Pakar Fisioterapi UMM Jelaskan Fenomena Popping Sendi

Ketika mengalami kelelahan, beberapa orang melakukan perenggangan dengan membunyikan sendi-sendi di jari tangan ataupun leher. Pada istilah medis proses peregangan yang menghasilkan bunyi itu disebut dengan istilah kavitasi. Sementara bunyi ‘krek’ yang dihasilkan saat perenggangan biasa disebut dengan popping. Dosen fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zidni Imanurrohmah Lubis menjelaskan, bunyi yang dihasilkan saat proses peregangan merupakan hasil dari kompresi di dalam sendi. Kompresi tersebut menyebabkan pelepasan atau letupan gelembung nitrogen di cairan antarsendi. “Cairan antarsendi berfungsi sebagai pelumas,” ujar Zidni. Menurut Zidni, antarsendi biasanya memiliki kadar nitrogen yang berbeda sehingga ada saatnya proses kavitasi tidak menghasilkan bunyi popping. Sebagian orang biasanya melakukan kavitasi karena merasa senang atau lega dengan bunyi popping yang dihasilkan. Apalagi saat berada di posisi yang sama dalam waktu yang lama sehingga mavitasi seringkali jadi pilihan masyarakat. Saat ini, kata Zidni, belum ada bukti ilmiah bahwa proses kavitasi berkorelasi negatif maupun positif terhadap tubuh. “Asal tidak melakukan peregangan secara berlebihan, kavitasi ini tergolong aman untuk dilakukan,” jelasnya. Menurut Zidni, proses kavitasi umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau nyeri. Apabila pada proses tersebut diikuti dengan rasa nyeri ataupun sakit di persendian, dia menyarankan untuk segera periksa ke rumah sakit (RS) maupun fisioterapis. Meskipun cukup aman dilakukan, ada beberapa kasus di mana kavitasi bukan menjadi solusi utama. Kasus-kasus tersebut yaitu saat berada dalam kondisi kelelahan. Kondisi ini biasanya otot terasa kaku maupun gerak sendi yang terbatas. “Adapula kondisi ketika otot-otot masih terasa nyeri,” jelas dosen asli Malang tersebut. Dibanding melakukan kavitasi, lebih baik melakukan stretching. Penguluran otot tersebut dapat dilakukan dengan menahan posisi stretching selama 20 hingga 30 detik agar pengulurannya optimal. Cara ini bisa memberikan rasa lega seperti yang dirasakan saat melakukan kavitasi. Masyarakat bisa pergi ke fisioterapi ketika ingin melakukan kavitasi secara profesional. “Meskipun proses kavitasi dan suara ‘popping’ bukan tujuan utama penanganan, fisioterapis memiliki kompetensi dalam mobilisasi sendi manual. Oleh sebab itu, akan lebih aman karena dilakukan bersama orang yang tahu dan paham terkait hal itu.
Bahas Penanganan Limbah Medis, Mahasiswa FIKES UMM Juara Esai

Penggunaan masker di masa pandemi menyebabkan naiknya angka limbah B3. Melihat hal itu, mahasiswa Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dinda Putri Savira memberikan terobosan melalui tulisan esainya. Perempuan disapa Dinda ini menulis rancangan aplikasi dengan sistem informasi manajemen pengelolaan sampah medis dan rumah tangga. Esai tersebut berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi nasional Public Health Student Affair 2021 yang dilaksanakan Universitas Sriwijawa. Berdasarkan data laporan dari Dinas Kesehatan dan Lingkungan, limbah medis telah mengalami peningkatan sebesar 30 hingga 50 persen. Menurut Dinda, hal itu menjadi masalah yang harus diselesaikan. Melalui aplikasi rancangannya, ada lima fitur pengelolaan limbah medis dan rumah tangga yang disediakan. Pertama, fitur pengenalan sampah yang bisa membedakan sampah. Kedua, yakni fitur disinfeksi yang memberikan informasi agar sampah disinfeksikan selama lima menit dan dilengkapi dengan timer. Poin ketiga dan keempat adalah penanganan limbah infeksius serta fitur pewadahan dan pelabelan. Kemudian yang terakhir mengenai fitur penanganan lanjutan yang memiliki dua opsi. “Yaitu sarana penjemputan limbah infeksius dan penyimpanan sampah selama 48 jam untuk mereduksi infkesi dari sampah,” jelasnya. Mahasiswi berasal dari Banyuwangi ini menuturkan, aplikasi ini memanfaatkan sistem location base service. Dengan begitu, aplikasi rancangannya ini akan menampilkan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Sistem ini juga memungkinkan aplikasi untuk mengirim sinyal ketika sampah yang sudah ada bisa diambil oleh tim sampah yang bertugas. “Dengan begitu, petugas kebersihan bisa tahu kapan sampah belum bisa diambil maupun sudah bisa diambil,” ungkapnya. Selain itu, mahasiswa kelahiran Malang ini mengaku, pembuatan esai secara individu merupakan pertama kalinya dilakukan. Melihat hasil yang memuaskan, ia meyakini bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa memberikan prestasi-prestasi lainnya. Ia berharap agar raihannya ini bisa menjadi pemacu bagi mahasiswa lain untuk berusaha meraih prestasi. Dinda juga sangat ingin agar aplikasi rancangannya bisa direalisasikan. “Mungkin nanti bisa menggaet kerja sama dengan lain pihak sehingga bisa terwujud dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Khususnya, terkait penanganan limbah medis yang kini sedang naik,” ujarnya.