri Savira memberikan terobosan melalui tulisan esainya. Perempuan disapa Dinda ini menulis rancangan aplikasi dengan sistem informasi manajemen pengelolaan sampah medis dan rumah tangga. Esai tersebut berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi nasional Public Health Student Affair 2021 yang dilaksanakan Universitas Sriwijawa. Berdasarkan data laporan dari Dinas Kesehatan dan Lingkungan, limbah medis telah mengalami peningkatan sebesar 30 hingga 50 persen. Menurut Dinda, hal itu menjadi masalah yang harus diselesaikan. Melalui aplikasi rancangannya, ada lima fitur pengelolaan limbah medis dan rumah tangga yang disediakan. Pertama, fitur pengenalan sampah yang bisa membedakan sampah. Kedua, yakni fitur disinfeksi yang memberikan informasi agar sampah disinfeksikan selama lima menit dan dilengkapi dengan timer. Poin ketiga dan keempat adalah penanganan limbah infeksius serta fitur pewadahan dan pelabelan. Kemudian yang terakhir mengenai fitur penanganan lanjutan yang memiliki dua opsi. “Yaitu sarana penjemputan limbah infeksius dan penyimpanan sampah selama 48 jam untuk mereduksi infkesi dari sampah,” jelasnya. Mahasiswi berasal dari Banyuwangi ini menuturkan, aplikasi ini memanfaatkan sistem location base service. Dengan begitu, aplikasi rancangannya ini akan menampilkan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Sistem ini juga memungkinkan aplikasi untuk mengirim sinyal ketika sampah yang sudah ada bisa diambil oleh tim sampah yang bertugas. “Dengan begitu, petugas kebersihan bisa tahu kapan sampah belum bisa diambil maupun sudah bisa diambil,” ungkapnya. Selain itu, mahasiswa kelahiran Malang ini mengaku, pembuatan esai secara individu merupakan pertama kalinya dilakukan. Melihat hasil yang memuaskan, ia meyakini bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa memberikan prestasi-prestasi lainnya. Ia berharap agar raihannya ini bisa menjadi pemacu bagi mahasiswa lain untuk berusaha meraih prestasi. Dinda juga sangat ingin agar aplikasi rancangannya bisa direalisasikan. “Mungkin nanti bisa menggaet kerja sama dengan lain pihak sehingga bisa terwujud dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Khususnya, terkait penanganan limbah medis yang kini sedang naik,” ujarnya.
SUMPAH APOTEKER UMM ANGKATAN 7, Mengabdi Untuk Kesehatan, Berbakti Untuk Kemanusiaan

Pengambilan Lafal sumpah profesi Apoteker periode 3 angkatan VII pada tanggal 13 November 2021, diikuti oleh 48 apoteker muda Fakulta Ilmu Kesehatan Univ. Muhammadiyah Malang di aula GKB 4 UMM. Acara tersebut dihadiri oleh bapak Wakil Rektor 1 UMM, Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) apt. Drs. Totok Sudjianto., M.Kes. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. apt. Abdul Rahem., M.Kes selaku Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Timur yg sekaligus dosen Fakultas Farmasi di UNAIR. Menurut apt. Ika Ratna Hidayati, S.Farm., M.Sc, selaku Kaprodi Apoketer FIKES UMM, profesi apoteker angkatan VII lulus UKAI sebesar 87,3%. Kelulusan ini masih diatas kelulusan Nasional yang rata-rata sekitar 70 %. Untuk meningkatkan capaian kompetensi Apoteker FIKES UMM, kami mengembangkan kerja sama di antaranya dengan 13 rumah sakit di wilayah Jawa Timur, ada 31 Puskesmas di wilayah kabupaten Malang, kota Malang dan kota Batu, 10 industri farmasi di wilayah Jawa Timur dan juga ada 23 apotek di wilayah Malang raya dan sekitarnya. Selain itu, dalam rangka pengembangan pembelajaran, maka kami juga melakukan interprofessional education dengan mahasiswa profesi kedokteran dan mahasiswa profesi ners Universitas Muhammadiyah Malang, tandasnya. Kerjasama antara Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Kedokteran ini merupakan tindak lanjut dari yang telah dilaksanakan di tingkat akademik, dengan harapan dapat memberikan gambaran nyata pada praktek profesi yang ideal. Dan juga dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran, terutama untuk pembelajaran pada praktek kerja profesi