Berdasarkan Data BPS tahun 2021 menunjukkan bahwa IPM (Index Pembangunan Manusia) mencapai 72,29, angka kejadian Stunting (Tengkes) mencapai 24,4 %, ASI Eksklusif hanya mencapai 52,5 %, Rasio Gini mencapai 0,384 dan AHH (Angka Harapan Hidup) rata-rata 71 th.
Semua angka-angka diatas adalah indikator negara, tentunya bila di pedesaan lebih rendah lagi kwalitasnya. Muara dari indikator diatas pada derajad kesehatan masyarakat. Sesuai dengan bunyi Pembukaaan UUD 1945 : “meningkatkan kesejahteraan umum, sebuah pertanyaan mendasar.
“apa yang harus kita perbuat”, senyampang kondisi dunia dan negara dari sisi ekonomi mengkawatirkan – inflasi diseluruh dunia. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan baik dibidang moneter maupun fiskal, salah satunya yaitu memberikan penguatan pada golongan masyarakat bawah agar tidak terjun kejurang kemiskinan berat.
Saya tidak akan membahas indikator diatas, karena saya bukan ahli statistik. Sebagai insan PT, apa yang dapat kita sumbangkan kepada masyarakat, minimal angka indikator itu tetap mengingat situasi dunia. Membuat indikator itu tetap saja, kini dibutuhkan upaya khusus”.
Sejak saya pensiun dari PNS dan menderita penyakit kastatropik penelitian sudah tidak pernah saya lakukan lagi. Namun fakta dan informasi faktual masih saya catat dibenak, meskipun tidak liwat kaidah penelitian yang benar. Saya menemukan, perilaku hedonis bisa-bisa merupakan budaya intrinsik kita.
Tidak sedikit saya temui dilapangan perilaku tersebut pada tataran strata rendah, tetapi tetap hedonis. Saya berandai menawarkan kepada orang-orang strata bawah yang berbeda domisili : Sampeyan seneng yang mana, diberi pancing ikan atau diberi ikan ? Lebih banyak yang menjawab ikan tinggal makan pak, kalau pancing ikan dimana saya harus memancing pada jaman seperti sekarang, sungai sudah penuh pencemaran.
Seorang teman mau punya kerja, mantu anaknya. Kerabatnya dikumpulkan suami-istri diminta untuk membantu saat resepsi. Semua diberi kain seragam namun dipersilahkan menjahitkan sendiri dengan model yang sudah ditentukan. Semua kerabat berkomentar: Diberi kain tidak sekaligus ongkos jahit, saya sendiri bisa beli. Kerja bakti dikampung, semua warga ikut kerja bakti membersihkan dan menata- merapikan lingkungan. Jam 11.00 selesai, santap hidangan sampai ludes. Out-put kerja jauh dibawah harga hidangan meskipun berasal dari sukarela warga. Ini bentuk pola hidup hedonis warga pada strata rendah. Saya juga belum tahu, warga miskin penerima BLT yang macam-macam namanya itu. Apa yang dibeli awal seterima uang BLT, jangan-jangan adalah rokok bapaknya.
Gizi amat perpengaruh pada perkembangan manusia. Kekurangan gizi klasik adalah kekurangan kalori-protein terutama pasa masa perkembangan anak sampai dengan usia lima tahun Sedangkan kelebihan gizi, obesitas, diakibatkan intake makanan yang berlebihan. Tidak sedikit remaja kita status gizinya tidak baik, yang disebut sebagai kekurangan gizi tersembunyi. Dengan peningkatan pendapatan masyarakat kekurangan gizi tersembunyi ini makin besar jumlahnya.
Mereka kecukupan makronutrient dalam makanan sehari-hari, namun konsumsi mikronutrient yang rendah. Hal ini dipicu promosi makanan promosi makanan dan barang kebutuhan sehari-hari gencar dimedia, tidak sedikit mempengaruhi pola konsumsi gizi. Fe, asam folat, magnesium, seng, kalsium.khrom, vit A amat kurang dalam asupan gizi karena promosi makanan tadi. Mulai anak-anak sampai dewasa banyak yang mencari kelezatan makanan dari pada kwalitas gizi makanan.
Kurang gizi tersembunyi akan menurunkan daya kerja, endurance rendah, rentan sakit, termasuk menurunkan daya memori. Kekurangan gizi ini akan berakibat pada perkembangan janin pada ibu hamil, bayi-balita, pelajar sampai mahasiswa. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi baru lahir sampai usia 6 bulan. Menurut Boquien (2018) ASI mengandung air 87%, protein 1%, lemak 4%, karbohidrat 7%.
Makronutrient ASI kalah dibanding Susu formula (ASS), tetapi kaya materi non nutrisi misalnya hormon, enzym hingga RNA mikro sebagai materi genetik sampai proses sistem imunitas bayi. Untuk colostrum, yang paling banyak mengandung antibodi, tetapi setelah lima hari menyusui sel-sel imunitas ini hilang, ASI mampu memicu terbentuknya imun respon dan merangsang tumbuhnya mikrobioma pada usus bayi.
