Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti prosesi Sumpah Fisioterapis Angkatan XI Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang yang digelar pada 7 Mei 2026 di Mercure Hotel. Momentum sakral tersebut menjadi penanda lahirnya fisioterapis-fisioterapis baru yang siap mengabdikan ilmu dan kemanusiaannya di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS, menyampaikan pesan yang sarat makna, refleksi kehidupan, sekaligus motivasi mendalam bagi para fisioterapis yang baru saja mengucapkan sumpah profesi.

Dengan penuh kebanggaan, beliau membuka sambutannya dengan mengapresiasi semangat dan kebahagiaan para lulusan yang terpancar sepanjang prosesi berlangsung.

“Saya banggakan fisioterapis terbaru. Senyumnya yang luar biasa dan tadi semangat, semangat, semangat untuk berbuat baik,” ungkapnya di hadapan peserta sumpah, orang tua, serta tamu undangan yang hadir.

Momen sambutan semakin menyentuh ketika beliau menyinggung orasi ilmiah yang ditampilkan sebelumnya. Menurutnya, kisah pemulihan pasien yang semula tidak mampu melakukan aktivitas sederhana hingga akhirnya kembali mandiri menjadi pengingat penting tentang makna syukur dalam kehidupan.

Beliau menuturkan bahwa manusia sering kali lupa mensyukuri nikmat kecil yang sebenarnya sangat besar nilainya. Kemampuan berjalan, mengancingkan baju, bergerak bebas, hingga melakukan aktivitas sehari-hari merupakan anugerah luar biasa yang baru benar-benar terasa ketika seseorang kehilangan kemampuan tersebut.

“Kadang-kadang kita kurang bersyukur. Kita bisa tersenyum, bisa mengancingkan baju saja, itu bentuk nikmat dari Allah yang luar biasa,” tuturnya penuh refleksi.

Ia juga menyoroti bagaimana peran fisioterapis mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kualitas hidup pasien. Walaupun dalam penelitian tertentu hasil statistik dinyatakan tidak signifikan, namun bagi pasien, kemajuan kecil seperti mampu berjalan kembali atau dapat mengancingkan pakaian sendiri merupakan nikmat besar yang mengubah hidup mereka.

“Yang dari tidak bisa mengancingkan baju, kemudian bisa mengancingkan baju dan bisa mandiri, bisa jalan, itu nikmat yang luar biasa,” tambahnya.

Dalam suasana yang semakin emosional, beliau turut membagikan pengalaman pribadinya selama dua tahun terakhir yang membuat dirinya lebih memahami arti kesehatan dan rasa syukur. Dengan jujur dan hangat, beliau mengaku merasa iri melihat video para mahasiswa yang mampu bergerak aktif, berlari, naik turun tangga dengan penuh energi.

“Bagi saya itu nikmat yang luar biasa. Karena dua tahun terakhir saya diberi pelajaran supaya bisa lebih bersyukur,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa profesi fisioterapis memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Menurut beliau, kebutuhan terhadap layanan fisioterapi saat ini semakin meningkat, mulai dari pasien pasca stroke, trauma, hingga berbagai kondisi yang membutuhkan pemulihan fungsi tubuh secara optimal.

Beliau bahkan membagikan pengalamannya ketika melakukan perjalanan dinas ke Bandar Lampung dan harus segera mencari layanan fisioterapi untuk membantu pemulihan kondisi fisiknya. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kehadiran fisioterapis bukan lagi sekadar pelengkap layanan kesehatan, melainkan kebutuhan penting masyarakat.

Pada kesempatan itu, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS juga berpesan agar para lulusan tidak hanya mengandalkan kompetensi akademik dan keterampilan klinis semata. Menurutnya, nilai utama seorang tenaga kesehatan terletak pada ketulusan hati, semangat melayani, dan keikhlasan dalam mendampingi pasien.

“Kompetensi yang adik punya tidak akan memberikan nilai lebih bila tidak disertai dengan semangat, keikhlasan, dan hati yang mulia,” pesannya.

Beliau berharap para fisioterapis baru mampu menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya cerdas secara keilmuan, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian tinggi terhadap sesama. Dalam penutup sambutannya, beliau mengajak seluruh lulusan untuk terus bersyukur, berikhtiar, dan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam perjalanan pengabdian mereka.

“Semoga Allah memudahkan langkah-langkahnya untuk bisa mengabdikan diri dengan baik. Semoga Allah mempertemukan dengan orang-orang yang baik dan mengerjakan dengan kebaikan sehingga adik-adik bisa menjadi manusia yang seutuhnya dan manusia yang sebaik-baiknya,” tuturnya penuh harap.

Tak lupa, beliau juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh orang tua yang telah mendampingi perjuangan para mahasiswa hingga mencapai titik ini. Dengan penuh haru, beliau menyebut berbagai daerah asal keluarga lulusan yang datang dari Malang Raya, Riau, Jambi, Parigi, Bali, NTT, Kalimantan, Maluku Utara, hingga Papua Barat.

Ucapan terima kasih tersebut menjadi simbol bahwa keberhasilan para fisioterapis baru tidak hanya lahir dari perjuangan pribadi, tetapi juga doa, pengorbanan, dan dukungan keluarga yang luar biasa.

Prosesi Sumpah Fisioterapis Angkatan XI ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Acara tersebut menjadi momentum refleksi tentang arti kesehatan, rasa syukur, dan pengabdian kemanusiaan yang akan diemban para fisioterapis baru dalam perjalanan profesional mereka ke depan.