Keshalehan di Era Digital: Kajian Ramadhan FIKES UMM

Kajian Ramdhan FIKES UMM kedua

Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menggelar Kajian Ramadhan yang kedua. Acara ini diselenggarakan di Ruang Rapat ICMI Kampus 2 UMM dan dihadiri oleh seluruh staf dan karyawan FIKES UMM (6/03/2025). Pada kajian kali ini, FIKES UMM menghadirkan Ustadz Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag sebagai pembicara utama. Sementara itu, Dekan FIKES UMM, Prof. Yoyok Bekti Prasetyo, bertindak sebagai moderator, memastikan diskusi berjalan dengan lancar dan mendalam. Dengan tema Keshalehan di Era Digital, kajian ini mengupas pentingnya ibadah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah individu maupun sosial. Ustadz Dr. M. Nurul Humaidi menekankan bahwa ibadah memiliki makna yang luas, karena manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Ibadah terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu ibadah khusus dan ibadah umum. Makna Ibadah dalam Kehidupan Ibadah khusus adalah ibadah yang telah diatur oleh syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Dalam menjalankan ibadah ini, umat Muslim tidak diperbolehkan menambah atau mengurangi aturan yang telah ditetapkan, melainkan cukup menjalankan sebagaimana yang telah diajarkan dalam Islam. Namun, ibadah khusus juga harus diimbangi dengan ibadah umum, yaitu segala bentuk kebaikan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dari ibadah umum adalah berbuat baik kepada tetangga, baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial, serta tidak menyakiti orang lain baik secara fisik maupun verbal. Keshalehan Individu dan Sosial Lebih lanjut, kajian ini juga membahas konsep keshalehan individu dan keshalehan sosial. Keshalehan individu mencerminkan hubungan setiap manusia dengan Allah, seperti semangat dalam beribadah, berlomba-lomba untuk berada di shaf pertama saat shalat berjamaah, serta menjaga keistiqamahan dalam menjalankan ibadah wajib dan sunnah. Sementara itu, keshalehan sosial mencerminkan bagaimana seorang Muslim berinteraksi dengan sesama manusia. Contohnya adalah sikap mendahulukan teman untuk makan dibandingkan dirinya sendiri. Konsep ini sejalan dengan esensi puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari keserakahan serta meningkatkan rasa empati terhadap sesama. Kajian ini memberikan wawasan bahwa keshalehan di era digital tidak hanya tentang meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan menjaga etika dalam berkomunikasi, menyebarkan kebaikan, serta menghindari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain, kita dapat mewujudkan keseimbangan antara keshalehan individu dan sosial. Kajian Ramadhan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh peserta untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, baik dalam bentuk ibadah khusus maupun ibadah umum, serta menerapkan nilai-nilai keshalehan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam interaksi digital di era modern ini.

Ramadhan dan Produktivitas Mahasiswa: Menempa Kedisiplinan, Membangun Daya Saing Global

Kegiatan Ramdhan Mahasiswa

Bulan suci Ramadhan bukan hanya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga ajang menempa kedisiplinan dan daya saing mahasiswa. Dalam suasana penuh berkah ini, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kajian Ramadhan Inspiratif 1446 H bertajuk “Ramadhan dan Produktivitas Mahasiswa: Menempa Kedisiplinan, Membangun Daya Saing Global”. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa fungsionaris dari berbagai organisasi intra kampus dan menghadirkan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, sebagai narasumber utama. Dalam kajiannya, Prof. Yoyok menekankan bahwa bulan Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan dalam aspek spiritual, tetapi juga menjadi momen strategis dalam pembentukan karakter mahasiswa. Ia menyoroti pentingnya membangun kedisiplinan dan jiwa kompetitif, terutama bagi mahasiswa yang ingin berkontribusi dalam dunia global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. “Disiplin dalam menjalankan ibadah puasa sejatinya selaras dengan kedisiplinan dalam kehidupan akademik maupun berorganisasi. Jika mahasiswa mampu mengelola waktu dengan baik selama Ramadhan, maka mereka juga akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujar Prof. Yoyok. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mahasiswa yang tergabung dalam BEM, SEFA, HMJ, dan LSO memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan. Organisasi mahasiswa menjadi wadah untuk mengasah kepemimpinan, berpikir kritis, serta menciptakan inovasi. Ramadhan, menurutnya, adalah waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk merefleksikan kontribusi mereka agar lebih bermakna. Dalam sambutannya, Prof. Yoyok mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Prof. Yoyok mengaitkan hal ini dengan peran mahasiswa dalam lembaga intra kampus. Menurutnya, setiap organisasi mahasiswa harus memiliki arah gerak yang jelas melalui program kerja yang telah disusun. Namun, agar program tersebut berjalan dengan baik dan membawa manfaat, ketakwaan harus menjadi landasan utama. “Bulan Ramadhan ini dapat menjadi momen refleksi bagi mahasiswa fungsionaris untuk menanamkan nilai ketakwaan dalam kepemimpinan mereka. Dengan begitu, mereka mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi organisasi dan lingkungan sekitar,” tuturnya. Selain menanamkan nilai kedisiplinan dan ketakwaan, Prof. Yoyok juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan prestasi dalam organisasi mahasiswa. “Kesuksesan yang telah diraih di masa lalu harus terus ditingkatkan dan diulang kembali. Organisasi mahasiswa bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga tempat untuk membangun tradisi keunggulan yang berkesinambungan,” ujarnya. Dari tahun ke tahun, lembaga intra di Fakultas Ilmu Kesehatan telah menunjukkan konsistensi dalam mencetak prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Keberhasilan ini harus diteruskan oleh generasi berikutnya agar roda prestasi maupun organisasi tetap berjalan dan semakin berkembang. Kajian ini mendapat sambutan hangat dari mahasiswa yang hadir. Mereka tidak hanya mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya kedisiplinan dan daya saing internasional, tetapi juga merasa termotivasi untuk menjadikan bulan suci ini sebagai titik awal perubahan diri. Dengan semangat Ramadhan, mahasiswa diharapkan mampu menyeimbangkan antara spiritualitas, akademik, dan peran strategis mereka di dalam organisasi kampus. Harapannya, mereka dapat menjadi generasi yang siap bersaing di kancah global, tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur keislaman, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia. MRI