Bifidobakteria bekerjasama dengan karbohidrat rantai pendek dalam ASI berperan sebagai prebiotilk dalam membantu sistem kekebalan tubuh bayi Komposisi zat penyusun ASI tidak sama antar ibu menyusui (Buteki). Jumlah komponen penyusun ASI untuk seorang Buteki berbeda antar waktu sehari, kwalitas ASI berubah saat menyusui pagi dibanding menyusui malam. Kadar lemak ASI lebih banyak pada malam hari dibanding menyusui pagi hari, disamping itu yang diberikan pada bayi berubah susunan kimianya sejalan dengan usia bayi. Itulah hebatnya ASI dibanding susu formula (ASS).
Aspek dinamis ini menyebabkan ASI sulit untuk diduplikasi. Dengan menggunakan botol susu dan dot, jaminan sterilitas. Botol plastik bayi sering direbus air untuk menjaga sterilitas akan mendegradasi zat kimia pembentuk botol plastik yang memungkinkan bahan plastiknya berubah dan merugikan kesehatan bayi. Ini kurang dipahami oleh ibu-ibu. Angka ASI eksklusif sulit naik juga dipicu promosi susu formula yang gencar. Dengan standar produksi yang digunakan pabrikan, tidak ada susu formula yang cocok untuk semua bayi.
Stunting adalah profil bayi yang kekurangan gizi kronis sejak didalam kadungan sampai 1000 hari bayi tersebut hidup. Tinggi anak lebih pendek dari anak usia sebaya dan berdampak pada kehidupannya. Daya kognitif akan menurun, mudah terkena penyakit DM 2 karena obesitas, daya tahan rendah sehingga mudah sakit, kelelahan.
Didesa angka stunting diatas rata-rata nasional. Masih sekitar 28% dari semua bayi didesa tersebut. Apalagi akhir-akhir program Keluarga Berencana menurun, ditambah dengan kejadian kawin usia dini. Dapat diindikasikan rendahnya kwalitas penduduk dinegara kita masih dibawah rekan-rekan kita di Asean.
Lansia, merupakan golongan umur tua yang makin lama jumlahnya makin bertambah karena hasil pembangunan. Semula banyak negara yang membatasi jumlah kelahiran, sehingga hadir budaya baru memiliki bayi membuat produktivitas menurun – pertambahan penduduk stagnan dan bentuk piramida penduduk puncaknya yang terdiri orang tua bertambah dan sebaliknya usia produktif makin lama makin rendah.
Banyak negara yang meningkatkan batas usia untuk lansia dan meningkatkan batas usia produktif. Di negara kita, lansia menderita kelainan gizi, baik kekurangan maupun kelebihan. Di pedesaan tidak sedikit lansia kekurangan gizi, karena rokok,kurang gerak dan asupan kalsium yang rendah. Ditambah lagi penyakit komorbid yang mengikutinya. Budaya lansia kalau mendapatkan makanan enak dari perhelatan selalu bilang, nanti untuk cucu saya.
Dibidang demografi perlu dibuat keseimbangan antara kematian dan kelahiran.
Bagaimana mengatasinya ?
Saya menulis berdasar pada keberadaan UMM, lembaga pendidikan yang memiliki kampus kesehatan(Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan) yang bisa berperan banyak. Peran sebagai lembaga pendidikan sudah dikerjakan melalui mata ajar Kesehatan Masyarakat dikedua kampus tersebut. PBM dilaksanakan dikelas, setiap tahun terjadwal kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang diikuti semua mahasiswa UMM semester akhir di satu desa dan berpindah lokasi untuk tahun berikutnya, biasanya dalam bentuk bakti sosial sesuai dengan fakultasnya.
Solusi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah dengan adanya Program Desa Binaan yang diampu Kampus dua UMM dalam periode tertentu, Harus dalam periode waktu ( 5 atau 10 th), agar ada kesinambungan program sehingga nampak progresnya. Desa binaan disamping bermanfaat bagi desa bersangkutan, juga ada manfaat bagi UMM utamanya mahasiswa sekaligus akan tersedia data awal bagi dosen yang berminat dalam penelitian.
Di kampus 2 UMM ada 4 jurusan yaitu kedokteran, keperawatan, farmasi dan fisioterapi. PBM ma Kesehatan Masyarakat di laksanakan di Desa Binaan, sekaligus sebagai bentuk bakti sosial sebagai dampak bagi masyarakat setempat. PBM beserta kegiatan praksisnya dilaksanakan di Desa Binaan ini, saya namakan Proyect Based Learning, sementara yang sudah kita kenal baik adalah pendekatan Problem Based Learning.
Proses belajar ini tidak harus mahasiswa semester akhir. MA Kesmas untuk keempat jurusan bisa ditempatkan di semester yang sama untuk memudahkan pengelolaan. Setiap tahun pada waktu tertentu akan hadir belajar sekaligus menyelesaikan masalah setempat, mahasiswa dari 4 jurusan tadi dalam waktu didusun yang berbeda yang bergantian setiap tahun dibawah bimbingan dosen yang bersangkutan.
Bisa juga dihadirkan dosen on-call apabila tidak terkait langsung dengan mata ajar. Contoh untuk pemenuhan gizi diperlukan sumber protein. Dari pada hanya cerita saja atau dibeli dipasar, didatangkan dosen peternakan, perikanan dan pertanian (lintas fakultas) atau membahas obat tradidional (herbal) didatangkan dosen fito-farmaka (lintas bahasan, yang sekaligus mengajarkan kepada masyarakat cara memproduksinya.
Empat jurusan datang berbarengan ke Desa Binaan untuk dua minggu pertama, karena minggu pertama mahasiswa mengumpulkan data. Data yang terkumpul menjadi milik kampus. Selesai dua minggu pertama, mahasiswa jurusan saling berpindah untuk menyelesaikan masalah selama satu minggu. Begitu seterusnya sampai mencakup seluruh dusun didesa tersebut.
Kehadiran mahasiswa satu jurusan ini dibagi rata untuk semua dusun yang ada. Sehingga dalam satu dusun hadir keempat jurusan dengan jumlah mahasiswa yang tidak sama. Mahasiswa harus berdomisili didesa binaan sehingga interaksi mahasiswa dengan penduduk bisa sewaktu-waktu sesuai kepentingan warga, bukan sesuai kepentingan mahasiswa. Setelah dua minggu pertama, akan hadir kelompok mahasiswa lain yang terdiri dari empat jurusan a satu minggu.
Sebaiknya rombongan mahasiswa terdiri dari berbagai jurusan. Sasaran kegiatan adalah lansia, bayi-balita, ibu hamil, ibu menyusui dan remaja.
Apa saja yang dikerjakan mahasiswa selama sekian minggu didesa binaan ?
Proyect Based Learning :
Minggu pertama, bertujuan mahasiswa memahami proses mencari data.
Warga memahami masalah kesehatannya. Bersama mahasiswa bermusyawarah mencari solusi yang mampu dilaksanakan.
Alat : Timbangan bayi, timbangan dacin (bisa pinjam posyandu), timbangan dewasa, pengukur suhu, tensi, oxymetri.
Hari 1. Mencari data dasar (demografi) ke lapangan
- Luas wilayah……..km2
- Kontur geografi
- Jumlah penduduk ( a dan c menentukan Kepadatan penduduk)
- Komposisi penduduk berdasar usia (piramida penduduk)
- Tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, PT)
- Jumlah kematian 1 th terakhir (bayi/balita, dewasa, lansia)
- Jumlah rumah
- Jumlah rumah dg fasilitas air bersih
- Jumlah rumah dg jamban keluarga
- Jumlah kendaraan bermotor
- Mata pencaharian warga : karyawan, petani, pedagang.
Hari 2. Mencari data kesehatan ke lapangan
- Peserta BPJS
- Peserta KB
- Jumlah Bumil (Ibu hamil) ; kontrol ……kali
- – Jumlah bayi (0-1 th)
- Jumlah bayi/balita ASI eksklusif, susu formula, makanan padat
- Jumlah bayi dg imunisasi lengkap/tidak lengkap
- Jumlah bayi peserta Posyandu
- Mengukur BB dan TB bayi dan balita (data bisa diambil dari Posyandu)
- Jumlah sakit satu tahun terakhir
- Jumlah penderita Covid
- Jumlah kematian karena Covid
- Jumlah vaksinasi Covid 2, Covid 3
- Pengukuran BB dan TB Lansia –data BMI
- Sakit : diobati sendiri, ke PKM, ke dokter/mantri/bidan.
Hari 3 Kompilasi data di pondokan, sampai pada kesimpulan
Hari 4 Pertemuan dengan warga berpengaruh (key person), sampai identifikasi
masalah. Dipilih key person untuk menyampaikan data
Hari 5 Pertemuan dengan semua warga – penyampaian data oleh key person.
Musyawarah untuk menentukan solusi, dengan membentuk kelompok
diskusi – pimpinan diskusi adalah warga. Mahasiswa sebagai nara
sumber.
Hari 6 Mahasiswa berdiskusi sendiri untuk mengidentifikasi dimana kekura –
ngan solusi masalah yang sebenarnya.
Semua hasil PBM dilapangan ini didokumentasikan dengan rapi, akan dipakai oleh kelompok selanjutnya.
Minggu kedua : Mengerjakan rencana kegiatan yang sudah dibuat road-mapnya. Sebaiknya satu atau dua saja program solusi yang dikerjakan.
Minggu ketiga : Kelompok mahasiswa berganti (4 jurusan). Meneruskan kegiatan yang tersisa sambil mengerjakan solusi selanjutnya.
Minggu keempat : idem
Minggu kelima : idem. Apabila satu desa terdiri dari empat dusun, pada minggu kelima selesailah PBM Project Based Learning.
Tahun ddepan dilanjutkan dengan metode dan prosedur yang sama, mahasiswa angkatan baru dan dimulai lagi dengan mencari data dasar yang tentunya ada perubahan.