UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Soroti Industri Hijau hingga Krisis Stunting - Suryamalang.comPada tanggal 26 November 2025, Theater DOME Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi bersejarah, yaitu pengukuhan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom sebagai Profesor pertama di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM dan juga profesor pertama dalam bidang keperawatan komunitas di lingkungan universitas tersebut. Acara yang digelar di theater dome ini dihadiri oleh sejumlah undangan, rekan sejawat, serta mahasiswa yang antusias menyaksikan momen bersejarah ini.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Yoyok menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang ilmu keperawatan komunitas. Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia tidak pernah berada dalam kesendirian; ia selalu terhubung dengan keluarga, budaya, dan sistem nilai yang lebih besar. Di sinilah peran sosok seorang ibu menjadi sangat krusial dalam menanamkan dasar-dasar kesehatan pada anak-anak.

Beliau mengungkapkan bahwa permasalahan gizi dan tumbuh kembang anak sering kali tidak hanya muncul dari faktor ekonomi, tetapi juga dari disfungsi interaksi antara ibu dan anak. Prof. Yoyok merujuk pada penemuan risetnya tentang Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) yang menyoroti bahwa masalah makan pada anak dapat disebabkan oleh gangguan komunikasi emosional dan stres dalam pengasuhan.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa perilaku pengasuhan yang disfungsional, seperti memaksa anak untuk makan atau memberikan makanan manis sebagai hadiah, dapat mencapai lebih dari 70% pada keluarga dengan anak usia balita. Prof. Yoyok menjelaskan bahwa meskipun perilaku ini tampak sederhana, ada ketegangan psikologis yang mendalam di baliknya, antara kasih sayang dan kecemasan yang dirasakan oleh para ibu.

Dalam disertasinya, beliau mengembangkan model perilaku pengasuhan berbasis keyakinan (belief-based parenting behavior model) yang menggabungkan beberapa teori terkait. Model ini tidak hanya berfokus pada faktor makan anak, tetapi juga melibatkan kedekatan ayah dan kerjasama orang tua sebagai aspek penting dalam pengasuhan yang berkesinambungan.

Selanjutnya, Prof. Yoyok menegaskan bahwa kunci untuk meningkatkan status gizi anak terletak pada kepercayaan diri pengasuh. Melalui penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa peningkatan keyakinan pengasuh, terutama dalam hal efikasi diri, berpengaruh positif pada kemampuan mereka dalam merawat anak dan dalam mengelola gangguan makan.

Pidato beliau juga menyentuh tema kesehatan masyarakat yang lebih luas. Prof. Yoyok menggarisbawahi bahwa kesehatan yang sebenarnya tidak hanya bebas dari penyakit fisik, tetapi juga meliputi kesejahteraan mental dan sosial. Ini sesuai dengan prinsip yang diusung oleh World Health Organization (WHO) sejak Deklarasi Alma Ata tahun 1978, yaitu pentingnya paduan antara ilmu medis dan empati sosial.

Acara ini diakhiri dengan harapan dari Prof. Yoyok bahwa mari kita bangun kesadaran akan pentingnya pengasuhan yang baik dan budaya kesehatan di masyarakat. Masyarakat tidak hanya harus diberdayakan secara medis, tetapi juga secara sosial, agar kesehatan yang hakiki dapat tercapai.

Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS, juga memberikan pernyataan terkait capaian ini. Dalam pernyataannya, beliau menekankan bahwa pengukuhan Prof. Yoyok adalah pencapaian yang sangat membanggakan bagi fakultas. “Kami berharap dengan pengukuhan ini, lebih banyak penelitian dan inovasi dalam keperawatan komunitas yang akan lahir dari UMM. Prof. Yoyok adalah sosok yang inspiratif, dan ilmunya akan menjadi rujukan bagi generasi mendatang,” tuturnya. Beliau juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan komunitas.

Sebagai penutup, pengukuhan ini tidak hanya menjadi momen bersejarah bagi Prof. Yoyok, tetapi juga untuk seluruh komunitas FIKES UMM dan masyarakat luas. Dengan semangat baru dalam keperawatan komunitas, diharapkan akan lahir generasi pengasuh yang lebih peka dan peduli terhadap kesehatan anak dan masyarakat.