Kembangkan Keilmuan Fisioterapi, Dosen FIKES UMM Belajar Sampai Ke Turki

Minggu, 04 Februari 2024 17:50 WIB   Fakultas Ilmu Kesehatan

Dosen FIKES UMM, Rakhmad Rosadi SST Ft MScPt PhD mengikuti pelatihan fisioterapi model Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) di Istanbul Turki, Ahad (28/1/2024).

Pelatihan bersertifikasi ini diadakan oleh Rehabilitation Prague School Istanbul. Instruktur DNS dipandu oleh Katerina Jezkova MPt.

Dosen Rakhmad Rosadi berasal dari Prodi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Rakhmad Rosadi menjelaskan, pelatihan Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Skill Course on Scoliosis dilaksanakan oleh Rehabilitation Prague School pada 27-28 Januari di Istanbul.

Dia menjelaskan, instruktur DNS ini Katerina Jezkova MPt dan Martina Jeskova MPt. Sekolah ini merupakan pusat pengembangan prinsip kontrol motorik, postural, gerakan, pola berjalan, dan rehabilitasi saraf yang dikemukakan oleh Karel Lewit dan Vladimir Janda.

”Prinsip DNS saat ini secara protokol klinis mampu memulihkan dan menstabilkan fungsi gerak,” jelasnya.

Penguatan ini, sambung dia, selaras dengan program pemerintah untuk mengendalikan angka kejadian skoliosis di Indonesia.

Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi kejadian skoliosis mencapai 2,93 persen. Sedangkan di dunia pertahun terus meningkat mencapai 12 persen.

Dijelaskan, skoliosis yang terjadi di Indonesia tergolong dalam kategori skoliosis idiopatik. Ironisnya kejadian ini ditemukan pada rentang usia remaja yang merupakan generasi emas bangsa.

Penderitanya lebih banyak remaja perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Skoliosis, dia menerangkan, merupakan kondisi kelainan postur tulang belakang yang pada umumnya membentuk pola huruf C ataupun S.

Fenomena skoliosis dikelompokkan menjadi empat kategori berdasarkan usia. Kategori pertama,  Infantile Idiopathic yang terjadi sejak lahir sampai usia 20 tahun.

Kategori kedua, Juvenile Idiopathic Scoliosis yang terjadi pada rentang usia 3 hingga 9 tahun. Kemudian kategori ketiga, Adolescent Idiopathic Scoliosis yang terjadi pada usia 10 sampai 17 tahun. 

”Terakhir kategori Adult Idiopathic Scoliosis yang terjadi di atas usia 18 tahun,” tuturnya.

Faktor lain yang berpotensi meningkatkan prevalensi skoliosis adalah masa pubertas, indeks masa tubuh, dan perilaku aktivitas sehari-hari.

”Meningkatnya angka penggunaan gawai pada anak sekolah tanpa disertai posisi yang ergonomis menjadi sumbangsih terhadap angka kejadian skoliosis di Indonesia,” ujarnya.

Di katakan, upaya promotif dan preventif dilakukan oleh Program Prodi Fisioterapi Fikes UMM melalui berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

”Deteksi dini dapat dilakukan melalui pengukuran skoliometer dan pemeriksaan spesifik fisioterapi. Namun, upaya kuratif dan rehabilitatif tetap dilakukan untuk mengembalikan fungsi gerak penderita skoliosis,” tandas Rakhmad Rosadi.

Shared: