FIKES UMM Dorong Mahasiswa Menembus Dunia Internasional Melalui Program Student Exchange di Thailand
Malang – Komitmen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global terus diwujudkan melalui berbagai program internasional. Salah satu langkah nyata tersebut terlihat dari partisipasi mahasiswa dalam program student exchange ke berbagai perguruan tinggi luar negeri, termasuk ke institusi pendidikan kesehatan terkemuka di Thailand. Bagi FIKES UMM, pengalaman belajar di luar negeri bukan sekadar kesempatan berkunjung ke negara lain. Program ini dirancang sebagai bagian dari strategi internasionalisasi pendidikan yang bertujuan memperluas wawasan akademik mahasiswa, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta memperkenalkan sistem pelayanan kesehatan internasional yang dapat menjadi bekal saat memasuki dunia kerja profesional. Keterlibatan mahasiswa FIKES UMM dalam program pertukaran pelajar internasional menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan yang diberikan mampu menghasilkan mahasiswa yang siap beradaptasi dengan lingkungan akademik global. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori dan praktik kesehatan dari perspektif yang berbeda, tetapi juga membangun jejaring internasional yang akan bermanfaat bagi pengembangan karier mereka di masa depan. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., menegaskan bahwa internasionalisasi telah menjadi salah satu agenda strategis fakultas dalam beberapa tahun terakhir. “FIKES UMM ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Dunia kesehatan saat ini berkembang sangat cepat dan bersifat global. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan berkembang di negara lain,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman internasional akan membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap berbagai situasi yang berbeda. Kompetensi tersebut menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin dinamis. Selama mengikuti program pertukaran pelajar di Thailand, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan akademik bersama mahasiswa internasional lainnya. Mereka terlibat dalam diskusi ilmiah, observasi fasilitas kesehatan, pembelajaran berbasis praktik, hingga kegiatan budaya yang memperkenalkan keberagaman masyarakat Asia Tenggara. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat membandingkan berbagai pendekatan pelayanan kesehatan yang diterapkan di Indonesia dan Thailand. Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya inovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Selain memperoleh pengalaman akademik, mahasiswa juga belajar mengenai pentingnya kompetensi lintas budaya dalam profesi kesehatan. Di era globalisasi, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis yang baik, tetapi juga harus mampu berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Wakil Dekan I FIKES UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc., menjelaskan bahwa program pertukaran pelajar merupakan bagian dari strategi penguatan mutu pendidikan yang berorientasi internasional. “Kami ingin mahasiswa memiliki pengalaman belajar yang tidak terbatas di ruang kelas. Ketika mereka berinteraksi dengan mahasiswa dan dosen dari berbagai negara, mereka belajar memahami perbedaan perspektif, budaya, dan sistem pelayanan kesehatan. Pengalaman seperti ini sangat berharga dalam membentuk tenaga kesehatan yang profesional dan berwawasan global,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa program internasional juga mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dalam berkompetisi di tingkat global. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, kemampuan bekerja dalam tim multikultural, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara kolaboratif menjadi kompetensi yang terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan internasional. Keberhasilan mahasiswa mengikuti program pertukaran pelajar di Thailand juga mencerminkan kualitas pembinaan yang dilakukan oleh program-program studi di lingkungan FIKES UMM. Selama beberapa tahun terakhir, fakultas terus memperkuat kurikulum berbasis luaran (outcome-based education), meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperluas kerja sama internasional dengan berbagai institusi pendidikan dan kesehatan di luar negeri. Langkah tersebut sejalan dengan visi UMM sebagai perguruan tinggi yang berorientasi global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. FIKES UMM memandang bahwa internasionalisasi bukan hanya tentang meningkatkan reputasi institusi, tetapi juga tentang mempersiapkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat global. Pengalaman mahasiswa selama mengikuti program pertukaran pelajar juga memberikan dampak positif bagi lingkungan akademik fakultas. Setelah kembali ke Indonesia, mahasiswa didorong untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama berada di luar negeri. Transfer pengetahuan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkaya proses pembelajaran di lingkungan kampus. Berbagai inovasi yang ditemukan selama program internasional dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta, tetapi juga oleh seluruh civitas akademika FIKES UMM. Di sisi lain, keberhasilan internasionalisasi juga didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas pendidikan yang terus dikembangkan oleh fakultas. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menekankan pentingnya menciptakan lingkungan akademik yang mendukung aktivitas internasional. “Mahasiswa yang berpartisipasi dalam program internasional harus didukung oleh ekosistem pendidikan yang berkualitas. Karena itu, fakultas terus berupaya meningkatkan kualitas laboratorium, sarana pembelajaran, dan pengembangan kompetensi dosen agar mampu mendukung standar pendidikan global,” ujarnya. Menurutnya, penguatan fasilitas dan sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang yang akan memperkuat daya saing FIKES UMM di tingkat nasional maupun internasional. Program pertukaran pelajar juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar di luar kampus. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperluas wawasan sosial dan budaya. Ke depan, FIKES UMM menargetkan semakin banyak mahasiswa yang dapat mengikuti program internasional, baik dalam bentuk pertukaran pelajar, short course, penelitian bersama, magang internasional, maupun kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara. Berbagai kerja sama baru dengan institusi pendidikan kesehatan di Asia, Australia, Eropa, dan Timur Tengah juga terus dijajaki untuk membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa. Dekan FIKES UMM menegaskan bahwa internasionalisasi harus menjadi budaya akademik yang tumbuh di seluruh lingkungan fakultas. “Kami ingin setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang secara maksimal. Internasionalisasi bukan hanya milik segelintir mahasiswa, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dapat diakses oleh semakin banyak mahasiswa FIKES UMM. Dengan cara itu, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan kesehatan global,” tuturnya. Melalui berbagai program internasional yang terus dikembangkan, FIKES UMM semakin memperkuat posisinya sebagai fakultas kesehatan yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif membangun jejaring global. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang untuk menghasilkan tenaga kesehatan profesional yang siap menghadapi tantangan masa depan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
FIKES UMM Perkuat Jejaring Global, Satukan Pakar Dunia untuk Pengembangan Kesehatan Berbasis Komunitas
Malang – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan kesehatan yang berdaya saing global. Melalui berbagai kegiatan akademik internasional yang diselenggarakan oleh program-program studi di bawah naungannya, FIKES UMM semakin mengukuhkan posisi sebagai salah satu fakultas kesehatan yang aktif membangun kolaborasi lintas negara dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat modern. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan seminar internasional yang menghadirkan akademisi dan praktisi kesehatan dari berbagai negara untuk membahas pengembangan kesehatan berbasis komunitas melalui pendekatan fisioterapi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Program Studi Fisioterapi UMM tersebut menjadi bagian dari agenda besar FIKES UMM dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus menghadirkan perspektif internasional dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi FIKES UMM, internasionalisasi bukan sekadar menghadirkan pembicara luar negeri dalam sebuah forum ilmiah. Lebih dari itu, internasionalisasi dipandang sebagai upaya membangun budaya akademik yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia, memperkuat kualitas lulusan, serta menghasilkan inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan saat ini menuntut perguruan tinggi untuk mampu membangun kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara. “Permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Oleh karena itu, solusi yang dibangun juga harus melibatkan berbagai perspektif global. FIKES UMM berkomitmen menghadirkan lingkungan akademik yang memungkinkan mahasiswa dan dosen belajar dari pengalaman terbaik dunia sekaligus mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, kesehatan berbasis komunitas menjadi salah satu fokus penting yang terus dikembangkan oleh FIKES UMM. Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan tantangan kesehatan masa kini, mulai dari meningkatnya angka penyakit kronis, perubahan demografi penduduk, hingga kebutuhan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Forum internasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Fisioterapi UMM menghadirkan pakar dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Australia, Inggris, dan Uni Emirat Arab. Berbagai perspektif mengenai penguatan kesehatan masyarakat dibahas secara komprehensif, mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit, rehabilitasi berbasis komunitas, hingga penguatan kualitas hidup kelompok rentan. Keikutsertaan para akademisi dari berbagai negara tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa FIKES UMM untuk memperoleh wawasan global secara langsung. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai perkembangan keilmuan terkini, tetapi juga memahami bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengembangkan model pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Wakil Dekan I FIKES UMM Bidang Akademik, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kemahasiswaan, apt. Sendi Lia Yunita, menjelaskan bahwa kegiatan internasional semacam ini memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. “Mahasiswa perlu dikenalkan sejak dini pada standar global. Ketika mereka berdiskusi dengan akademisi internasional, mereka belajar berpikir lebih luas, memahami perkembangan ilmu yang lebih mutakhir, serta membangun kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat global,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa internasionalisasi yang dilakukan FIKES UMM tidak hanya terbatas pada seminar dan kuliah tamu. Berbagai program lain seperti student exchange, kolaborasi penelitian, publikasi internasional, hingga praktik lapangan internasional juga terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan. Komitmen tersebut terlihat dari semakin banyaknya kegiatan internasional yang diselenggarakan oleh program studi di lingkungan FIKES UMM sepanjang tahun 2026. Berbagai kerja sama dengan institusi pendidikan kesehatan dan rumah sakit luar negeri menjadi fondasi penting dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa. Selain memberikan manfaat akademik, forum internasional juga menjadi wadah bagi dosen untuk memperluas jejaring riset. Kolaborasi penelitian internasional dinilai sangat penting dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sekaligus menghasilkan solusi kesehatan yang lebih komprehensif. Dalam konteks pengembangan fisioterapi komunitas, para pakar yang hadir menyoroti pentingnya transformasi pelayanan kesehatan dari pendekatan individual menuju pendekatan berbasis komunitas. Perubahan ini dinilai sangat relevan mengingat meningkatnya prevalensi penyakit kronis dan kebutuhan rehabilitasi jangka panjang pada berbagai kelompok masyarakat. Bagi FIKES UMM, isu tersebut sejalan dengan visi fakultas untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan memahami dinamika sosial masyarakat. Pendekatan kesehatan berbasis komunitas sendiri telah menjadi bagian dari berbagai aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa FIKES UMM. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk lebih memahami kebutuhan masyarakat secara langsung serta mengembangkan intervensi kesehatan yang kontekstual dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan II FIKES UMM Bidang SDM dan Sarana Prasarana, Henik Tri Rahayu, menegaskan bahwa penguatan jejaring internasional juga harus didukung oleh pengembangan fasilitas pembelajaran yang modern. “Kami terus melakukan penguatan laboratorium, fasilitas pembelajaran, dan ekosistem akademik agar mampu mendukung proses pendidikan berstandar internasional. Internasionalisasi tidak hanya berbicara mengenai kerja sama, tetapi juga kesiapan institusi dalam menyediakan lingkungan belajar terbaik,” ungkapnya. Menurutnya, investasi pada sumber daya manusia dan fasilitas pendidikan menjadi fondasi penting dalam mendukung pencapaian visi FIKES UMM sebagai fakultas kesehatan yang unggul dan berdaya saing global. Melalui berbagai langkah strategis tersebut, FIKES UMM optimistis dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran forum-forum internasional bukan hanya menjadi simbol kerja sama global, tetapi juga bagian dari upaya nyata membangun generasi tenaga kesehatan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan kesehatan masa depan. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, FIKES UMM terus bergerak memperluas kontribusinya dalam pembangunan kesehatan, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di panggung internasional. Upaya ini sekaligus menjadi bukti bahwa institusi pendidikan kesehatan di Indonesia mampu berperan aktif dalam menghasilkan gagasan dan solusi yang berdampak bagi masyarakat dunia.