Indonesia Hadapi Lomba Melawan Waktu dalam Mengendalikan Penyakit Tidak Menular
Sarawak, Malaysia – Tantangan penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases/NCDs) kembali menjadi sorotan dalam 1st International Conference, Exhibition & Innovation on Public Health & International Community Services yang digelar pada 20 Agustus 2025 di Sarawak, Malaysia. Dalam forum internasional ini, Prof. Yoyok Bekti Prasetyo dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang memaparkan materi bertajuk “Understanding Enablers and Barriers in Indonesia’s Noncommunicable Disease Program”. Dalam paparannya, Prof. Yoyok menekankan bahwa penyakit tidak menular saat ini menjadi pembunuh sunyi di seluruh dunia. Dari total 57 juta kematian global setiap tahun, sebanyak 71 persen atau sekitar 40,5 juta jiwa disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan gangguan pernapasan kronis menjadi penyebab utama. Kawasan Asia Tenggara tercatat sebagai wilayah dengan beban NCD paling tinggi, terutama pada kelompok laki-laki. Malaysia menghadapi prevalensi obesitas dan diabetes yang cukup tinggi, sementara Indonesia berada pada posisi dengan tingkat hipertensi tertinggi di kawasan. Kondisi ini menurutnya menunjukkan bahwa Indonesia tengah berada dalam lomba melawan waktu untuk menekan angka kematian akibat NCDs. Situasi di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2016 saja, tercatat 73 persen kematian atau sekitar 1,8 juta jiwa disebabkan oleh NCDs. Penyakit kardiovaskular menduduki posisi teratas dengan kontribusi sebesar 35 persen, disusul kanker 12 persen, penyakit pernapasan kronis 6 persen, dan diabetes 6 persen. Sayangnya, peran perawat komunitas yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pencegahan masih belum optimal. Keterbatasan dalam pelatihan, kompetensi diagnostik, pemanfaatan data berbasis komunitas, serta minimnya dukungan kebijakan lokal menjadi hambatan serius yang harus segera diatasi. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya mengembangkan berbagai program nasional seperti Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), Pelayanan Terpadu PTM di Puskesmas (Pandu), serta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Hingga tahun 2022, tercatat sebanyak 79.099 Posbindu tersebar di seluruh Indonesia dengan cakupan mencapai 68,2 persen desa. Meski demikian, distribusi masih belum merata. Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan cakupan tertinggi yakni 97,3 persen desa sudah memiliki Posbindu, sementara Papua berada pada titik terendah dengan hanya 5,7 persen. Menurut Prof. Yoyok, ada sejumlah faktor yang memengaruhi efektivitas program NCD di Indonesia. Di satu sisi, pemberdayaan kader kesehatan, dukungan lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi penggerak penting yang mendukung jalannya program. Namun di sisi lain, keterbatasan sumber daya, rendahnya konsistensi partisipasi masyarakat akibat kesibukan sehari-hari, serta hambatan teknis seperti entri data masih menjadi batu sandungan yang nyata. Untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian NCD, Prof. Yoyok menekankan perlunya landasan teoritis yang jelas dalam praktik keperawatan komunitas. Ia menyoroti tiga model utama yang bisa menjadi acuan, yaitu PRECEDE–PROCEED Model yang berfungsi sebagai kerangka menyeluruh dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program kesehatan, Pender’s Health Promotion Model yang membantu memahami motivasi, keyakinan, serta pengalaman individu dalam mengadopsi perilaku sehat, dan Social Ecological Model yang menekankan pentingnya melihat faktor multi-level mulai dari individu, keluarga, organisasi, komunitas hingga kebijakan. Ketiga model ini menurutnya bukan hanya teori, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam merancang intervensi sesuai konteks lokal. Dalam konteks diagnosis keperawatan, Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) mencatat sejumlah masalah yang kerap muncul terkait penyakit tidak menular, seperti manajemen kesehatan yang tidak efektif, obesitas, ketidakstabilan kadar glukosa darah, perilaku kesehatan berisiko, hingga defisit pengetahuan. Berbagai diagnosis tersebut menuntut intervensi keperawatan yang beragam, mulai dari dukungan dalam pengambilan keputusan, pemberian pendidikan kesehatan, hingga pelibatan keluarga. Tujuannya bukan hanya agar pasien mengetahui risiko penyakit, tetapi juga mampu dan mau mengubah perilaku hidupnya. Menutup presentasinya, Prof. Yoyok menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kata kunci keberhasilan program NCD di Indonesia. Kader kesehatan, tenaga medis, pemerintah desa, dan masyarakat harus bergerak bersama. Dukungan tenaga kesehatan yang kompeten, pengelolaan data yang baik, serta kebijakan yang berpihak akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan. Ia menambahkan, perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi justru dari tindakan kecil yang konsisten di tengah masyarakat. Ketika perawat datang memeriksa tekanan darah, memberikan edukasi, atau memantau risiko penyakit tidak menular, sebenarnya mereka sedang ikut menyelamatkan masa depan bangsa.