Memanfaatkan Media Sosial sebagai Alat Promosi Kesehatan yang AmpuhMalang – Salah satu dosen berprestasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. apt. Engrid Juni Astuti, S.Farm., M.Farm., kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM yang juga lulusan doktoral Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berhasil lolos pendanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) tahun 2025.

Dalam proposal pengabdiannya, Dr. Engrid mengusung kegiatan pelatihan pembuatan sabun herbal dan pembuatan media promosi berbasis digital untuk siswa di MI Assalafiyah, Kediri. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan siswa melalui praktik langsung yang menyenangkan dan bermanfaat.

“Kami ingin mengenalkan keterampilan dasar berbasis sains sejak dini kepada anak-anak. Salah satunya dengan membuat sabun dari bahan alami yang aman, terutama untuk kulit sensitif anak-anak. Selain itu, kami juga ingin membekali mereka dengan kemampuan mendesain kemasan dan memasarkan produk secara online,” jelas Dr. Engrid.

Arahkan pada Tujuan SDGs: Pendidikan Berkualitas dan Kurangi Kesenjangan

Kegiatan ini mengacu pada dua poin penting dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG nomor 10 tentang Mengurangi Kesenjangan. Melalui pelatihan ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan praktis, tetapi juga mendapatkan akses pada teknologi seperti aplikasi Canva dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari inspirasi desain.

“Kami ingin anak-anak di daerah pedesaan juga memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses teknologi dan keterampilan abad 21. Mereka kami ajarkan bagaimana mendesain label, memilih warna, bahkan memasarkan produknya melalui media sosial. Ini adalah bentuk konkret untuk mengurangi kesenjangan digital antara desa dan kota,” terang Dr. Engrid.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pelatihan sabun adalah herbal alami seperti lidah buaya, minyak sereh, dan bahan lokal lainnya yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan siswa. Sambil belajar membuat sabun, mereka juga diarahkan untuk berpikir kreatif dalam menciptakan merek dan tampilan kemasan yang menarik.

Antusiasme Siswa dan Harapan Besar untuk Masa Depan

Program ini mendapat sambutan positif dari para guru dan siswa di MI Assalafiyah. Mereka merasa senang dan bersemangat karena bisa mempelajari sesuatu yang baru, bermanfaat, dan menyenangkan.

“Senang sekali bisa belajar bikin sabun sendiri. Seru waktu mendesain bungkusnya di HP, seperti orang jualan di toko beneran,” ungkap seorang siswa dengan gembira.

Dengan keberhasilan lolos pendanaan ini, Dr. Engrid berharap semakin banyak akademisi yang turut serta dalam kegiatan pengabdian yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks pendidikan dan teknologi.

“Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak di pedesaan pun bisa memiliki kompetensi yang setara dengan anak-anak di kota. Semangat belajar mereka luar biasa. Tinggal bagaimana kita sebagai pendidik membuka akses dan memberi ruang untuk tumbuh,” tutupnya.