apoteker, maka Prodi juga mengadakan pelatihan preseptor dengan peserta para perseptor ditempat pkpa mahasiswa profesi apoteker dengan kerjasama dengan APTFI. Prodi profesi apoteker juga selalu berusaha untuk meningkatkan mutu SDM nya dengan mengadakan beberapa kegiatan workshop, baik yang diselenggarakan oleh APTFI maupun APTFMA atau asosiasi pendidikan tinggi Farmasi Muhammadiyah Aisyiyah, tambahnya. apt. Drs. Totok Sudjianto., M.Kes, selaku perwakilan PP IAI , yang juga memiliki gen Muhammadiyah karena keluarga beliau ikut merintis pendirian Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan juga merupakan pengurus majelis diklit PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa apoteker UMM yang dilantik saat ini merupakan seseorang yang berkualitas karena mengingat soal-soal yang diberikan pada ukai terdapat perubahan kualitas yang lebih tinggi. Selanjutnya, Apoteker UMM agar lebih dikenal masyarakat harus membranding diri sesuai dengan ketentuan yang ada. Selain itu, Apoteker baru dari UMM harus meningkatkan kompetensi diri agar menjadi apoteker yang professional agar meningkatkan Kesehatan bagi masyarakat
Internasionalisasi Prodi Fisioterapis, FIKES UMM Jajaki Kerjasama 4 Negara

Jelang menuju dies natalis prodi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) ke-57 puncak acara seminar internasional 13-14 November mendatang terus disiapkan. Ketua pelaksana seminar internasional Rakhmad Rosadi, SST, FT, MSc.PT, mengungkapkan seminar ini melibatkan 7 nara sumber dari luar negeri bertemakan Discovering Recent Approaches In The Field Of Neuroscience And Brain Disorders. Rakhmad mengatakan hingga sekarang jumlah peserta seminar sudah tembus 400 orang dengan rincian 300 dari fisioterapis dan mahasiswa seluruh Indonesia dan 100 orang berasal dari luar negeri. Peserta luar negeri meliputi Malaysia, Provincial People’s Hospital, Kyoto University, University Srinakharinwirot, dan Yonsei University. “Alhamdulillah peserta yang mengikuti selain dari Indonesia sangat banyak sekali bahkan mencapai ratusan. Selain itu dalam seminar internasional kami juga membangun kerja sama dengan institusi yang menjadi pembicara kami ada 6 negara lain salah satunya bentuk kerja sama dengan UiTM Malaysia untuk jangka pendek ini,” ujar Rakhmad. Dilanjutkan Rakhmad bahwa Prodi Fisioterapi Fikes UMM proses komunikasi dalam perwujudan kerjasama bersama negara Malaysia dalam rangka pertukaran visiting professor atau bisa disebut pertukaran dosen yang akan dilaksanakan bulan Januari dan Februari nanti. Tidak hanya Malaysia, termasuk Thailand dan Korea Selatan juga dijajaki kerja sama dengan Prodi Fisioterapis UMM ini. Seperti di Universitas Chiang Mai yang dimana menjadi satu satu nya komunitas fisioterapis di ASEAN nanti akan mencoba kerjasama dalam bentuk pertukaran pelajar dan dosen. Selain itu, tambah Rakhmad di Universitas Yonsei sendiri pihak Fisioterapis UMM ikut terlibat dalam penelitian pembuatan mesin robotik untuk pasien stroke dan yang terakhir di Taiwan untuk kerja sama berupa beasiswa bagi dosen Fisioterapis UMM. “Untuk itu kami terus melakukan proses pendekatan untuk jangka pendek nanti dan tentu berharap juga agar di bulan Januari hingga Februari nanti tidak ada gelombang baru covid-19 ini. Setelah seminar internasional kami ingin pertukaran nantinya tidak hanya di kalangan mahasiswa saja melainkan dosen pun juga harus. Jika nanti situasi mulai tidak memungkinkan maka kami sudah mensiapkan konsep yaitu sistem pembelajarannya akan dilakukan secara daring kelas bersama,” tandas Rakhmad. Rakhmad mengungkapkan perkembangan positif dilanjutkan kerjasama secara luring, dikarenakan dalam proses luring nanti setiap pihak akan merasakan pengalaman langsung ketika berada di laboratorium dan lain sebagainya. Harapannya dengan adanya kerja sama ini sekaligus ingin menginternasionalkan Fisioterapis UMM karena pada tahun ini juga prodi Fisioterapi juga terdapat mahasiswa internasional dari Saudi Arabia.
Guna Menjaga Mutu, FIKES UMM Rutin Melakukan Kegiatan Audit Internal

FIKES UMM lakukan audit internal guna menjaga mutu dan kualitas FIKES UMM dan juga setiap program studi dilingkungan FIKES UMM. Kegiatan ini merupakan evaluasi capaian program di prodi dan fakultas. Audit dilakukan 2 badan sekaligus yaitu dari Badan Pengawasan Internal (BPI) dan Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI). Audit dihadiri oleh dekanat dan semua jajaran kaprodi dan sekprodi dilingkungan FIKES UMM. Audit dilaksanakan di ruang ICMI FIKES UMM (10 November 2021). Mas Dimas, Begitu sapaan akrabnya, Selaku pelaku Badan pengawas internal UMM, menyatakan kegiatan ini merupakan hal yang rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan audit terhadap unit kerja dan unit kegiatan yang dipandang perlu atas dasar persetujuan Pimpinan Universitas. Mendisain ulang sistem pengendalian internal unit kerja dan unit kegiatan. Membantu terlaksananya sistem pengendalian internal unit kerja dan unit kegiatan, melalui pemantauan, pelaporan, pelatihan, Pendampingan, dan pendampingan. Selama kurun waktu 2 tahun ini, FIKES UMM hasil auditnya sangat baik. FIKES UMM bahkan pernah menyabet penghargaan masuk 3 besar dalam tata kelola keuangan se-UMM. tambahnya. Adapun Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI), diwakili oleh Dr. Atok, MPd, mengatakan bahwa BPMI disini agar terjaga kualitas FIKES UMM. Adapun yang perlu dijaga kualitasnya adalah penyelenggarakan pendidikan, pengabdian dan penelitian. Apalagi FIKES ini sudah melahirkan dua prodi yang sudah terakreditasi A. Dan tentunya dengan adanya audit rutin ini dapat memacu agar menjadi unggul dan prodi yang lain dapat menyusul menjadi terakreditasi A. Dr, Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp. Kom, Dekan FIKES UMM menaruh harapan besar bahwa FIKES UMM menjadi fakultas good governance dengan capaian yang maksimal pada capaiaan program-programnya seperti, meningkatnya produktivitas dosen, mahasiswa lulus tepat waktu dan prestasi mahasiswa. (editor: zq)
Merangkai Asa Corporate Culture, FIKES UMM Siap Memiliki Tata Kelola Yang Baik

Fikes UMM harus Membangun Asa untuk mencapai corporate culture yang sehat dan dinamis serta harus memiliki tata kelola yang baik. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si dalam rapat koordinasi struktural FIKES UMM yang dilakukan di Ruang Rapat ICMI (10 November 2021). Rapat dihadiri oleh seluruh jajaran struktural baik tingkat dekanat, prodi, Koordinator Humas, Koordinator Tekma dan kepala laboratorium. Bapak Nazar, Selaku Warek II UMM memberikan arahan bahwa agar FIKES UMM menjadi lebih baik ke depannya harus memiliki tata kelola yang baik. Tata kelola tersebut salah satu yang paling penting adalah masalah sumber daya manusia, baik dosen maupun karyawan. Dosen harus ada akselerasi untuk cepat sekolah doktoral dan juga akselarasi dalam peningkatan kepangkatan funsional. Sedangkan Karyawan, Harus di upgrade keilmuannya agar mendapatkan lisensi berupa sertifikasi. Selain itu, Dosen harus selalu bersinergi dengan karyawan dalam melakukan pembinaan lingkungan dalam menata kelola organisasi. Sehingga, organisasi dapat tumbuh lebih cepat dan memiliki ritme kerja yang cepat, imbuhnya. FIKES UMM juga merupakan ujung tombak dalam menciptakan peningkatan kesehatan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, UMM akan mengupayakan adanya integrasi antara FIKES UMM dan juga RS UMM. Dosen keperawatan, dosen farmasi dan juga dosen fisioterapi dalam mengaplikasikan keilmuannya dengan memberikan asuhan pada pasien di RS UMM. selain itu, UMM akan membagun prasana klinik baru di Kampus 1 UMM guna memfasilitasi lahan praktik dosen dan juga mahasiswa. Klinik tersebut akan dibangun tahun 2022, tambahnya. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M, Kep., Sp. Kom, Dekan FIKES UMM mengatakan FIKES UMM menyambut baik kabar baik tersebut. Hal ini berkaitan dengan upaya dalam mencapai visi misi FIKES UMM yang berbasis komunitas dan klinik. Dengan adanya fasilitas tersebut, maka FIKES UMM semakin memberikan peluang terbuka dalam mengaplikasikan keilmuan secara profesional dan pengalaman sebagai dasar pengembangan kurikulum di FIKES UMM. (editor: zq)